JAKARTA - Emiten ritel mencatat lonjakan laba signifikan pada kuartal I-2026, didorong pemulihan daya beli dan strategi ekspansi yang agresif.
Sejumlah emiten di sektor ritel mampu meraih kinerja mentereng di awal tahun 2026. Berdasarkan riset Kontan, PT DFI Retail Nusantara Tbk (HERO) menjadi peritel dengan lonjakan laba bersih tertinggi, yakni mencapai 220,65% secara tahunan (yoy) menjadi Rp 87,01 miliar per kuartal I-2026.
Di posisi berikutnya, PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) membukukan kenaikan laba 122,73% yoy menjadi Rp 452,71 miliar. Disusul PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA) yang tumbuh 38,41% yoy menjadi Rp 470,57 miliar.
Lalu, PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) mencatatkan kenaikan laba bersih 32,98% menjadi Rp 628,03 miliar. Sementara itu, PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) tumbuh 15,48% yoy, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) naik 10,29% yoy, dan PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) meningkat 7,57% yoy.
Tak hanya itu, emiten ritel dari Grup Lippo, PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA), juga menunjukkan perbaikan kinerja. Perusahaan tersebut berhasil berbalik dari rugi menjadi laba Rp 1,6 miliar.
Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, menilai peningkatan kinerja emiten ritel ini tidak hanya dipengaruhi faktor musiman. Ia menyebutkan adanya sejumlah katalis struktural yang menopang pertumbuhan tersebut.
Ia menjelaskan, pemulihan same store sales growth seiring membaiknya daya beli menjadi salah satu faktor utama. Selain itu, ekspansi gerai dan penguatan strategi omnichannel turut mendorong peningkatan volume penjualan.
Dari sisi produk, pergeseran ke segmen yang lebih premium terutama pada grup MAP dan ERAA juga memberikan kontribusi positif. Hal ini membuat margin dan nilai transaksi menjadi lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya.
"Di samping itu, efisiensi operasional yang lebih baik berhasil memperlebar margin, tercermin dari pertumbuhan laba yang melampaui pertumbuhan pendapatan pada sejumlah emiten," kata Azis kepada Kontan, Selasa (5/5/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Azis menilai kinerja peritel berpeluang tetap positif, namun kemungkinan tidak setinggi di awal tahun 2026. Basis pertumbuhan akan mulai menantang di semester II seiring normalisasi konsumsi masyarakat.
Namun, emiten seperti AMRT, MIDI, dan ACES yang berbasis kebutuhan harian cenderung lebih defensif. Kelompok ini diperkirakan masih mampu mencatat pertumbuhan stabil di kisaran 6%–10%.
Sementara itu, pemain discretionary seperti MAP Grup dan ERAA berpotensi melambat jika daya beli melemah. Kondisi ini menjadi salah satu risiko yang perlu diperhatikan investor dalam mencermati sektor ritel.
"Sentimen pendukung datang inflasi terkendali, kenaikan upah, dan ekspansi gerai. Tapi sentimen pemberat berasal pelemahan rupiah yang menekan margin impor, potensi kenaikan suku bunga, dan normalisasi konsumsi pasca puncak awal tahun," ujar Azis, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Azis berpendapatan perbaikan kinerja ini masih belum tercermin di beberapa emiten seperti AMRT, ERAA, MAPI yang mana harga saham cenderung flat. Dus, Azis merekomendasikan trading buy untuk MAPI dengan target Rp 1.495, serta AMRT di level target harga Rp 1.520 per saham.