Rupiah Berpotensi Melemah ke Kisaran 17.750 Rupiah per Dolar AS

Rabu, 20 Mei 2026 | 12:03:54 WIB
Ilustrasi Rupiah (Foto: NET)

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan Rabu, 20 Mei 2026 diperkirakan bakal bergerak dinamis, namun memiliki potensi ditutup melemah di rentang Rp17.600 hingga Rp17.750 per dolar AS.

Menilik data TradingView, mata uang rupiah ditutup jatuh sebesar 0,22% ke level Rp17.700 per dolar AS pada hari Selasa (19/5/2026). Kemerosotan mata uang Garuda terhadap dolar AS tersebut sejalan dengan penurunan mayoritas mata uang di kawasan Asia lainnya.

Nilai yen Jepang terhadap dolar AS ikut melemah 0,22%, yuan China terpangkas 0,05%, dolar Singapura menyusut 0,22%, serta won Korea terperosok hingga 1,24%.

Dolar Hong Kong terhadap dolar AS turut merosot 0,03%, dan dolar Taiwan melemah 0,33%. Di samping itu, rupee India terkoreksi sebesar 0,10%, ringgit Malaysia terdepresiasi terhadap dolar AS sebesar 0,03%, diikuti oleh peso Filipina yang melemah 0,20%, serta baht Thailand yang menyusut 0,31%.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengutarakan bahwa kendati tensi geopolitik global mulai sedikit mereda, tekanan yang berasal dari sentimen dalam negeri dinilai masih membayangi laju rupiah. Pasar saham domestik pun masih mengalami tekanan akibat aksi jual saham oleh para investor, yang pada akhirnya membatasi ruang penguatan bagi mata uang Garuda.

Saat ini, perhatian para pelaku pasar tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan rilis esok hari. Bank sentral diperkirakan bakal menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) guna menjaga stabilitas mata uang rupiah serta meredam volatilitas di pasar keuangan.

Tidak sekadar menanti keputusan suku bunga, investor juga menunggu rilis pernyataan resmi dari Bank Indonesia yang diharapkan mampu mengembalikan kepercayaan pasar terhadap prospek perekonomian domestik. Sikap yang cenderung hawkish dari BI dipandang dapat menjadi katalis positif bagi rupiah dalam jangka pendek.

Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebutkan bahwa tekanan aksi jual di pasar Surat Berharga Negara (SBN) saat ini tergolong minim dan masih berada dalam kondisi yang aman.

Purbaya menjelaskan pihaknya sebelumnya telah menyiapkan dana sekurang-kurangnya Rp2 triliun per hari untuk memfasilitasi aksi buyback atau pembelian kembali SBN di pasar sekunder. Kendati demikian, dia menambahkan bahwa realisasi dari penyerapan dana tersebut rupanya berada jauh di bawah perkiraan.

"Kemarin saja saya sudah targetkan serap Rp2 triliun, [tetapi] hanya dapat Rp600 miliar. Artinya, yang jual juga sedikit sebetulnya. Jadi kami memastikan harga bond [obligasi] tetap terkendali itu," ujar Purbaya di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Selasa (19/5/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Lebih lanjut, kebijakan intervensi di pasar obligasi tersebut berkaitan erat dengan kenyataan bahwa aliran modal keluar (capital outflow) investor asing dari pasar SBN masih terus bergulir. Berdasarkan data dari Kemenkeu, terhitung semenjak awal tahun sampai 24 April 2026, telah terjadi outflow dana asing sebesar Rp20 triliun dari pasar SBN.

Terkini