Kinerja Positif BBRI, Laba Bersih Tembus Rp 15,89 Triliun

Selasa, 26 Mei 2026 | 09:39:22 WIB
Ilustrasi PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) (Foto: NET)

JAKARTA – PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) atau BRI berhasil membukukan laba bersih tahun berjalan secara individual sebesar Rp 15,89 triliun, yang berarti mengalami pertumbuhan 5,91% secara tahunan (year on year/yoy) dalam rentang waktu Januari hingga April 2026.

Mengacu pada laporan keuangan BRI yang dipublikasikan pada Senin (25/5/2026), pencapaian laba bersih untuk masa 4M26 ini secara umum didorong oleh membaiknya struktur imbal hasil pada sektor bisnis intermediasi. Hal tersebut di antaranya terlihat dari pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) yang meningkat 7,50% yoy mencapai angka Rp 39,37 triliun.

Perolehan ini ditopang oleh adanya kenaikan pada pendapatan bunga sebesar 0,09% yoy menjadi senilai Rp 53,50 triliun. Di waktu yang sama, beban bunga justru terus mengalami penurunan hingga 16,03% yoy menjadi sebesar Rp 14,12 triliun.

Kondisi struktur finansial ini ikut mendorong indikator margin bunga bersih (net interest margin/NIM) mengarah ke level yang positif. Adapun besaran NIM BBRI tercatat di angka 6,22% untuk periode 4M26 dan berada di level 6,11% per April 2026.

Pencapaian tersebut juga tidak lepas dari langkah ekspansi kredit yang dijalankan oleh BRI yang terus memperlihatkan hasil kerja optimal. Sektor penyaluran kredit dari bank tersebut semakin kuat lewat pertumbuhan sebesar 10,97% yoy menjadi senilai Rp 1.376,35 triliun per April 2026.

Di sisi lain, perolehan pendapatan komisi atau fee terpantau masih tumbuh secara moderat pada kisaran 2,99% yoy menjadi senilai Rp 6,88 triliun. Sementara itu, untuk nilai beban provisi tampak mengalami kenaikan tipis sebesar 1,98% yoy menjadi senilai 14,63 triliun.

Kendati demikian, besaran rasio biaya kredit atau cost of credit (CoC) milik BRI ini dipastikan masih tetap terkontrol pada level 3,24% sepanjang 4M26 atau berada di angka 3,33 per April 2026.

Deposito Menyusut, Laju DPK Melambat

Beralih ke sektor pendanaan, jumlah dana pihak ketiga (DPK) kedapatan tumbuh melambat di angka 6,84% yoy dengan total nilai sebesar Rp 1.496,30 triliun. Terjadinya perlambatan ini dipicu oleh penghimpunan dana pada jenis instrumen deposito yang mengalami penurunan cukup dalam.

Bila dirinci secara lebih detail, perolehan DPK BRI terdiri atas giro sebesar Rp 455,48 triliun (+22,64% yoy), tabungan senilai Rp 603,72 triliun (+12,51% yoy), serta deposito yang berada di angka Rp 437,09 triliun (-11,25% yoy).

Melalui kepemilikan struktur pendanaan tersebut, aktivitas penghimpunan dana murah milik perusahaan tetap mampu tumbuh dalam persentase yang tinggi, yaitu mencapai 16,65% yoy atau setara Rp 1.059,20 triliun. Kondisi ini kemudian mencerminkan bahwa rasio dana murah (current account savings account/CASA) masih terus terjaga secara aman di level 70,79%.

Adanya perlambatan pada kinerja DPK yang dibarengi dengan semakin kuatnya sektor penyaluran kredit pada akhirnya berimbas pada ketersediaan likuiditas BRI yang menjadi semakin terbatas. Indikator loan-to-deposit ratio (LDR) terpantau bergerak ketat menuju level 91,98% per April, di mana angka ini melompat signifikan dari raihan bulan sebelumnya yang berada di posisi 87,66%.

Jika ditinjau dari aspek profitabilitas, nilai untuk ROA dan ROE dilaporkan masih tetap berada di koridor aman, dengan rincian masing-masing sebesar 2,39 dan 15,87.

Pada sesi perdagangan hari Senin (25/5/2026), pergerakan saham BBRI ditutup menguat sebanyak 120 poin atau melesat 3,93% menuju ke level 3.170. Walau begitu, raihan performa saham BBRI jika dihitung secara tahun berjalan (year to date/ytd) tercatat masih mengalami kontraksi sebesar 13,39%.

Saham BBRI ditransaksikan dengan nilai perputaran mencapai Rp 766,91 miliar atau setara dengan 2,43 juta lot saham. Pihak investor asing membukukan aksi beli bersih (net buy) senilai Rp 147,19 miliar, yang berasal dari rincian total transaksi beli Rp 304,20 miliar serta total transaksi jual yang mencapai Rp 157,10 miliar.

Terkini