Sentimen Global Seret Rupiah ke Level Rp17.847 per Dolar AS

Kamis, 28 Mei 2026 | 11:10:00 WIB
Ilustrasi nilai tukar rupiah berada di level Rp17.847,00 per dolar AS (Gambar: NET)

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami tekanan berat hingga berada di level Rp17.847,00 per dolar AS pada perdagangan menjelang akhir Mei 2026. Angka tersebut menggambarkan fluktuasi tajam di pasar spot global dengan penurunan kinerja yang signifikan dibandingkan periode sebelumnya.

Pelemahan mata uang garuda ini tercatat mengalami penurunan sebesar 0,69 persen hanya dari sesi perdagangan satu hari sebelumnya. Situasi tersebut menempatkan rupiah dalam tren negatif yang terus berlanjut di tengah ketidakpastian kebijakan moneter global dan kondisi domestik.

Jika dihitung secara akumulatif, nilai tukar rupiah telah melemah sebesar 3,65 persen sepanjang satu bulan terakhir. Kondisi ini kian memprihatinkan karena dalam kurun waktu 12 bulan ke belakang, depresiasi mata uang terhadap dolar AS telah mencapai angka 9,59 persen.

Secara historis dari tahun 1994 hingga 2026, pergerakan nilai tukar USD/IDR mencatatkan volatilitas yang sangat lebar. Level Rp17.847,00 ini sudah mendekati angka tertinggi sepanjang masa secara harian yang berada di level Rp17.897,90, atau rata-rata bulanan Rp17.877 pada Mei 2026.

Kondisi saat ini berbanding terbalik dengan catatan historis terendah rupiah yang pernah menyentuh level Rp2.096,00 per dolar AS di masa lalu. Sejak awal tahun hingga saat ini (ytd), mata uang Indonesia tercatat jatuh sekitar 6,4 persen.

Kejatuhan yang cukup dalam ini menempatkan rupiah sebagai salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan Asia. Rupiah berada di kelompok yang sama dengan rupee India dan peso Filipina yang juga mengalami tekanan hebat terhadap mata uang paman sam.

Faktor Inflasi dan Suku Bunga Global Salah satu pemicu utama keperkasaan dolar AS adalah rilis data makroekonomi domestik mereka. Tingkat inflasi Amerika Serikat melonjak ke angka 3,80 persen pada April 2026, naik dari angka periode sebelumnya yang sebesar 3,30 persen.

Kenaikan inflasi di AS memaksa Bank Sentral AS mempertahankan suku bunga tinggi tetap di angka 3,75 persen pada April 2026. Selain itu, tingkat pengangguran di Amerika Serikat terpantau stabil di angka 4,30 persen pada bulan yang sama.

Di sisi lain, Bank Indonesia sebenarnya telah mengambil langkah antisipatif dengan mengerek suku bunga acuan. Suku bunga Indonesia kini berada di angka 5,25 persen pada Mei 2026, mengalami kenaikan dari angka bulan sebelumnya yang berada di level 4,75 persen.

Langkah pengetatan moneter ini diambil meskipun tingkat inflasi Indonesia sebenarnya dalam tren terkendali. Inflasi domestik berada di angka 2,42 persen pada April 2026, mengalami penurunan signifikan dari angka sebelumnya yang sebesar 3,48 persen.

Kondisi transaksi berjalan dan perlindungan nasabah: tekanan terhadap mata uang nasional makin diperberat oleh performa neraca pembayaran dari dalam negeri. Defisit transaksi berjalan Indonesia pada kuartal pertama (Q1) tahun ini dilaporkan mencapai nilai terbesar dalam kurun waktu lebih dari enam tahun terakhir.

Merespons situasi ekonomi yang dinamis ini, masyarakat diimbau untuk tidak panik dan tetap menggunakan instrumen perbankan resmi yang legal dalam mengelola dana mereka. Struktur perbankan nasional dipastikan tetap kokoh dalam menghadapi volatilitas nilai tukar global.

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) juga memastikan bahwa dana masyarakat di dalam negeri tetap aman di tengah gejolak pasar keuangan. LPS menegaskan nilai maksimum simpanan nasabah yang dijamin oleh lembaga adalah sebesar Rp2 billion per nasabah per bank.

Harga komoditas dan nilai tukar mata uang dapat berfluktuasi sewaktu-waktu akibat dinamika pasar global. Pantau informasi perkembangan nilai tukar resmi secara berkala dari otoritas moneter pemerintah dan Bank Indonesia sebelum melakukan transaksi valuta asing.

Berikut adalah ringkasan indikator makroekonomi terbaru yang memengaruhi pergerakan pasar keuangan antara Indonesia dan Amerika Serikat berdasarkan data kuartal terakhir: Tabel Perbandingan Indikator Ekonomi Indonesia vs Amerika Serikat (Mei 2026): Tingkat Inflasi Indonesia: 2,42%

Tingkat Inflasi Amerika Serikat: 3,80% Suku Bunga Acuan Indonesia: 5,25% Suku Bunga Acuan Amerika Serikat: 3,75% Tingkat Pengangguran Indonesia: 4,68% Tingkat Pengangguran Amerika Serikat: 4,30%

Data ketenagakerjaan dalam negeri sebenarnya menunjukkan perbaikan performa dengan tingkat pengangguran Indonesia berada di angka 4,68 persen pada Maret 2026. Angka tersebut mencatatkan penurunan jika dibandingkan dengan posisi pada periode sebelumnya yang berada di level 4,85 persen.

Bank Indonesia bersama pemerintah terus memantau pergerakan pasar spot internasional dan menyiapkan intervensi ganda di pasar valuta asing maupun pasar surat berharga negara. Langkah tersebut diambil guna menjaga stabilitas nilai tukar agar tidak mengganggu momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

Terkini