Penjualan SR025 Laris Manis, Pemerintah Siapkan SBR015 dan ST017

Penjualan SR025 Laris Manis, Pemerintah Siapkan SBR015 dan ST017
Ilustrasi Pemerintah siap menawarkan SBR015 dan ST017 (FOTO : NET)

JAKARTA – Setelah sukuk ritel SR025, Pemerintah akan kembali menawarkan surat berharga negara (SBN) ritel pada penghujung 2026 melalui Savings Bond Ritel (SBR) seri SBR015 dan Sukuk Tabungan (ST) seri ST017. Penerbitan kedua instrumen investasi tersebut berlangsung ketika imbal hasil (yield) SBN Indonesia masih berada di level tinggi. Kondisi ini membuat besaran kupon menjadi salah satu faktor penting yang akan menentukan minat investor terhadap SBN ritel.

Berdasarkan data PHEI per Rabu (16/9/2026), yield SBN Indonesia tenor 10 tahun tercatat sebesar 7,16%. Angka tersebut meningkat 0,06 poin persentase dalam sebulan terakhir dan 0,83 poin persentase dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, penerbitan sukuk SR025 berlangsung sukses dengan jumlah penghimpunan dana investor sebanyak Rp 29,7 triliun. Jumlah tersebut melebihi target awal yang hanya Rp 25 triliun.

Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual menilai, tingginya yield SBN membuat persaingan antar-instrumen investasi semakin menjadi perhatian investor. Menurut dia, tingkat imbal hasil yang ditawarkan pemerintah akan menjadi salah satu penentu daya tarik SBN ritel yang akan diterbitkan.

David memperkirakan kupon awal SBR015 dan ST017 dengan mengacu pada pola selisih imbal hasil (spread) seri sebelumnya terhadap suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate). “Dengan mengacu pola spread historis, SBR014 sebesar 75-85 bps dan ST016 130-150 bps di atas BI Rate, dengan BI Rate saat ini 5,75%, kupon awal SBR015 diperkirakan berkisar 6,50%-6,85% dan ST017 6,75%-7,10%,” kata David sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Dengan demikian, estimasi kupon awal SBR015 berada pada rentang 6,50%-6,85% per tahun. Sementara itu, ST017 diperkirakan menawarkan imbal hasil awal sebesar 6,75%-7,10% per tahun. Perkiraan tersebut masih bergantung pada kebijakan pemerintah dan kondisi pasar saat masing-masing seri diterbitkan.

David menilai, tingkat kupon yang diperkirakan tersebut masih cukup menarik bagi investor setelah memperhitungkan pajak. Selain itu, SBR015 dan ST017 menggunakan skema kupon floating with floor. Skema ini memberikan batas minimum kupon sekaligus memungkinkan penyesuaian tingkat imbal hasil ketika terjadi perubahan suku bunga.

Dengan karakteristik tersebut, investor berpotensi memperoleh kepastian tingkat kupon minimum selama periode investasi, sesuai ketentuan penerbitan masing-masing seri. Namun, investor tetap perlu memperhatikan perkembangan suku bunga dan kondisi pasar keuangan sebelum mengambil keputusan investasi.

Di sisi lain, masa penawaran yang berdekatan dengan penghujung tahun dapat menjadi tantangan bagi penjualan SBN ritel pemerintah. David mengatakan, kebutuhan pengeluaran rumah tangga pada akhir tahun berpotensi membuat alokasi dana investasi menjadi lebih terbatas. “Namun tantangan dari masa penawaran yang berdekatan dengan akhir tahun bisa membuat alokasi dana rumah tangga cenderung lebih ketat,” ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Meski demikian, David memperkirakan target penerbitan SBN ritel pemerintah secara keseluruhan pada 2026 masih berpeluang tercapai. “Secara total, target penerbitan SBN ritel 2026 kemungkinan tetap tercapai, namun realisasi per seri tetap bergantung pada seberapa kompetitif kupon yang ditawarkan,” kata David sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Pemerintah menjadwalkan penawaran SBR015 dan ST017 pada periode yang berbeda. Berikut jadwal yang perlu diperhatikan investor:

SBR015 akan lebih dahulu memasuki masa penawaran pada 28 September hingga 22 Oktober 2026. Setelah itu, pemerintah membuka penawaran ST017 pada 6 November hingga 2 Desember 2026. Investor dapat mencermati informasi resmi terkait kupon, minimum pemesanan, tenor, serta ketentuan penawaran sebelum membeli kedua instrumen tersebut.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index