BEI Hapus Batas Rp50, Apakah Saham GOTO Berpotensi Turun ke Rp1?

BEI Hapus Batas Rp50, Apakah Saham GOTO Berpotensi Turun ke Rp1?
Ilustrasi saham (FOTO : NET)

JAKARTA – Rencana Bursa Efek Indonesia menghapus batas minimum harga saham Rp50 atau gocap berpotensi memberikan ruang pergerakan baru bagi saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. Pertanyaan yang muncul adalah seberapa jauh saham emiten teknologi tersebut dapat mengalami penurunan.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menerangkan bahwa penghapusan batas minimum ini berpeluang mengurai antrean saham yang tertahan di level Rp50. Langkah tersebut memberikan jalan keluar bagi investor sekaligus membuat harga terbentuk sesuai dinamika permintaan dan penawaran.

Liza memberikan contoh saham GOTO yang saat ini berada di level Rp50 per saham dapat bergerak di bawah angka tersebut jika BEI membuka perdagangan hingga Rp1 di pasar reguler dan pasar tunai. Kendati demikian, arah pergerakan harga saham emiten teknologi ini tetap ditentukan oleh kondisi fundamental, sentimen, serta kekuatan permintaan dan penawaran.

“GOTO, misalnya, secara teori memang bisa turun perlahan sampai Rp1, tapi tentu tidak otomatis hanya gara-gara aturannya berubah. Tetap tergantung fundamental, sentimen, serta kekuatan jual-belinya,” kata Liza sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurut pertimbangannya, penghapusan batas harga minimum tidak sekadar mengubah nominal angka yang tampak di layar perdagangan. Kebijakan ini benar-benar membuka peluang saham ditransaksikan hingga Rp1 melalui mekanisme continuous auction di pasar reguler dan pasar tunai.

Untuk saham-saham yang selama ini tertahan di level Rp50, Liza menilai aturan baru ini mampu membuka kembali mekanisme pembentukan harga atau price discovery. Investor yang hendak menjual saham tidak perlu lagi mengantre pada harga minimum saat ini, sementara harga berpeluang bergerak lebih mencerminkan kondisi penawaran dan permintaan.

Meski demikian, Liza mengingatkan bahwa harga yang lebih murah tidak selalu menandakan saham tersebut menjadi lebih menarik untuk dibeli. Risiko ini perlu dicermati terutama oleh investor ritel yang rentan menganggap saham berharga rendah sebagai kesempatan investasi yang baik.

“Dari sisi investor ritel, risikonya lumayan besar karena harga nominal rendah gampang menimbulkan kesan sudah murah, padahal bisa saja kondisi fundamentalnya memang terus memburuk dan nilai investasinya nyaris habis,” ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Selain itu, pergerakan pada rentang harga Rp1 hingga Rp10 dapat memicu volatilitas yang jauh lebih ekstrem. Perubahan nominal sebesar Rp1 saja sudah menghasilkan persentase perubahan harga yang sangat signifikan.

Sebagai gambaran, saham yang menguat dari Rp1 ke Rp2 mencatatkan kenaikan 100 persen, sedangkan penurunan dari Rp2 ke Rp1 berarti kerugian sebesar 50 persen.

Liza menilai kebijakan ini dapat mendorong peningkatan aktivitas perdagangan pada saham berharga rendah, tetapi lonjakan frekuensi dan nilai transaksi tidak otomatis menandakan likuiditas pasar menjadi lebih sehat. Peningkatan aktivitas tersebut justru bisa mencerminkan maraknya spekulasi pada saham-saham yang sedang bermasalah.

Di sisi lain, penyesuaian batas harga minimum ini belum tentu membuat saham-saham tersebut lebih dilirik oleh investor institusi maupun asing.

Liza menyebutkan bahwa kelompok investor tersebut tetap memprioritaskan faktor fundamental perusahaan, tata kelola, transparansi free float, kedalaman likuiditas, serta kemudahan untuk keluar dan masuk tanpa memicu pergeseran harga yang signifikan.

Sementara itu, Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy menilai rencana penghapusan batas harga minimum Rp50 pada dasarnya bernilai positif karena dapat memperkuat proses price discovery, walaupun kebijakan ini tidak serta-merta meningkatkan likuiditas pasar secara keseluruhan.

Ia berpandangan bahwa batasan harga gocap selama ini membuat saham yang berada di bawah tekanan jual berisiko terkunci di level tersebut sehingga harganya tidak lagi mencerminkan kondisi fundamental emiten.

Budi menambahkan jika batasan tersebut ditiadakan, saham dapat kembali bergerak menuju titik keseimbangan baru sehingga proses price discovery menjadi lebih optimal.

“Kasus GOTO menjadi salah satu contoh. Saham GOTO tertahan di level Rp50 sejak Mei 2026 sehingga likuiditasnya menurun dan kemudian dikeluarkan dari indeks MSCI karena persoalan index replicability,” ujar Budi sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ia melanjutkan bahwa apabila harga saham dapat turun ke bawah Rp50, transaksi transaksi dapat kembali berlangsung pada harga keseimbangan yang baru. Lewat aturan ini, manfaat utamanya adalah perbaikan proses price discovery serta potensi peningkatan likuiditas.

Budi menjelaskan bahwa bagi investor ritel, penghapusan batas tersebut menghadirkan manfaat sekaligus memperbesar potensi risiko.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index