Jumlah Investor SBN Tembus 1.57 Juta Orang Meski Pertumbuhan Konsisten

Jumlah Investor SBN Tembus 1.57 Juta Orang Meski Pertumbuhan Konsisten
Ilustrasi investor SBN (FOTO : NET)

JAKARTA – Jumlah investor surat berharga negara (SBN) terus mengalami peningkatan sepanjang tahun ini. Pertumbuhan tersebut menandakan SBN ritel masih mempunyai basis investor tersendiri, meskipun laju penambahannya belum secepat pertumbuhan investor di pasar modal.

Head of PR & Corporate Communication Bibit.id William menyampaikan, jumlah investor SBN meningkat sekitar 150.000 orang sejak akhir 2025 hingga akhir Juli 2026. Melalui tambahan tersebut, akumulasi investor SBN saat ini berada di angka sekitar 1,57 juta.

“Kalau perkembangan jumlah investor SBN, ini slowly but sure. Tidak sekencang itu tapi konsisten. Sebagai perbandingan, dari akhir 2025 ke akhir Juli 2026, ada penambahan sekitar 150 ribu investor SBN baru. Sekarang total ada di 1,57 juta investor,” kata William sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berdasarkan penuturan William, SBN memiliki kelompok investor tersendiri sehingga dinamika kondisi ekonomi tidak serta-merta mengubah pola investasi pada instrumen tersebut. Kemudahan akses juga menjadi salah satu karakteristik yang membuat SBN konsisten menjangkau investor ritel.

“Pola yang signifikan berubah untuk investor di Bibit tidak ada. Dalam keadaan perekonomian apapun, SBN tetap sudah punya niche-nya tersendiri. Apalagi barrier to entry-nya Rp 1 juta. Jadi cukup menarik sebagai alternatif investasi,” ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Pola tersebut juga terlihat pada masa penawaran SR025. William menjelaskan bahwa investor cenderung menahan dana dan baru menentukan keputusan saat mendekati penutupan masa penawaran. Perilaku tersebut memicu volume transaksi SBN ritel dapat meningkat menjelang akhir penawaran.

“SR025 memberikan contoh bahwa ketika yield cukup menarik dan fixed rate dapat dikunci, investor ritel dapat meningkatkan alokasi, terutama menjelang penutupan masa penawaran. Mungkin di sini ada faktor psikologis dan perilaku investor yang wait and see, menahan dulu cash mereka sampai menjelang akhir masa penawaran untuk membuat keputusan investasi,” katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di samping itu, William menilai basis investor SBN masih memiliki potensi untuk terus meluas. Menurut William, pertumbuhan investor yang konsisten menjadi salah satu indikasi bahwa SBN ritel tetap mempunyai ruang di tengah beragamnya pilihan investasi.

Di sisi lain, Chief Economist BCA David Sumual menambahkan bahwa pertumbuhan investor tidak selalu dibarengi dengan peningkatan alokasi dana pada tiap penawaran SBN ritel.

“Di tengah yield tinggi, investor akan makin selektif. Likuiditas rumah tangga turut terbatas karena kebutuhan menjaga konsumsi di tengah tekanan biaya hidup, ditambah pilihan instrumen lain yang menawarkan yield lebih kompetitif,” ujar David sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurut David, investor mempunyai berbagai pilihan instrumen sehingga keputusan investasi tidak semata-mata didasari oleh bertambahnya jumlah investor SBN. Karakteristik produk, tenor, serta fleksibilitas instrumen turut menjadi aspek pertimbangan dalam penentuan alokasi.

Berdasarkan pantauan pada Rabu (16/9/2026) pukul 10.30 WIB, SR025-T3 masih tersisa 1,33% dari total kuota Rp 15 triliun. Sementara itu, seri SR025-T5 masih menyisakan 20,52% dari kuota sebesar Rp 5 triliun.

Kendati demikian, angka tersebut belum menggambarkan hasil penjualan akhir karena penawaran baru resmi ditutup dua jam setelahnya. Data penjualan final SR025 masih menunggu rilis resminya.

Setelah penawaran SR025 usai, pemerintah dijadwalkan kembali melepas SBN ritel melalui SBR015 pada 28 September-22 Oktober 2026. Selanjutnya, instrumen ST017 akan menyusul masuk masa penawaran pada 6 November-2 Desember 2026.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index