Wall Street Rekor Baru Dow Jones Tembus 50.000 Berkat Sektor AI

Jumat, 15 Mei 2026 | 10:44:27 WIB
Ilustrasi New York Stock Wall Street (Foto: kontan.co.id)

JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat (AS) kembali mencatatkan rekor baru pada sesi perdagangan hari Kamis (15/5/2026) waktu setempat.

Pergerakan positif ini didorong oleh meroketnya saham-saham teknologi yang berbasis kecerdasan buatan (AI) serta munculnya sikap optimis dari para pelaku pasar mengenai pulihnya hubungan perdagangan antara pihak AS dan China.

Indeks S&P 500 mencatatkan kenaikan sebesar 0,8% dan sukses melewati level 7.500 untuk pertama kalinya dalam sejarah. Pada saat yang bersamaan, Nasdaq merangkak naik 0,9% menuju posisi rekor tertinggi baru di level 26.635.

Indeks Dow Jones Industrial Average pun ikut menguat 0,75%, bahkan kembali melampaui level psikologis 50.000 untuk pertama kalinya sejak konflik perang Iran pecah pada Februari yang lalu.

Secara mendalam, reli di pasar modal ini dikomandoi oleh sektor teknologi, terutama di bidang AI. Saham Cisco Systems melonjak drastis 13,4% usai perusahaan tersebut merevisi naik proyeksi pendapatan serta laba tahunan mereka sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sementara itu, NVIDIA turut naik sebesar 4,4%, yang memperpanjang tren reli bulanan mereka menjadi sekitar 15%. Kenaikan harga saham Nvidia ini terjadi sesudah pemerintah AS merilis izin bagi 10 korporasi China untuk mendapatkan chip AI H200 produksi Nvidia sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Keputusan tersebut dipublikasikan di sela kunjungan Presiden AS Donald Trump ke Beijing yang didampingi oleh beberapa CEO perusahaan teknologi raksasa asal AS.

Pelaku pasar menangkap langkah ini sebagai tanda meredanya ketegangan teknologi antara Washington dan Beijing yang selama ini menjadi beban bagi sektor semikonduktor di tingkat global.

Pada bagian lain, Menteri Keuangan AS Scott Bessent memaparkan bahwa Washington dan Beijing sedang mendalami mekanisme untuk mempercepat persetujuan investasi tertentu dari China ke wilayah AS.

Tak hanya itu, kedua negara tersebut juga mulai membuka celah untuk pengurangan tarif pada sejumlah komoditas yang bersifat nonstrategis.

Pemaparan tersebut mempertebal optimisme para investor bahwa hubungan ekonomi antara dua negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia ini mulai bergerak ke fase yang lebih stabil. Mengingat sebelumnya, perselisihan dagang dan restriksi teknologi telah menjadi pusat konflik utama bagi keduanya.

Terkini