JAKARTA – Kinerja saham DSNG semakin menarik perhatian investor setelah berhasil mencatatkan laba inti sebesar Rp401 miliar pada kuartal pertama tahun 2026 yang tumbuh positif.
Capaian laba inti PT Dharma Satya Nusantara Tbk pada 1Q26 ini menunjukkan kenaikan sebesar 13% dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya. Angka tersebut mencerminkan realisasi sebesar 118% dari estimasi kuartalan yang diprediksi oleh para analis pasar modal.
Pendapatan total perusahaan pada periode ini menyentuh angka Rp2,9 triliun dengan pertumbuhan sebesar 8% secara tahunan atau yoy. Sektor perkebunan menjadi kontributor utama dengan perolehan Rp2,6 triliun yang melampaui target awal dari tim riset.
Meskipun segmen kayu dan energi terbarukan masih cenderung lemah, performa kuat di lini perkebunan tetap menjaga stabilitas finansial. Sisi operasional yang efisien juga berhasil mendorong nilai EBITDA perusahaan hingga mencapai angka Rp808 miliar.
Volume penjualan produk perkebunan yang meliputi CPO, PK, dan PKO tercatat sangat masif yakni mencapai total 172 ribu ton. Hasil ini didorong oleh realisasi pengiriman tertunda dari akhir tahun lalu serta angka produksi yang tetap stabil.
Secara khusus volume penjualan CPO mengalami lonjakan sebesar 18% secara yoy menjadi 159 ribu ton di kuartal pertama. Kondisi ini membuktikan daya serap pasar terhadap produk perseroan tetap tinggi di tengah dinamika harga komoditas global.
Keunggulan lain terlihat pada pengendalian biaya tunai atau cash cost yang hanya berada di angka Rp9,9 juta per ton. Biaya bahan baku yang lebih rendah dari perkiraan semula menjadi kunci utama dalam menjaga margin keuntungan perusahaan.
Margin tunai yang dihasilkan tercatat sebesar Rp5,23 juta per ton atau jauh melampaui proyeksi awal yang telah ditetapkan. Di sisi lain posisi utang perusahaan juga mengalami penurunan menjadi Rp3,9 triliun dibandingkan posisi akhir tahun lalu.
Harga saham DSNG sendiri telah mengalami apresiasi sebesar 24% sepanjang tahun berjalan ini berdasarkan data pergerakan pasar. Analis tetap mempertahankan rekomendasi beli dengan melihat potensi kenaikan laba lebih lanjut dari volume penjualan.
Prospek harga CPO yang lebih kokoh ke depannya diyakini akan memberikan dukungan tambahan bagi pergerakan harga saham ini. Fokus pada efisiensi operasional menjadikan emiten ini sebagai salah satu pilihan utama di sektor perkebunan kelapa sawit.