Harga CPO Turun 0,86 Persen Tertekan Minyak Nabati Dalian

Harga CPO Turun 0,86 Persen Tertekan Minyak Nabati Dalian
Ilustrasi minyak sawit (Sumber : NET)

JAKARTA – Harga minyak sawit (CPO) mengalami penurunan pada Selasa (21/7/2026), sejalan dengan pelemahan harga minyak nabati di Bursa Dalian dan tertekan oleh turunnya harga minyak mentah.

Kontrak acuan CPO pengiriman Oktober di Bursa Malaysia Derivatives Exchange terkoreksi 40 ringgit atau 0,86 persen menjadi 4.603 ringgit per ton pada pukul 15.27 WIB.

"Pasar CPO hari ini dibuka lebih rendah, mengikuti pelemahan minyak nabati pesaing selama jam perdagangan Asia. Kontrak acuan bergerak dalam kisaran sempit, tetapi masih mampu bertahan di atas level psikologis penting 4.600 ringgit," kata seorang trader yang berbasis di Kuala Lumpur sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di Bursa Dalian, kontrak minyak kedelai yang paling aktif tergerus 0,45 persen, sedangkan kontrak minyak sawit melemah 0,79 persen. Di saat yang sama, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) mengalami koreksi tipis 0,07 persen.

Pergerakan harga CPO pada umumnya mengekor harga minyak nabati lainnya lantaran saling bersaing memperebutkan pangsa pasar minyak nabati global. Di samping itu, harga minyak mentah dunia juga turut menunjukkan pelemahan.

Para pelaku pasar terus memantau kabar terkait upaya mediasi antara Amerika Serikat dan Iran di tengah konflik terbaru kedua negara, serta ancaman blokade laut terhadap Arab Saudi oleh kelompok Houthi di Yaman. Pelemahan pada harga minyak mentah menjadikan CPO kurang menarik sebagai bahan baku biodiesel.

Mengenai kinerja ekspor, pengiriman produk minyak sawit Malaysia periode 1–20 Juli tercatat turun 0,9 persen dibandingkan periode yang sama bulan sebelumnya menurut data AmSpec Agri Malaysia. Namun, Intertek Testing Services mencatat peningkatan ekspor sebesar 4,1 persen.

Aspek prospek produksi turut menjadi perhatian utama para pelaku pasar saat ini. Departemen Meteorologi Malaysia memperkirakan negara tersebut akan menghadapi suhu tertinggi sepanjang sejarah pada tahun depan seiring menguatnya fenomena El Niño.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index