British Army Belanja 1.000 Drone Saku Senilai £16 Juta untuk Pengintaian

British Army Belanja 1.000 Drone Saku Senilai £16 Juta untuk Pengintaian

FINANSIALINSIGHT.COM — Angkatan Darat Inggris menandatangani kontrak pengadaan lebih dari 1.000 drone kecil untuk pengintaian medan dan pelatihan, dengan nilai total £16 juta (sekitar USD 21 juta). Pengadaan ini menyentuh tiga perusahaan kecil dan menengah berbasis di Inggris, meski sebagian teknologinya berasal dari luar negeri. Kementerian Pertahanan Inggris menyebut portofolio drone "mata-mata" itu akan memperkuat intelijen dan perlindungan tentara di lapangan.

Kontrak tersebut diteken melalui UK National Armaments Director Group dan menjadi bagian dari Project Rapstone, program Angkatan Darat Inggris yang menargetkan teknologi baru bisa sampai ke garis depan dalam 24 bulan. Tiga vendor dipilih untuk memasok armada drone dengan peran berbeda: pengintaian, intelijen, dan pelatihan.

Skydio X10 Jadi Tulang Punggung Pesanan

Porsi terbesar pengadaan diisi 670 unit Skydio X10 quadcopter. Setiap unit berbobot sekitar 2,49 kg, mampu melaju hingga 45 mph, dan bertahan di udara sampai 40 menit.

Marlborough Communications Limited yang berbasis di Surrey bertindak sebagai pemasok ke Kementerian Pertahanan. Pabrikan drone ini, Skydio, sendiri berkantor pusat di California, Amerika Serikat.

FOXE-NATO untuk Pengintaian dan Pelatihan Taktis

Evolve Dynamics asal Hampshire memasok 245 unit FOXE-NATO untuk misi intelijen, pengawasan, dan pengintaian. Perusahaan menyebut drone ini sebagai quadcopter seukuran kantong dengan bobot di bawah 250 gram, dirancang untuk dikerahkan cepat dan mudah dioperasikan.

"Kontrak ini menandai langkah penting dalam memperkuat kemampuan UAS kedaulatan Angkatan Darat. Ambisi kami adalah menjadikan sistem nirawak kecil dan andal sebagai peralatan standar di tingkat taktis terendah, bukan sekadar sumber daya terbatas atau khusus," kata CEO Evolve Dynamics, Tom Redman, dalam pernyataannya.

SONORA Lengkapi Kebutuhan Pelatihan

Sisa 110 unit adalah drone SONORA yang dipasok lewat kemitraan Brigantes Consulting asal Exeter dan Harmattan AI yang berkantor pusat di Paris. Dirancang untuk pelatihan, SONORA bisa dikerahkan dalam waktu kurang dari satu menit dan berbobot di bawah 1,8 kg.

Setelah Watchkeeper, Inggris Kejar Kesiapan Tempur

Langkah ini menyusul kesepakatan senilai £400 juta (USD 534 juta) yang diumumkan Juli lalu untuk menggantikan armada Watchkeeper yang bermasalah dengan drone Tekever AR5. AR5 adalah drone sayap tetap berukuran jauh lebih besar dari quadcopter, mampu membawa beban 50 kg dan bertahan di udara hingga 20 jam.

"Tentara kami layak mendapat teknologi terbaik, dan itulah yang kami hadirkan. Dari drone kecil yang memberi pasukan pandangan terhadap musuh, hingga AR5 yang menawarkan intelijen lebih baik di medan perang, kami mengubah kemampuan Angkatan Darat untuk melihat, memahami, dan bertindak lebih dulu," ujar Menteri Kesiapan Pertahanan dan Industri, Luke Pollard MP.

Industri Kecil di Pusat Rantai Pasok

Pengadaan ini menempatkan perusahaan kecil dan menengah sebagai pemasok utama, meski sebagian komponen tetap berasal dari luar Inggris. Model kemitraan semacam ini jamak dipakai negara-negara Eropa yang ingin mempercepat adopsi teknologi nirawak tanpa harus membangun semuanya dari nol.

Bagi pasar drone global, kontrak ini menegaskan pergeseran permintaan dari sistem mahal berukuran besar ke perangkat mungil yang bisa dibawa perorangan. Skydio dan Harmattan AI kini masuk daftar pemasok pertahanan yang sebelumnya didominasi kontraktor besar.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index