Dhilmar Milik Alexander Ramlie Akuisisi Tambang Anglo American

Selasa, 19 Mei 2026 | 13:34:54 WIB
Ilustrasi Anglo American (Foto: NET)

JAKARTA – Perusahaan tambang global Anglo American telah menyepakati penjualan portofolio tambang batu bara metalurgi mereka di Australia kepada Dhilmar Limited, perusahaan milik Alexander Ramlie. Nilai transaksi raksasa ini dilaporkan mencapai hingga US$3,875 miliar.

Struktur pembayaran dalam kesepakatan tersebut terdiri atas dana tunai awal sebesar US$2,3 miliar yang akan diserahkan pada saat penyelesaian transaksi. Selain itu, terdapat tambahan *earn-out* yang berbasis pada perkembangan harga komoditas dengan nilai mencapai US$1,575 miliar.

Chief Executive Officer Anglo American, Duncan Wanblad, menerangkan bahwa seluruh hasil dari penjualan ini bakal dialokasikan guna memangkas nilai utang bersih perseroan.

“Kesepakatan ini merupakan langkah besar lainnya dalam penyederhanaan portofolio kami menjelang penyelesaian merger dengan Teck,” ujar Wanblad dalam keterangannya, Senin (18/5/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Melalui langkah divestasi ini, Anglo American bakal sepenuhnya menyudahi operasionalnya di bisnis batu bara metalurgi. Sebelumnya, mereka juga telah merampungkan penjualan porsi kepemilikan di Tambang Jellinbah dengan nilai mendekati US$1 miliar. Jika diakumulasikan secara total, perusahaan memproyeksikan perolehan dana segar hingga US$4,9 miliar dari pelepasan seluruh aset batu bara metalurgi tersebut.

Portofolio aset yang dilepas ke Dhilmar Limited meliputi kepemilikan saham mayoritas pada deretan tambang batu bara metalurgi di Australia. Aset-aset tersebut di antaranya adalah 88% saham pada joint venture Moranbah North dan Grosvenor, 70% saham di Capcoal, serta sejumlah porsi kepemilikan lain di Dawson, Roper Creek, hingga Moranbah South.

Duncan Wanblad menilai bahwa Dhilmar mempunyai rekam jejak yang panjang dalam mengelola aset tambang berskala besar, termasuk komoditas batu bara metalurgi di kawasan Asia Tenggara serta Kanada. Pihak korporasi menargetkan seluruh proses transaksi ini dapat diselesaikan pada kuartal I/2027, setelah mendapatkan restu dari otoritas regulasi resmi serta memenuhi tiap persyaratan kompetisi usaha yang berlaku.

Di waktu yang sama, Anglo American pun masih menempuh proses arbitrase bersama Peabody Energy berkaitan dengan kesepakatan akuisisi portofolio batu bara metalurgi yang sempat ditandatangani pada November 2024 lalu. Anglo American menegaskan keyakinan mereka bahwa insiden yang sempat terjadi di tambang Moranbah North—yang dijadikan dasar oleh pihak Peabody untuk membatalkan perjanjian—tidak masuk ke dalam kategori material adverse change.

Dhilmar Limited diketahui merupakan entitas perusahaan tambang swasta yang baru didirikan dan memiliki basis operasi di Inggris. Korporasi ini dipimpin secara langsung oleh Alexander Ramlie selaku CEO sekaligus Managing Director, serta ditopang oleh jajaran direksi bereputasi yang mengantongi pengalaman puluhan tahun di sektor pertambangan, baik metode tambang terbuka maupun bawah tanah untuk beraneka komoditas.

Sebelum meniti karier di dunia pertambangan, miliarder termuda di Indonesia ini telah menyelesaikan studi sarjana dan magister di bidang ekonomi dari University of Boston. Ia mengawali perjalanan profesionalnya sebagai seorang bankir investasi di Lazard Frères & Co. Sebelum ikut menginisiasi berdirinya Amman pada tahun 2015, Alexander menduduki posisi sebagai Presiden Direktur dan Chief Executive Officer di PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk. (BORN), Sebuah perusahaan produsen batu bara metalurgi yang melantai di Bursa Efek Indonesia.

Selama memegang kepemimpinan di Borneo, dia memegang andil yang sangat krusial dalam proses akuisisi saham pengendali di Bumi PLC yang terdaftar di Bursa Efek London (LSE) pada tahun 2011.

Selanjutnya, pada periode tahun 2012 sampai 2015, dia dipercaya mengemban tugas sebagai Direktur Non-Eksekutif di Bumi dan menduduki posisi di dewan direksi pada berbagai lini anak usaha Bumi, seperti PT Berau Coal Energy Tbk. (BRAU) Yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, PT Berau Coal, PT Bumi Resources Tbk. (BUMI), PT Kaltim Prima Coal, hingga PT Arutmin Indonesia.

Pada tahun 2015, ia ikut mendirikan PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) dan kemudian ditunjuk menempati posisi Komisaris di AMMAN pada Juni 2025. Di bawah kendali kepemimpinannya, entitas AMMAN, yakni PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), melewati proses transformasi yang amat signifikan sekaligus membukukan pertumbuhan pada sektor operasional.

Ia juga memegang peran strategis dalam aksi korporasi akuisisi saham pengendali AMMAN di Macmahon Holdings Ltd yang melantai di Bursa Efek Australia (ASX), serta aktif menjabat sebagai Direktur Non-Eksekutif sepanjang tahun 2017 hingga 2023. Lewat kiprahnya di Amman, Alexander sukses mengukuhkan posisi sebagai salah satu orang terkaya sekaligus miliarder paling muda di Indonesia dengan taksiran total kekayaan mencapai US$2,4 miliar atau setara kisaran Rp39,77 triliun.

Terkini