Indeks S&P 500 Turun 0,38 Persen Akibat Koreksi Saham Intel

Jumat, 08 Mei 2026 | 10:02:11 WIB
Ilustrasi Indeks S&P 500 (Gambar: equiti)

JAKARTA – Bursa utama Wall Street mengakhiri sesi perdagangan Kamis (7/5/2026) di zona merah. Penurunan indeks S&P 500 disebabkan oleh aksi ambil untung pada saham Intel dan sektor semikonduktor lainnya setelah sempat menguat tajam, sementara sentimen pasar juga terbebani oleh ketidakpastian dialog perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurut laporan Reuters, S&P 500 terkoreksi 0,38% ke posisi 7.337,11. Nasdaq mengalami penurunan 0,13% menjadi 25.806,20, dan Dow Jones Industrial Average merosot 0,63% ke level 49.596,97.

Mayoritas sektor dalam S&P 500, yakni sembilan dari sebelas indeks, mencatatkan penurunan yang dipelopori oleh sektor material sebesar 1,83% serta sektor energi yang terpangkas 1,78%. Volume transaksi di pasar saham Amerika Serikat tercatat sebesar 18,3 miliar saham, di atas rata-rata 20 sesi terakhir yang berada pada angka 17,5 miliar saham.

Di lantai bursa, saham Arm Holdings tertekan akibat kekhawatiran pasar atas ketersediaan pasokan chip AI terbaru mereka, yang mengaburkan sentimen positif dari proyeksi pendapatan perusahaan. Intel dan Advanced Micro Devices juga kompak melemah sekitar 3%, menyerahkan kembali sebagian keuntungan yang diraih awal pekan ini.

Indeks chip PHLX tercatat turun 2,7%, sehingga pertumbuhan totalnya sepanjang kuartal ini berada di angka 47%.

Dari sisi geopolitik, terdapat laporan bahwa Amerika Serikat dan Iran tengah mengarah pada kesepakatan temporer untuk meredakan konflik. Meski Teheran sedang meninjau proposal penghentian pertempuran, sejumlah isu fundamental dikabarkan masih belum terselesaikan.

"Anda bisa mengalami serangkaian hari seperti ini, dan itu tidak akan mengurangi fakta bahwa ini merupakan kuartal pemulihan yang luar biasa, didorong oleh fundamental," kata Mike Dickson, kepala manajemen portofolio di Horizon Investments di Charlotte, North Carolina, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sementara itu, harga minyak mentah terkoreksi tipis dan berada di level sekitar US$ 100 per barel. Namun, saham Microsoft dan Nvidia justru menguat hampir 2%, yang menunjukkan optimisme investor terhadap raksasa teknologi AI.

Tren penguatan pada saham teknologi dan kecerdasan buatan sebelumnya telah membawa indeks AS ke rekor tertinggi, didukung oleh permintaan AI yang masif dan kinerja keuangan perusahaan yang solid. Perusahaan-perusahaan dalam indeks S&P 500 berada pada tren pertumbuhan laba terkuat dalam empat tahun terakhir. Kondisi ekonomi yang stabil juga turut meredam kekhawatiran pelaku pasar.

Kendati melemah pada hari Kamis, S&P 500 secara keseluruhan masih membukukan kenaikan 7% sepanjang tahun 2026 berjalan. Data ketenagakerjaan menunjukkan klaim pengangguran warga Amerika meningkat lebih rendah dari estimasi pasar minggu lalu.

Investor kini mengalihkan fokus pada data penggajian nonpertanian yang akan rilis Jumat esok setelah laporan penggajian swasta yang kuat. Berdasarkan survei Reuters terhadap para ekonom, lapangan kerja diprediksi tumbuh 62.000 pada April setelah sebelumnya naik 178.000 pada Maret.

Para pelaku pasar saat ini masih memproyeksikan bahwa Federal Reserve akan menahan suku bunga acuan hingga akhir tahun akibat kuatnya pasar tenaga kerja dan tingginya harga energi.

Presiden Cleveland Fed, Beth Hammack, mengatakan dia memperkirakan bank sentral akan mempertahankan suku bunga tetap stabil hingga masa mendatang karena menghadapi iklim ketidakpastian yang cukup besar, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Terkini