Suku Bunga BI 5,75 Persen, Cermati Prospek Saham Sektor Infrastruktur

Suku Bunga BI 5,75 Persen, Cermati Prospek Saham Sektor Infrastruktur
Ilustrasi infrastruktur (FOTO : NET)

JAKARTA – Kinerja emiten di bidang infrastruktur dinilai masih memiliki prospek bagus di tengah periode suku bunga tinggi.

Keputusan mempertahankan suku bunga di level 5,75 persen ditetapkan oleh Bank Indonesia (BI) dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Agustus 2026.

Saham pada emiten-emiten infrastruktur terpantau mengalami penurunan di tengah penahanan suku bunga oleh BI.

Ada cukup banyak faktor yang memicu penurunan kinerja pada emiten infrastruktur.

Faktor tersebut mulai dari tingginya beban utang untuk pembiayaan proyek, khususnya yang menggunakan mata uang dolar Amerika Serikat (AS).

Selain itu, kondisi yang diliputi ketidakpastian turut menyebabkan sebagian besar atau hampir seluruh saham dari berbagai sektor mengalami penurunan.

“Mulai dari perang, pelemahan rupiah, stabilitas politik, hingga kebijakan fiskal dalam negeri yang selalu menjadi perhatian,” ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Indeks IDXINFRA bahkan tercatat melemah 28,18 persen sejak awal tahun atau year to date (YTD) per Jumat (21/8). Sebagai perbandingan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan sebesar 24,53 persen YTD.

Sektor ini setidaknya memiliki 10 emiten dengan bobot paling besar, yaitu ISAT, EXCL, TLKM, BREN, CDIA, TOWR, dan MORA.

Saham TLKM mengalami penurunan 25 persen YTD, BREN turun 64,33 persen YTD, CDIA melemah 57,49 persen YTD, TOWR tergerus 25,81 persen YTD, serta EXCL menyusut 24,27 persen YTD.

Penurunan IDXINFRA lebih disebabkan oleh faktor earnings, leverage, capital expenditure (capex), foreign outflow, serta sentimen pasar yang masih selektif.

“Jadi saat ini suku bunga bukan satu-satunya perhatian. Tekanan di saham-saham besar, seperti TLKM, juga ikut membebani indeks,” katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Penyebab dari penurunan IDXINFRA tidak lepas dari tindakan profit taking yang dilakukan oleh para pelaku pasar di sektor ini.

Saham seperti BREN merupakan saham berkapitalisasi pasar terbesar di sektor ini, diikuti saham besar lainnya seperti CDIA dan MORA yang mencatatkan kenaikan signifikan sebelum tahun 2026.

“Sehingga sesuatu yang wajar jika secara YTD mencatatkan penurunan yang signifikan,” ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kondisi tersebut turut dipengaruhi berbagai faktor, seperti ketegangan geopolitik, kenaikan harga minyak, inflasi, peningkatan suku bunga, kebijakan MSCI, dan lain-lain.

Langkah BI mempertahankan suku bunga dalam RDG pekan ini tidak secara otomatis menjadi pemicu yang membuat sektor infrastruktur langsung berbalik positif.

“Namun, jika melihat pergerakan dari price action IDXINFRA, juga mulai menunjukkan adanya potensi trend reversal setelah terjadi breakout pada pola ascending triangle pada 18 Agustus 2026 lalu,” ungkapnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kinerja TLKM dan ISAT di sektor infrastruktur diperkirakan masih tetap prospektif hingga akhir tahun 2026. Penilaian tersebut didasari oleh ketergantungan kedua emiten pada dominasi pendapatan berulang (recurring revenue) dalam mata uang rupiah.

Investor disarankan untuk memperhatikan saham EXCL dan TLKM dengan target harga berturut-turut Rp 3.270 per saham dan Rp 3.440 per saham.

Subsektor telekomunikasi serta infrastruktur digital memiliki kinerja paling menarik hingga akhir 2026 seiring meningkatnya trafik data, 5G, cloud, dan AI.

Pilihan yang lebih defensif jatuh pada saham ISAT, EXCL, dan TLKM, dengan pemicu utama berupa pertumbuhan pendapatan, efisiensi capex, konsolidasi industri, serta kenaikan permintaan data.

“TLKM lebih bisa menjadi alternatif bagi investor yang lebih mengutamakan fundamental dan dividend yield,” paparnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Emiten di sektor infrastruktur tergolong emiten yang cenderung defensif karena berfokus pada bisnis utilitas atau produknya dimanfaatkan banyak orang dalam kehidupan sehari-hari.

Hal tersebut menandakan bahwa emiten ini memiliki earning power yang tergolong kuat.

Kinerja emiten-emiten tersebut bakal jauh lebih baik apabila kondisi makro ke depan, seperti bank sentral (BI maupun The Fed), bersikap lebih dovish.

“Atau mungkin ada aksi korporasi yang organik dan anorganik. Perlu menjadi perhatian juga valuasi sahamnya,” paparnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Rekomendasi beli diberikan untuk PGEO dengan target harga terdekat Rp 1.140 per saham serta target harga berikutnya Rp 1.215 per saham.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index