Cermati Suku Bunga The Fed, Begini Prospek Rupiah Selasa

Selasa, 26 Mei 2026 | 09:39:22 WIB
Ilustrasi Rupiah (Foto: NET)

JAKARTA – Nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau kembali mengalami penurunan pada sesi perdagangan Senin (25/5/2026).

Penurunan nilai mata uang rupiah ini disebabkan oleh pengaruh sentimen eksternal, terutama terkait dengan ekspektasi arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Fed serta dinamika geopolitik yang terjadi di kawasan Timur Tengah.

Berdasarkan data dari Bloomberg, mata uang rupiah di pasar spot mengalami penurunan sebesar 0,15% secara harian menuju ke level Rp 17.744 per dolar AS. Di sisi lain, mengacu pada Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), nilai tukar rupiah juga dilaporkan terkoreksi sebesar 0,14% ke posisi Rp 17.743 per dolar AS.

Menurut penilaian Analis Mata Uang Ibrahim Assuaibi, pergerakan nilai tukar rupiah pada sesi perdagangan besok akan banyak dipengaruhi oleh sikap dan pandangan para pejabat The Fed mengenai arah kebijakan suku bunga mereka.

Salah seorang anggota Dewan Gubernur Bank Sentral AS, Christopher Waller, mengutarakan bahwa ia tidak akan ragu-ragu untuk memberikan dukungan terhadap kenaikan suku bunga sekiranya ekspektasi inflasi kedapatan melaju menjauh dari target yang telah ditetapkan oleh bank sentral.

“Kemungkinan besar Waller akan sependapat dengan pejabat-pejabat lainnya untuk menaikkan suku bunga,” ujar Ibrahim, Senin (25/5/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ibrahim menambahkan, di samping isu suku bunga di AS, para pelaku pasar saat ini juga tengah mengamati secara saksama dinamika geopolitik global, khususnya mengenai hubungan bilateral antara pihak AS dan Iran. Para investor dinilai mulai memperlihatkan sikap optimistis bahwa kedua negara tersebut tengah bergerak semakin dekat menuju kesepakatan damai, kendati masih ada beberapa persoalan yang hingga kini belum menemui titik temu.

Ia mengungkapkan bahwa pihak Iran dikabarkan memiliki rencana untuk membuka kembali kawasan Selat Hormuz. Meski begitu, barisan pasukan militer AS yang berada di kawasan Laut Oman dilaporkan tetap mengambil sikap waspada dan berhati-hati sampai sebuah nota kesepakatan resmi benar-benar ditandatangani oleh kedua belah pihak.

“Tetapi apakah nota kesepakatan ini akan ditandatangani atau tidak. Karena yang lebih penting itu adalah tentang masalah uranium, dana yang dibekukan dari tahun 1970-an, saya beranggapan perdamaian ini kemungkinan besar akan gagal total,” kata Ibrahim sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Untuk jalannya sesi perdagangan pada Selasa (26/5/2026), Ibrahim memperkirakan bahwa pergerakan mata uang rupiah akan melemah dalam rentang Rp 17.740 sampai Rp 17.800 per dolar AS.

Sementara itu, Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong berpandangan bahwa tekanan yang dialami oleh mata uang rupiah turut dipicu oleh faktor dari dalam negeri, terutama mengenai defisit Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada periode kuartal I-2026 yang menembus angka US$ 9,1 miliar.

Menurut Lukman, jumlah defisit tersebut menjadi yang paling besar dalam kurun waktu lebih dari enam tahun terakhir, sehingga ikut memberikan dampak terhadap cara pandang para investor terhadap aset-aset domestik. Di sudut lain, posisi rupiah tetap ditutup dalam keadaan melemah walaupun indeks dolar AS sebenarnya terpantau sedang mengalami penurunan, yang disebabkan oleh naiknya harapan pasar atas rencana pembukaan kembali wilayah Selat Hormuz.

“Prospek kenaikan suku bunga BI dalam satu atau dua pertemuan ke depan juga membuat investor masih menghindari SBN,” ucap Lukman sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Lukman mengimbuhkan, minimnya rilis data ekonomi yang bersifat krusial pada pekan ini menyebabkan fokus perhatian para investor kini teralihkan pada kelanjutan proses negosiasi perdamaian antara pihak AS dan Iran.

Tanggapan yang akan diberikan oleh Iran terhadap draf proposal perdamaian dari AS dinilai bakal menjadi salah satu sentimen penggerak utama yang memengaruhi kondisi pasar keuangan di tingkat global, termasuk bagi pergerakan nilai rupiah.

Untuk sesi perdagangan pada hari Selasa (26/5/2026), Lukman memproyeksikan pergerakan kurs rupiah akan berada pada rentang angka Rp 17.700 sampai Rp 17.800 per dolar AS.

Terkini