Rupiah Lemah Picu Rotasi Dana ke Altcoin, Ini Kripto yang Naik

Rabu, 20 Mei 2026 | 11:02:09 WIB
Ilustrasi Altcoin (Gambar: NET)

JAKARTA – Nilai tukar mata uang rupiah kembali mengalami depresiasi hingga menembus level Rp 17.700 per dolar Amerika Serikat (AS), yang menjadi rekor paling lemah sepanjang sejarah pada sesi perdagangan Selasa (19/5/2026).

Namun, di kala mata uang dalam negeri sedang didera tekanan, beberapa aset kripto alternatif (altcoin) justru berhasil membukukan penguatan yang cukup signifikan.

Berdasarkan data dari CoinGecko, performa sejumlah altcoin terpantau menanjak dalam jangka waktu dua pekan terakhir. NEAR mencatatkan kenaikan sebesar 27,9%, RON melesat hingga 32%, ONDO menguat 15,7%, INJ terapresiasi 12,3%, serta CHZ bertambah pesat 7,7%.

Di waktu yang sama, HYPE juga ikut menguat 5,4% hanya dalam kurun waktu 24 jam ke belakang. Sementara itu, nilai Bitcoin justru mengalami koreksi hingga mendekati level US$ 75.000, dari yang sebelumnya bertengger di kisaran US$ 80.000.

Fahmi Almuttaqin selaku Analis Reku berpendapat bahwa pergerakan arah altcoin yang berlawanan dengan Bitcoin mengindikasikan adanya pergeseran likuiditas para pemodal ke instrumen kripto di luar Bitcoin.

“Lonjakan ini menandakan bahwa investor tidak sepenuhnya keluar dari instrumen berisiko. Tren bullish tahap awal yang sudah mulai terbentuk kemungkinan masih bertahan, meski sentimen pasar secara keseluruhan tetap berhati-hati dengan volatilitas tinggi,” ujar Fahmi dalam keterangan resminya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurut pemaparan Fahmi, kemerosotan nilai tukar rupiah disebabkan oleh perpaduan berbagai faktor eksternal, terutama melonjaknya harga minyak dunia yang kembali merangkak ke dekat US$ 100 per barel imbas dari konflik ketegangan di Timur Tengah.

Situasi ini meningkatkan beban biaya impor energi sekaligus memperlebar defisit neraca migas nasional. Di samping itu, keperkasaan indeks dolar AS beserta kenaikan yield obligasi pemerintah AS ikut memicu pelarian modal keluar dari kawasan Asia, termasuk dari Indonesia.

Walau Bank Indonesia (BI) konsisten mengintervensi pasar valuta asing, tekanan terhadap kurs rupiah diperkirakan masih berisiko berlanjut selama stabilitas global belum tercapai.

Fahmi menambahkan bahwa koreksi harga Bitcoin dalam denominasi dolar AS tidak secara otomatis berarti para pemodal domestik menderita kerugian apabila dikalkulasikan ke dalam mata uang rupiah.

“Dengan dolar AS menguat, harga Bitcoin dalam rupiah sebenarnya bisa saja tetap menguat meski dalam dolar melemah. Artinya, investor lokal yang mengukur aset dalam rupiah mungkin tidak terlalu terdampak oleh perbedaan kecil di tengah volatilitas global ini,” jelasnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ia turut menggarisbawahi proyeksi tingkat suku bunga tinggi di AS yang tetap menjadi sentimen dominan bagi pasar. Sejumlah perbankan global memprediksi Federal Reserve bakal menahan suku bunga acuan dalam durasi yang lebih panjang dari estimasi pasar sebelumnya.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) diproyeksikan masih akan mempertahankan tingkat suku bunga acuan BI-Rate pada level 4,75% demi mengawal stabilitas nilai tukar sekaligus meredam risiko tekanan inflasi global.

Sementara itu, tingkat inflasi domestik per April 2026 berada di posisi 2,42% secara tahunan (year-on-year/YoY), yang berarti masih berada di bawah batas target BI. Neraca perdagangan Indonesia pun terpantau konsisten membukukan surplus, kendati lonjakan nilai impor migas serta barang modal yang menyentuh sekitar 18% YoY pada Januari 2026 mulai menyita perhatian pasar.

Terkini