JAKARTA – Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) untuk tahun buku 2025 telah menghasilkan sejumlah keputusan penting, salah satunya adalah penetapan I Ketut Pasek Senjaya Putra sebagai Direktur Utama guna memimpin perusahaan ke depan.
I Ketut Pasek Senjaya Putra secara resmi mengisi posisi Direktur Utama WIKA untuk menggantikan Agung BW seturut hasil keputusan RUPST tahun buku 2025. Sosok Pasek Senjaya sendiri sudah sangat familier di industri konstruksi maupun lingkungan BUMN Karya.
Sebelum dipercaya memimpin WIKA, ia memiliki pengalaman sebagai Direktur Operasi I PT Waskita Karya Tbk (WSKT) pada periode 2021-2022, serta menjabat Direktur Operasi I dan Quality, Safety, Health and Environment WSKT selama kurun 2022-2024.
Pria lulusan Sarjana Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada tahun 1996 dan Magister Manajemen Bisnis Institut Pertanian Bogor tahun 2017 ini juga pernah mengemban tugas sebagai Direktur Eksekutif PT Sarana Bali Dwipa Jaya, sebuah BUMD di Provinsi Bali, pada tahun 2024–2026.
Melalui RUPST Wijaya Karya yang diselenggarakan pada Senin (11/5/2026), Pasek Senjaya ditetapkan sebagai pimpinan tertinggi emiten BUMN Karya ini untuk menggantikan Agung Budi Waskito (BW). Agung BW sendiri tercatat telah menakhodai WIKA selama kurang lebih enam tahun sejak 8 Juni 2020.
Berdasarkan hasil RUPST tersebut, berikut adalah rincian susunan dewan komisaris dan direksi WIKA yang baru:
Dewan Komisaris
- Komisaris Utama: Apri Artoto
- Komisaris Independen: Suryo Hapsoro Tri Utomo
- Komisaris Independen: Adityawarman
- Komisaris Independen: Harris Arthur Hedar
- Komisaris: Suwarta
Dewan Direksi
- Direktur Utama: I Ketut Pasek Senjaya Putra
- Direktur Manajemen SDM dan Transformasi: Hadjar Seti Adji
- Direktur Operasi I: Hananto Aji Direktur Operasi II: Sonny Setyadhy
- Direktur Manajemen Risiko dan Legal: Vera Kirana
- Direktur Keuangan: Mulyadi
Manajemen WIKA menyampaikan kepada para pemegang saham bahwa pada tahun buku 2025, perseroan menghadapi tantangan berupa kelesuan pasar di industri konstruksi nasional. Kondisi tersebut memberikan tekanan pada perolehan kontrak baru, realisasi penjualan, serta arus penerimaan kas.
Guna memitigasi tantangan tersebut, WIKA memfokuskan strateginya pada penguatan struktur permodalan, optimalisasi pengelolaan liabilitas, percepatan penagihan piutang, serta pengetatan pengeluaran melalui prinsip cash focused, lean, and fit for the future. Langkah strategis ini memberikan hasil positif, di mana Gross Profit Margin (GPM) tumbuh dari 7,9% pada tahun 2024 menjadi 8,5% pada 2025.
Perseroan juga sanggup mengurangi nilai utang usaha sebesar Rp1,79 triliun serta utang berbunga sebanyak Rp2,08 triliun. Selain itu, nilai piutang WIKA juga menyusut menjadi Rp4,58 triliun dari posisi sebelumnya yang mencapai Rp1,89 triliun.
Dilihat dari performa operasional, WIKA membukukan raihan kontrak baru senilai Rp17,46 triliun dengan total kontrak yang dihadapi mencapai Rp50,55 triliun. Penjualan perseroan berada di level Rp20,44 triliun dengan total nilai aset sebesar Rp50,15 triliun.
Selain melakukan perombakan pengurus, RUPST juga memberikan persetujuan atas delapan agenda lainnya, termasuk Laporan Tahunan Tahun Buku 2025, Laporan Tugas Pengawasan Dewan Komisaris, pengesahan Laporan Keuangan Konsolidasian, serta Laporan Keuangan Program Pendanaan Usaha Mikro dan Usaha Kecil (PUMK) Tahun Buku 2025.
WIKA turut memaparkan realisasi penggunaan dana hasil Penawaran Umum melalui Penambahan Modal Dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu II (PMHMETD II) serta tambahan Penyertaan Modal Negara (PMN) hingga tahun buku 2025. Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Dari total dana PMHMETD II sebesar Rp6,08 triliun, WIKA telah merealisasikan penggunaan dana sebesar Rp5,7 triliun sesuai prospektus."
Lebih lanjut, RUPST menyetujui perubahan Anggaran Dasar, pendelegasian wewenang terkait Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) 2026–2030 dan RKAP 2027, serta perubahan aturan Dana Pensiun Wijaya Karya.
Ke depan, WIKA berkomitmen memperkuat fundamental keuangan melalui tiga pilar pemulihan, yakni restrukturisasi menyeluruh, divestasi aset, serta peningkatan efisiensi operasional.
Fokus utama perseroan adalah menjaga stabilitas keuangan dan arus kas demi kinerja yang berkelanjutan, termasuk melakukan langkah divestasi selektif pada aset noninti yang dinilai potensial untuk memberi nilai tambah bagi perusahaan.