JAKARTA – PT Astra International Tbk (ASII) menyediakan anggaran sebesar Rp8 triliun guna menjalankan aksi pembelian kembali saham (share buyback) selama 12 bulan mendatang.
Langkah korporasi ini diambil sebagai bagian dari strategi terbaru perusahaan untuk mempertahankan nilai bagi para pemegang saham di tengah kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian.
Program buyback saham tersebut telah resmi disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 17 Juli 2026.
Presiden Direktur Astra Rudy menjelaskan bahwa aksi ini merupakan bentuk pelaksanaan dari Strategy Roadmap terbaru Astra yang diluncurkan sejak Mei 2026. Strategi tersebut berlandaskan empat pilar utama, yaitu Focus, Clarity, Discipline, dan Commitment.
"Di tengah ketidakpastian global yang masih berlanjut, kami tetap fokus untuk menjalankan strategi korporasi kami yang baru. Kami yakin terhadap keunggulan operasional, resiliensi, dan kekuatan neraca keuangan Astra, yang didukung oleh alokasi modal yang disiplin," ujar Rudy sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Rudy juga menyampaikan bahwa perseroan akan makin fokus menggarap tiga sektor bisnis utama, yakni Otomotif, Jasa Keuangan, serta Solusi Pertambangan dan Alat Berat. ASII pun merencanakan penambahan porsi kepemilikan saham pada PT Astra Otoparts Tbk (AUTO).
Perusahaan berniat meningkatkan kepemilikan saham dari posisi saat ini sekitar 80 persen menjadi 84,9 persen dengan tetap mematuhi regulasi serta mempertahankan batas minimal free float sebesar 15 persen.
Melalui penerapan strategi buyback ini, Astra memposisikan kedisiplinan alokasi modal sebagai salah satu prioritas utamanya. Pengembalian modal bagi pemegang saham direalisasikan melalui skema pembayaran dividen dan buyback saham.
Inisiatif ini meneruskan program buyback terdahulu yang dieksekusi Astra bersama PT United Tractors Tbk (UNTR). Sampai akhir Juni 2026, akumulasi nilai buyback yang telah rampung mencapai Rp7,4 triliun sejak November 2025.
Selain itu, United Tractors turut mengalokasikan program buyback baru berkapasitas maksimal Rp2 triliun untuk jangka waktu tiga bulan.
Di samping itu, Astra menempuh langkah Management Share Ownership Program (MSOP). Skema ini difungsikan guna memadukan arah kebijakan manajemen dengan peningkatan nilai jangka panjang bagi para pemegang saham.
Mengenai capaian kinerja, Astra membukukan pendapatan bersih konsolidasian sejumlah Rp157,9 triliun sepanjang semester I-2026, atau melandai 3 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Di saat bersamaan, raihan laba bersih konsolidasian berada di angka Rp12,5 triliun.
Performa Astra masih disokong kuat oleh lini bisnis di luar sektor pertambangan. Sektor Otomotif mencatatkan kenaikan laba sebesar 9 persen menjadi Rp5,9 triliun, sedangkan sektor Jasa Keuangan meningkat 6 persen menjadi Rp4,6 triliun.
Berbekal konsolidasi bisnis utama dan alokasi modal yang terukur, Astra optimistis dapat terus memelihara imbal hasil bagi pemegang saham sekaligus menjaga fleksibilitas neraca keuangan di tengah tantangan ekonomi global.