Wall Street Cetak Rekor Tertinggi Di Tengah Jeda Reli Saham AI

Kamis, 28 Mei 2026 | 10:01:13 WIB
Ilustrasi S&P 500 dan Nasdaq menyentuh rekor penutupan tertinggi (Gambar: NET)

NEW YORK – Indeks Utama Wall Street ditutup menguat, dengan indeks Dow Jones Industrial Average mencetak rekor penutupan tertinggi pada akhir perdagangan Rabu (27/5/2026), ditopang oleh penguatan saham sektor perawatan kesehatan dan konsumen.

Sementara itu, indeks S&P 500 dan Nasdaq berhasil menyentuh rekor penutupan tertinggi selama dua hari berturut-turut, di kala para pelaku pasar mengambil jeda dari reli yang digerakkan oleh sektor AI sembari dengan cermat memantau perkembangan pembicaraan damai di Timur Tengah.

Berdasarkan data dari Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average mengalami kenaikan sebesar 182,60 poin atau 0,36% menuju level 50.644,28, S&P 500 bertambah 1,24 poin atau 0,02% ke posisi 7.520,36, dan Nasdaq Composite menguat 18,55 poin atau 0,07% ke level 26.674,74.

Volume perdagangan saham di bursa Amerika Serikat menyentuh angka 18,8 miliar saham, dengan rata-rata sebanyak 18,78 miliar saham dalam jangka 20 hari perdagangan terakhir.

Di sisi lain, saham sektor perbankan bergerak melemah yang dipicu oleh kemerosotan saham JPMorgan Chase sebesar 2,4% setelah CEO Jamie Dimon memberikan peringatan bahwa pengeluaran pada tahun ini berpotensi membengkak US$ 1 miliar lebih tinggi dari estimasi awal.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan bahwa telah tercapai sejumlah kemajuan dalam proses negosiasi bersama Iran guna menuju suatu kesepakatan. Kendati demikian, Presiden Donald Trump menyebutkan bahwa AS dan Iran masih mempunyai beberapa persoalan yang mesti dibereskan, dan Fars News Iran turut menyatakan bahwa kendala yang belum teratasi memang masih ada.

Indeks Dow Jones, yang sebelumnya juga telah mencatatkan rekor penutupan tertinggi pada hari Jumat dan Kamis, terdorong oleh pergeseran arus modal menuju saham-saham di sektor kesehatan dan konsumen. Saham Procter & Gamble tercatat naik 3,2%, sementara UnitedHealth mengalami penguatan sebesar 1,9%.

Di lain pihak, koreksi pada saham-saham produsen chip menjadi beban bagi Nasdaq yang didominasi oleh korporasi teknologi.

"Setelah kenaikan pasar yang begitu besar, tidak mengherankan jika terjadi sedikit jeda," kata Sean Clark, kepala investasi Clark Capital Management Group sebagaimana dilansir dari berita sumber.

"Ada banyak hal positif yang bisa dilihat saat ini. Meskipun saham-saham yang berkinerja terbaik didorong oleh teknologi, AI, dan tema-tema terkait AI, saya tidak akan mengabaikan fakta bahwa pasar secara luas juga ikut berpartisipasi," ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Bila ditinjau dari subindeks, sektor barang konsumsi nonesensial tampil memimpin penguatan dengan mencatatkan kenaikan sebesar 1,9%. Sebaliknya, indeks energi S&P 500 justru merosot hingga 1,5%, mengekor penurunan harga minyak mentah yang merosot sampai 5%.

Saham-saham sektor teknologi bergerak melemah setelah sempat menyentuh level tertinggi sepanjang masa pada perdagangan hari Selasa. Saham pabrikan chip pun mengalami koreksi pasca-terjadinya reli yang kuat. Saham Intel terpangkas 1,4% dan Marvell Technology menyusut 4,6%, sedangkan Qualcomm anjlok hingga 6% menyusul penguatan tajam yang terjadi pada hari Selasa.

Saham raksasa chip Nvidia juga terpantau melemah sebesar 1%, dan indeks SE Semikonduktor Philadelphia ikut merosot 1,4% setelah sebelumnya sempat bertengger di rekor tertinggi pada hari Selasa.

“Kepemimpinan sektor teknologi tetap sulit diabaikan, dengan sektor ini terus mendorong ke level tertinggi baru baik secara absolut maupun relatif dibandingkan dengan pasar yang lebih luas,” kata Adam Turnquist, kepala strategi teknis di LPL Financial sebagaimana dilansir dari berita sumber.

“Meskipun demikian, kondisi momentum yang semakin tegang dan posisi yang tinggi menimbulkan pertanyaan tentang keberlanjutan kenaikan dalam jangka pendek,” tuturnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Goldman Sachs terpantau menaikkan target akhir tahun 2026 bagi indeks S&P 500 menjadi berada di level 8.000 dari estimasi sebelumnya yang berada pada angka 7.600, dengan mempertimbangkan kinerja laba perusahaan yang terus memperlihatkan tren positif.

Untuk langkah selanjutnya, para pelaku pasar akan mencermati publikasi data indeks pengeluaran konsumsi pribadi pada hari Kamis. Parameter inflasi utama yang digunakan oleh Federal Reserve tersebut diharapkan dapat menyuguhkan indikasi teranyar mengenai arah kebijakan moneter ke depan di bawah kepemimpinan ketua baru, Kevin Warsh.

Terkini