JAKARTA – Morgan Stanley & Co International Plc kembali memborong saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) selepas saham perseroan keluar dari indeks MSCI bulan ini. Morgan Stanley membeli sekitar 21,67 miliar saham GOTO pada perdagangan 2 September 2026 lalu.
Saat itu, Morgan Stanley membeli saham GOTO di harga pelaksanaan Rp25 per saham. Dengan demikian, Morgan Stanley mengeluarkan dana sekitar Rp541,98 miliar untuk menambah muatan saham GOTO awal bulan ini.
Transaksi itu dilakukan lewat tiga tahapan. Pertama, Morgan Stanley membeli 12,57 miliar saham biasa GOTO.
Selanjutnya, transaksi kedua dan ketiga dilakukan sebanyak masing-masing 119,95 juta saham biasa dan 9,22 miliar saham biasa. Lewat transaksi itu, Morgan Stanley kini menguasai 87,48 miliar saham GOTO atau setara 7,59% saham beredar saham teknologi tersebut.
Aksi borong saham itu sebelumnya sudah dilakukan Morgan Stanley pada akhir bulan Agustus 2026 atau sebelum rebalancing MSCI efektif. Saat itu, Morgan Stanley membeli sekitar 3,8 miliar saham GOTO di harga Rp23 per saham dengan nilai transaksi sekitar Rp87,3 miliar.
Sebelumnya JP Morgan tetap menyematkan pandangan overweight untuk saham GOTO. Mengutip riset yang disusun akhir bulan lalu, tim analis JP Morgan menilai posisi harga GOTO yang stagnan di level Rp50 per saham sejak 5 Mei 2026 tergolong undervalued.
Selain itu, JP Morgan juga menyoroti potensi harga GOTO dapat bergerak volatil selepas rencana BEI menghapus aturan saham gocap atau harga dasar Rp50 per saham. Hanya saja, rencana itu dapat menjadi sinyal positif untuk GOTO lantaran tekanan jual dari passive funds dapat mereda.
“Langkah tersebut akan memungkinkan ETF yang melacak indeks untuk melepas atau menyelesaikan posisi mereka, sehingga menghilangkan tekanan dari passive flows,” sebagaimana dilansir dari berita sumber. Riset itu disusun oleh tim analis berisikan Ranjan Sharma, Steven Suntoso, Sigrid Qiu, Alex Yao dan Benny Kurniawan.
“Pelaksanaan program buyback dan kejelasan yang lebih baik terkait regulasi merupakan katalis positif utama yang perlu diperhatikan dalam 6-12 bulan ke depan,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Adapun, GOTO berhasil mencetak laba bersih mencapai Rp607 miliar dan pendapatan bersih Rp10,99 triliun sepanjang semester I-2026. Pendapatan terbesar GOTO disumbang jasa pengiriman sebesar Rp3,2 triliun (+16,5%), lalu imbalan jasa Rp3,15 triliun (+14,9%), dan pendapatan pinjaman Rp2,71 triliun (+65%).
Sumbangan pendapatan lain yakni dari pendapatan e-commerce service fee PT Tokopedia Rp551 miliar (+32,3%) dan pendapatan iklan Rp254 miliar (+8%). Sisanya pendapatan lain-lain mencapai Rp1,13 triliun atau melesat 46,5% dari periode semester I tahun lalu.
Mengutip Bloomberg News, dikeluarkannya GOTO dari indeks-indeks MSCI akan menjadi pukulan terbaru bagi perusahaan tersebut setelah bertahun-tahun mengalami kerugian besar akibat persaingan dengan pesaing yang memiliki modal kuat, seperti Grab Holdings Ltd. Serangkaian restrukturisasi dan pergantian kepemimpinan telah membantu perusahaan membukukan laba kuartalan untuk kedua kalinya secara berturut-turut, bahkan ketika tekanan terhadap laba semakin meningkat akibat kenaikan harga minyak yang dipicu oleh perang di Timur Tengah.
GOTO, yang didukung oleh Alibaba Group Holding Ltd., pernah menjadi salah satu perusahaan paling bernilai di Indonesia, dengan kapitalisasi pasar yang sempat menembus US$32 miliar tak lama setelah pencatatan sahamnya di Indonesia pada April 2022. Namun, optimisme terhadap prospek pertumbuhan perusahaan tersebut tidak bertahan lama.
Kekhawatiran mengenai jalur GOTO menuju profitabilitas dan disiplin keuangannya meredam antusiasme investor. Berbagai upaya untuk meningkatkan aktivitas perdagangan dan mencegah penghapusan GoTo dari indeks—termasuk dorongan MSCI agar bursa Indonesia menghapus batas bawah harga saham (price floor)—sejauh ini belum membuahkan hasil, menurut orang-orang yang mengetahui masalah tersebut.
Mereka meminta untuk tidak disebutkan namanya karena alasan kerahasiaan. Hans Patuwo, yang menjadi CEO GOTO pada akhir tahun lalu setelah adanya dorongan dari sejumlah pemegang saham besar untuk menyingkirkan pendahulunya, telah berjanji untuk membalikkan kondisi perusahaan.
Perusahaan tersebut juga mempertimbangkan reverse stock split sebagai salah satu cara untuk meningkatkan harga saham, setelah mengumumkan rencana buyback saham hingga Rp3,5 triliun (US$196 juta) serta rencana untuk membatalkan saham treasuri.
“Kami ingin memastikan kondisi makroekonomi sudah tepat sehingga ketika kami menggunakan dana tersebut, dampak yang dihasilkan sesuai dengan yang kami harapkan,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.