Indo Premier Pilih Saham AADI dan PTBA Ketimbang Emas

Indo Premier Pilih Saham AADI dan PTBA Ketimbang Emas
Ilustrasi Saham (FOTO : NET)

JAKARTA – Indo Premier Sekuritas melihat prospek beberapa komoditas masih mempunyai potensi positif, tetapi para investor diimbau untuk lebih cermat di tengah situasi pasar dunia yang dinamis. Di antara seluruh komoditas yang dicermati, batu bara termal menempati urutan teratas sebagai pilihan utama, diikuti oleh emas, lalu logam dasar.

Analisis dari Ryan Winipta selaku Analis Indo Premier Sekuritas dalam risetnya pada 3 September 2026 menyebutkan bahwa harga emas sempat mengalami lonjakan tajam sampai US$ 4.600 per ons troi atau naik sekitar 15 persen bila dibandingkan dengan Juli 2026. Meski begitu, tren penguatan emas mulai mengendur lantaran dipengaruhi oleh pernyataan hawkish Ketua The Fed saat simposium Jackson Hole.

“Harga emas sempat melonjak hingga US$ 4.600 per ons troi, atau naik 15 persen dibandingkan Juli 2026. Namun, momentum kenaikan tersebut mulai kehilangan tenaga setelah pernyataan hawkish Ketua The Fed dalam simposium Jackson Hole," tulis Ryan sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Tren pergerakan harga emas ini juga berlangsung berbarengan dengan melesatnya harga minyak mentah beserta produk olahannya, khususnya diesel. Hal tersebut terpicu oleh crack spread yang meluas hingga menembus US$ 100 per barel akibat disrupsi yang masih berlanjut di Selat Hormuz.

Walau laju momentum emas tertahan, Indo Premier tetap mempertahankan proyeksi positifnya terhadap komoditas tersebut. Ryan berpendapat bahwa koreksi harga emas saat ini justru dapat dimanfaatkan investor sebagai momentum yang pas untuk mulai membelinya.

Faktor pendorong Indo Premier untuk tetap optimis pada prospek emas adalah beban utang pemerintah Amerika Serikat yang telah melampaui angka US$ 40 triliun.

"Kami tetap bullish pada emas dan menilai koreksi terbaru merupakan peluang untuk masuk karena utang nasional AS kini telah melampaui US$ 40 triliun," ujar Ryan sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Indo Premier turut menyoroti kebijakan Departemen Keuangan AS yang mengikis risiko dengan menggandakan porsi buyback obligasi jangka panjang. Langkah ini dinilai dapat menjadi sinyal bahwa naiknya suku bunga berisiko memperbesar beban bunga pemerintah AS akibat tingginya kebutuhan penerbitan US Treasury bills.

Dalam rentang jangka menengah hingga panjang, situasi ini berpotensi kembali menekan indeks dolar AS (DXY). Pada akhirnya, pelemahan mata uang dolar AS tersebut akan menjadi daya dorong positif untuk kenaikan harga emas.

Meski emas menyajikan prospek yang menjanjikan, Indo Premier menganggap batu bara mempunyai daya dorong katalis yang lebih kuat untuk kurun waktu dekat. Terbukti dari harga batu bara termal maupun batu bara kokas yang masing-masing tercatat melesat sekitar 3 persen hingga 9 persen secara bulanan.

Penguatan tersebut utamanya terdorong oleh kemerosotan tingkat produksi batu bara di China. Volume produksi bulanan China tercatat merosot sekitar 10 persen secara bulanan pada Juli 2026 usai pemerintah setempat memperketat pengawasan keselamatan tambang buntut insiden di salah satu area tambang batu bara Shanxi.

Untuk segmen batu bara termal, Indo Premier konsisten mempertahankan sikap optimisnya sebab hambatan pada pasokan diprediksi belum akan surut.

Setidaknya ada tiga faktor utama yang menjadi penopang kondisi tersebut. Pertama, penurunan angka produksi batu bara domestik China; kedua, dampak bencana kekeringan yang menghambat jalur lalu lintas sungai di Indonesia; serta ketiga, lonjakan potensi permintaan mendekati musim dingin.

Sementara dari kawasan Eropa, permintaan batu bara berpotensi melonjak akibat menipisnya cadangan penyimpanan gas serta merosotnya pasokan energi terbarukan, khususnya dari pembangkit nuklir dan hidro.

"Kami tetap bullish pada batu bara termal karena kendala dari sisi pasokan diperkirakan berlanjut," tulis Ryan sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Apabila ditinjau dari sisi emiten, Indo Premier menilai PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) cenderung lebih aman dari efek hambatan kekeringan sungai.

Kedua emiten saham ini juga dianggap menyajikan nilai valuasi yang sangat menggiurkan. Saham AADI dan PTBA saat ini diperdagangkan pada kisaran 5 hingga 6 kali proyeksi price to earnings (P/E) 2026.

Mengenai imbal hasil dividen, AADI menawarkan tingkat dividend yield sekitar 8 persen, plus potensi dividen tambahan sekitar 3 persen dari hasil penjualan Kestrel. Di sisi lain, PTBA mencatatkan dividend yield di kisaran 7 persen.

Indo Premier juga tetap bersikap bullish pada batu bara kokas. Namun, potensi lonjakan harga komoditas ini dinilai belum dapat dinikmati sepenuhnya oleh PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR).

Alasannya, surutnya air akibat kekeringan di wilayah hulu Sungai Barito masih menjadi rintangan utama bagi ADMR. Situasi ini berisiko membatasi ruang gerak perusahaan untuk mendulang keuntungan optimal dari melesatnya harga batu bara kokas.

Sangat berbeda dengan batu bara dan emas, sektor logam dasar, khususnya nikel, justru menempati prioritas paling bawah bagi Indo Premier.

Ryan menguraikan bahwa volume produksi bijih nikel mulai membaik menyusul kondisi cuaca yang bertambah kering. Membaiknya rantai pasokan ini mendorong harga bijih nikel bergerak mendekati Harga Patokan Mineral (HPM), dengan selisih premi hanya sekitar US$ 1 per wet metric tonne (wmt) untuk kadar 1,6 persen.

Kondisi tersebut bahkan telah terjadi tanpa memperhitungkan imbas langsung dari penambahan kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).

Mengacu pada hasil pemantauan lapangan Indo Premier hingga Agustus 2026, belum terdapat perusahaan tambang yang mengonfirmasi penerimaan tambahan kuota RKAB secara resmi.

Di sisi lain, para pelaku pasar mulai mencermati potensi kelangkaan air yang dapat mengganggu jalannya proses produksi mixed hydroxide precipitate (MHP). Tingkat profitabilitas MHP juga makin terimpit dan berpotensi menyentuh titik impas atau bahkan merugi apabila biaya bunga diperhitungkan.

Bagi produk turunan nikel seperti nickel pig iron (NPI) dan MHP, pergerakan harga pada Agustus 2026 cenderung stabil dan tidak banyak bergeser secara bulanan.

Indo Premier memprediksi komoditas logam dasar berisiko menghadapi tekanan harga apabila penambahan kuota RKAB disetujui dan membanjiri pasar dengan pasokan baru.

Khusus di sektor emas, Indo Premier lebih menjagokan saham PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA).

Mempertimbangkan seluruh kalkulasi tersebut, Indo Premier menyusun tingkat preferensi komoditas dimulai dari batu bara termal, disusul emas, dan terakhir logam dasar. "Preferensi kami adalah thermal coal > gold > base metals," tulis Ryan sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Dengan begitu, batu bara termal menjadi instrumen paling prospektif untuk jangka pendek karena disokong oleh perpaduan ketatnya pasokan, kenaikan permintaan musiman, serta valuasi saham emiten yang tergolong murah.

Di samping itu, emas tetap menjadi opsi menarik bagi investor yang mengincar potensi kenaikan harga jangka menengah hingga panjang, terutama jika mata uang dolar AS kembali melemah dan kekhawatiran atas beban utang AS makin membesar.

Sementara itu, logam dasar seperti nikel menjadi prioritas terbawah Indo Premier mengingat adanya risiko banjir pasokan jika penambahan kuota RKAB mulai direalisasikan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index