JAKARTA – Pasar saham Amerika Serikat (AS) menyelesaikan sesi perdagangan Kamis (21/5/2026) dengan penguatan tipis, yang dipicu oleh melandainya harga minyak mentah serta tumbuhnya ekspektasi positif atas perkembangan dialog damai antara pihak AS dan Iran.
Fokus utama para pelaku pasar tertuju pada dinamika geopolitik ini, mengingat minimnya sentimen kejutan dari rilis laporan performa keuangan emiten kali ini.
Indeks Dow Jones Industrial Average mengalami kenaikan sebesar 0,55% atau bertambah 276,31 poin ke posisi 50.285,66, yang sekaligus menjadi rekor penutupan tertinggi baru.
Sementara itu, indeks S&P 500 terapresiasi sebesar 0,17% menuju level 7.445,72, dan indeks Nasdaq Composite turut merangkak naik tipis 0,09% ke angka 26.293,10.
Dinamika pergerakan pasar sempat memperlihatkan volatilitas pada perdagangan sesi pagi, namun berhasil berbalik ke zona hijau di paruh kedua perdagangan menyusul koreksi harga minyak dari level tertingginya hari itu.
Respons para pelaku pasar digerakkan oleh kabar terbaru seputar dialog AS–Iran yang diinformasikan mulai memperlihatkan perkembangan awal, kendati sejumlah poin krusial masih belum menemui titik temu.
Isu-isu sensitif tersebut meliputi perbedaan posisi mengenai program pengayaan uranium oleh Iran serta aspek pengawasan di wilayah Selat Hormuz, yang merupakan jalur krusial bagi lalu lintas distribusi minyak global.
Penilaian dari investor menunjukkan bahwa pasar saat ini berada dalam kondisi yang sangat sensitif terhadap dinamika isu geopolitik.
Seiring dengan berakhirnya periode rilis laporan keuangan kuartalan, perhatian pasar kembali teralihkan pada faktor risiko eksternal, khususnya perkembangan konflik serta diplomasi di kawasan Timur Tengah.
Dari panggung emiten, saham Walmart jatuh sedalam 7,3% pasca perusahaan ritel raksasa global tersebut merilis proyeksi laba kuartal kedua yang berada di bawah ekspektasi pasar. Pihak manajemen turut menyoroti beban biaya yang meningkat, terutama akibat tingginya harga bahan bakar, yang berisiko memicu inflasi di sektor ritel.
Di sisi lain, saham Nvidia terkoreksi sebesar 1,8% akibat aksi ambil untung oleh para pemodal, meskipun korporasi tersebut sebelumnya telah mempublikasikan proyeksi pendapatan yang solid disertai rencana pembelian kembali saham senilai US$80 miliar. Sentimen negatif juga bersumber dari kekhawatiran terkait eskalasi persaingan di sektor industri semikonduktor.
Kendati demikian, indeks sektoral Philadelphia Semiconductor Index justru berhasil menguat sebesar 1,3%, memproyeksikan optimisme pelaku pasar bahwa pencapaian Nvidia tetap menjadi indikator positif bagi industri chip secara menyeluruh.
Pada sektor teknologi, pergerakan masif terjadi pada kelompok saham komputasi kuantum menyusul pemberitaan bahwa pemerintah AS berencana mengucurkan dana bagi sejumlah perusahaan di sektor terkait dengan kompensasi kepemilikan saham.
IBM mencatatkan lonjakan sebesar 12,4% setelah dikabarkan ikut serta dalam program baru tersebut. Saham GlobalFoundries melonjak hingga 14,9%, sedangkan D-Wave Quantum melesat tajam sebesar 33,4%. Begitu pula dengan Rigetti Computing yang melonjak 30,6% serta Infleqtion yang menguat sebesar 31,5%.
Bila berbanding terbalik, saham Intuit terperosok hingga 20% setelah perusahaan penyedia layanan TurboTax tersebut memangkas estimasi pendapatan tahunan mereka sekaligus mengumumkan program pemutusan hubungan kerja bagi sekitar 17% pegawai tetapnya. Pelemahan ini turut menyeret saham H&R Block yang merosot sebesar 4,8%.
Beralih ke indikator makroekonomi, angka klaim tunjangan pengangguran di AS menunjukkan penurunan, yang mengindikasikan bahwa kondisi pasar tenaga kerja domestik masih berada dalam posisi kokoh.
Selain itu, tingkat aktivitas manufaktur juga merangkak naik ke posisi tertinggi dalam kurun waktu empat tahun terakhir pada bulan Mei, dipicu oleh langkah korporasi dalam menimbun stok persediaan guna mengantisipasi potensi hambatan rantai pasok serta kenaikan harga akibat eskalasi ketegangan geopolitik.
Secara makro, jumlah saham yang membukukan kenaikan masih mendominasi dibandingkan dengan saham yang terkoreksi, dengan perbandingan rasio sebesar 1,51 banding 1 di Bursa Saham New York. Volume perdagangan yang dibukukan menyentuh angka 17,67 miliar saham, sedikit berada di bawah rata-rata volume dalam jangka waktu 20 sesi terakhir.
Walaupun berhasil mengakhiri perdagangan di zona hijau, kondisi pasar saat ini dinilai masih berada dalam fase yang rentan, di mana arah pergerakan jangka pendek akan sangat bertumpu pada dinamika geopolitik global serta proyeksi arah kebijakan di tingkat dunia.