Saham GOTO dan CPIN Keluar MSCI Standard Perhatikan Prospek IHSG 2026

Saham GOTO dan CPIN Keluar MSCI Standard Perhatikan Prospek IHSG 2026
Ilustrasi ihsg (FOTO : NET)

JAKARTA – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang menghadapi volatilitas mendatangkan momentum penyesuaian ulang atau rebalancing Morgan Stanley Capital International (MSCI) periode Agustus 2026.

Penyesuaian indeks tersebut bakalan resmi berlaku pada penutupan sesi perdagangan 31 Agustus 2026 serta mulai terefleksi pada sesi transaksi berikutnya.

Pada perombakan indeks periode ini, saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dikeluarkan dari kategori Global Standard.

Sementara itu, terdapat sembilan emiten yang terdepak dari kategori Small Cap MSCI, yakni ARTO, BUKA, ESSA, FILM, HEAL, KPIG, RATU, SMGR, dan TCPI.

Pengamat Pasar Modal Universitas Indonesia (UI) Budi Frensidy berpandangan bahwasanya potensi risiko dari penyesuaian indeks ini masih membayangi dalam jangka pendek. Meski demikian, sebagian dari dampaknya diperkirakan telah tercermin pada pergerakan pasar sebelumnya.

Menurut Budi, tekanan terhadap pasar berpotensi paling dominan terasa menjelang penutupan transaksi pada 31 Agustus 2026, khususnya bagi saham-saham yang tereliminasi atau mengalami penurunan kelas indeks MSCI.

Walau begitu, imbas rebalancing ini pada pergerakan IHSG secara menyeluruh diproyeksikan bakal relatif terbatas.

"Saya melihat IHSG masih cenderung volatil di kisaran 6.400-6.600 dalam jangka pendek," ujar Budi, Rabu (26/8/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di luar faktor MSCI, terdapat beberapa katalis lain yang dapat menjadi pendorong arah IHSG hingga kurun waktu beberapa bulan mendatang.

Sentimen penggerak tersebut di antaranya mencakup fluktuasi nilai tukar rupiah, agenda rebalancing FTSE, arah kebijakan moneter Federal Reserve atau The Fed, dinamika imbal hasil US Treasury, hingga eskalasi geopolitik dunia.

Budi turut mencermati rencana demonstrasi dari elemen masyarakat dan mahasiswa di Jakarta pada 27 Agustus 2026.

Menurut beliau, aksi massa tersebut berisiko memberikan tekanan ekstra ke pasar apabila bereskalasi menjadi konflik atau berujung kericuhan.

Sebaliknya, jika aksi unjuk rasa berjalan kondusif, impaknya terhadap pasar saham diprediksi tidak terlalu signifikan.

Budi menilai bahwa pergerakan mata uang rupiah justru perlu memperoleh porsi perhatian lebih tinggi dari para pemodal.

"Perkembangan rupiah justru lebih penting karena pelemahan tajam bisa memicu outflow asing," imbuhnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Pelemahan nilai tukar rupiah yang tajam berisiko memperbesar kekhawatiran pelaku pasar atas risiko pasar domestik dan berpeluang memicu penarikan dana asing dari bursa saham Indonesia.

Memasuki periode hingga pengujung 2026, Budi memperhitungkan IHSG berpeluang melaju ke rentang 6.700-7.000.

Tingkat 7.000 dinilai tetap realistis digapai bilamana sejumlah faktor penyokong terpenuhi, utamanya stabilitas mata uang rupiah, pemulihan aliran modal asing, serta meredanya tekanan dari penyedia indeks global.

Mengenai pilihan sektor, Budi memandang ada beberapa sektor yang masih menyimpan prospek cukup menjanjikan sampai akhir tahun.

Sektor-sektor tersebut meliputi sektor teknologi, telekomunikasi, barang konsumen defensif, serta emiten yang mengandalkan komoditas.

Dalam menyikapi potensi gejolak pasar, Budi mengimbau investor agar tidak tergesa-gesa mengambil tindakan agresif.

Langkah strategis yang dapat diterapkan yaitu melakukan pembelian secara bertahap pada saham berkategori fundamental dan likuiditas kuat, seraya tetap memegang porsi dana tunai.

Menurut pandangannya, tekanan teknis yang hadir akibat rebalancing MSCI dapat menjadi momentum pengumpulan saham apabila tidak diiringi pergeseran fundamental pada perusahaan.

Oleh sebab itu, pelaku investasi harus cermat membedakan antara tekanan akibat faktor teknikal penyesuaian indeks dan perubahan fundamental emiten sebelum mengambil keputusan investasi.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index