Pasar Panik Potensi Tekanan Fiskal IHSG Merosot 2 Persen

Pasar Panik Potensi Tekanan Fiskal IHSG Merosot 2 Persen
Ilustrasi pasar saham Indonesia (FOTO : NET)

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 2,2% ke level 6.391 pada perdagangan Senin (14/9/2026), pukul 14.30 WIB.

Sebagian analis memperkirakan koreksi pasar kali ini disebabkan karena kekhawatiran terhadap potensi tekanan fiskal di tengah melonjaknya harga minyak dunia belakangan.

Co-Founder Alphagate Capital sekaligus Former Chief Indonesia Strategist J.P. Morgan Henry Wibowo mengatakan kenaikan harga minyak hingga mendekati US$100 per barel menjadi salah satu sentimen negatif bagi pasar Indonesia.

Sebagai negara net importir minyak, kenaikan harga minyak berpotensi menekan neraca perdagangan dan fiskal Indonesia.

"Indonesia merupakan negara net importer minyak, sehingga kenaikan harga minyak berpotensi memberikan tekanan terhadap neraca perdagangan dan fiskal, terutama mengingat pemerintah masih memberikan subsidi energi domestik yang cukup besar," kata Henry sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurut Henry, tekanan tersebut menjadi perhatian pasar karena pemerintah masih memberikan subsidi energi, termasuk untuk BBM RON 90 atau Pertalite.

Kondisi itu membuat kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan beban fiskal apabila harga energi global bertahan tinggi.

Selain kekhawatiran fiskal, koreksi IHSG juga dipengaruhi aksi profit taking setelah pasar saham Indonesia menguat signifikan dalam beberapa bulan terakhir.

Investor cenderung mengambil posisi wait and see menjelang pertemuan Federal Reserve pekan ini di tengah kekhawatiran mengenai arah suku bunga AS.

Henry menilai koreksi IHSG saat ini masih bersifat sementara. IHSG telah menguat lebih dari 20% dalam tiga bulan sejak mencapai titik terendah pada Juni 2026, sehingga secara teknikal telah memasuki wilayah bull market.

"Setelah kenaikan yang cukup kuat tersebut, koreksi dan konsolidasi jangka pendek merupakan sesuatu yang wajar," katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Meski demikian, Henry melihat prospek pasar saham Indonesia secara positif dalam jangka menengah hingga panjang.

Salah satu penopangnya adalah arus foreign direct investment (FDI) ke sektor infrastruktur digital dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di Indonesia yang dinilai masih kuat.

Di saat yang sama, sejumlah grup konglomerasi domestik juga melakukan belanja modal besar untuk menangkap peluang pertumbuhan di sektor tersebut.

Indonesia dinilai memiliki posisi kompetitif sebagai tujuan investasi pusat data atau data center global.

"Indonesia memiliki posisi yang cukup unik dan kompetitif secara global sebagai tujuan investasi data center, didukung oleh harga lahan yang relatif menarik, ketersediaan pasokan listrik dan air yang stabil, serta kebijakan pemerintah yang semakin mendukung perkembangan industri digital dan data center," jelas Henry sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index