Mengekor Wall Street Bursa Saham Asia Melemah pada Senin Pagi

Senin, 18 Mei 2026 | 13:51:18 WIB
Ilustrasi Bursa Saham Asia(Gambar: NET)

JAKARTA – Pasar saham di Asia cenderung bergerak melemah pada sesi perdagangan Senin (18/5/2026), mengekor penurunan tajam yang dialami Wall Street pada akhir pekan kemarin di tengah memanasnya kecemasan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Indeks Nikkei 225 di Jepang menjadi pemimpin penurunan dengan kemerosotan mencapai 1,00 persen pada pukul 09.22 WIB, bahkan sempat merosot ke posisi paling rendah harian pada angka 60.808. Gempuran tekanan ini utamanya berasal dari saham-saham yang memiliki kapitalisasi besar, sektor industri otomotif, serta teknologi.

Hembusan sentimen negatif dari Wall Street menjadi salah satu pemicu utama atas koreksi pasar di Asia. Pada sesi perdagangan Jumat yang lalu, indeks Dow Jones terjungkal sebesar 537,29 poin atau setara dengan 1,1 persen menuju level 49.526,17. Sementara itu, Nasdaq ambles 1,5 persen ke posisi 26.225,14, dan S&P 500 ikut menyusut 1,2 persen ke angka 7.408,50.

Gelombang aksi jual teramati ikut menghantam lantai bursa di Eropa. Indeks DAX di Jerman mengalami koreksi sebanyak 2,1 persen, FTSE 100 di Inggris terpangkas 1,7 persen, serta CAC 40 di Prancis ikut melemah sebesar 1,6 persen.

Beralih ke Australia, berdasarkan laporan dari Trading Economics, indeks ASX 200 mencatatkan penurunan 1,28 persen ke posisi 8.523 pada sesi pembukaan pasar, yang memperpanjang tren penurunan selama dua sesi berturut-turut sekaligus menyentuh titik terendahnya sejak awal bulan April.

Para pelaku pasar terlihat lebih memilih bersikap waspada usai Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melemparkan peringatan keras terhadap Iran, yang memantik kecemasan akan meluasnya eskalasi pertempuran di Timur Tengah. Situasi tersebut pada akhirnya ikut memicu lonjakan harga komoditas minyak mentah di pasar global.

Harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengapalan Juni melesat tinggi USD4,18 atau tumbuh 4,13 persen ke angka USD105,35 per barel setelah agenda pertemuan antara AS dan China tidak membuahkan pengumuman apa pun terkait langkah China dalam menyetop konflik di wilayah Teluk, sehingga penutupan jalur di Selat Hormuz masih terus berlangsung.

Para pemegang modal di Asia saat ini juga sedang menantikan publikasi data indikator ekonomi China yang direncanakan meluncur hari ini, yang meliputi angka produksi industri serta penjualan ritel per April, mengingat posisi China sebagai mitra dagang yang sangat penting bagi mayoritas negara di kawasan tersebut.

Di samping pasar Jepang dan Australia, indeks Hang Seng di Hong Kong terpantau ikut ambruk sebesar 1,32 persen, sedangkan Straits Times Index (STI) di Singapura bergerak melemah 0,56 persen.

Kendati demikian, tidak seluruh lantai bursa menorehkan performa yang negatif. Indeks Shanghai Composite di China tercatat masih sanggup merangkak naik tipis sebesar 0,08 persen, sementara indeks KOSPI di Korea Selatan justru melaju kencang dengan kenaikan mencapai 1,14 persen.

Terkini