IHSG Turun 0,11 Persen di Sesi I, Saham DSSA dan TINS Jadi Incaran

IHSG Turun 0,11 Persen di Sesi I, Saham DSSA dan TINS Jadi Incaran
Ilustrasi investor asing (FOTO : NET)

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 0,11% pada perdagangan sesi pertama di Jumat (4/9/2026). Level IHSG turun menjadi 6.660,79 dari 6.667,89 poin.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan investor asing melakukan pembelian bersih (foreign buy) sebesar Rp2,10 triliun. Sedangkan jual bersih (foreign sell) sebesar Rp1,97 triliun.

Hasilnya, total pembelian bersih (net foreign buy) mencapai Rp124,85 miliar di perdagangan sesi satu tersebut.

Tim periset PT Phintraco Sekuritas mencermati pelemahan IHSG dipicu penurunan indeks sektor kesehatan (IDX Helth) sebesar 1,04%, sektor transportasi yang turun sebesar 0,68% dan non-siklikal 0,54%.

Walau demikian, level IHSG tak turun terlalu dalam lantaran ditopang penguatan indeks sektor perindustrian sebesar 0,71%, energi 0,33% dan properti yang naik 0,18%.

PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia mencatat tiga saham teratas yang mencatatkan pembelian bersih dari investor asing.

Ketiga saham ini adalah PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) sebesar Rp258,21 miliar dan PT Timah (Persero) Tbk (TINS) tercatat dengan nilai transaksi sebesar Rp98,51 miliar.

Selanjutnya, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) dengan nilai transaksi sebesar Rp67,48 miliar dan volume sebanyak 72,89 juta saham.

Mirae Asset Sekuritas mencatat pelemahan indeks dipicu aksi penjualan bersih oleh investor asing di saham PT Astra International Tbk (ASII) mencatatkan nilai transaksi jual bersih sebesar Rp57,51 miliar, PT Antam (Persero) Tbk (ANTM) Rp37,75 miliar saham, dan PT Karya Pacific Energi Tbk (IATA) Rp31,26 miliar.

Adapun, periset di PT Pilarmas Investindo Sekuritas memproyeksikan pergerakan IHSG di akhir pekan ini masih dipengaruh sentimen internal dan eksternal.

“Dari internal, pergerakan indeks IHSG yang variatif seiring katalis positif eksternal dan ditopang kepercayaan pasar meningkat seiring dengan transisi kepemimpinan yang lancar di Bank Indonesia (BI) dan Gubernur yang baru berjanji akan menerapkan kebijakan responsif untuk menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi,” demikian analisa tim periset Pilarmas Investindo Sekuritas di Jumat (4/9/2026) siang sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Investor mencermati sentimen eksternal dari sikap Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed), Christopher Waller, yang mendukung kebijakan tingkat suku bunga untuk tetap stabil, jika tekanan terhadap inflasi menunjukkan tanda mereda.

The Fed diperkirakan akan mempertahankan tingkat suku bunga pada September 2026.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index