Harga Minyak Brent Tembus US$90 Per Barel Akibat Eskalasi AS dan Iran

Harga Minyak Brent Tembus US$90 Per Barel Akibat Eskalasi AS dan Iran
Ilustrasi Sejumlah kendaraan antre untuk melakukan pengisian bahan bakar minyak (BBM) (Sumber : NET)

JAKARTA – Harga minyak dunia mengalami penguatan pada perdagangan Senin (20/7/2026) karena adanya kekhawatiran pasar terhadap risiko terganggunya pasokan energi di Selat Hormuz akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Berdasarkan data CNBC International, harga minyak Brent untuk kontrak pengiriman September naik sekitar 2,54 persen hingga menembus level US$90 per barel. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Agustus menguat sekitar 2,29 persen menjadi US$84,38 per barel.

Peningkatan harga minyak ini dipicu oleh tensi geopolitik yang kian memanas setelah militer AS mengonfirmasi tewasnya seorang personel militer dalam operasi terbaru. Selain itu, tim investigasi menemukan jenazah yang belum teridentifikasi di dekat lokasi serangan Iran di Yordania yang sebelumnya menewaskan dua personel militer AS serta menyebabkan satu lainnya hilang.

Di sisi lain, militer AS terus melancarkan serangan terhadap target-target di Iran selama sembilan malam berturut-turut. Komando Pusat Amerika Serikat (U.S. Central Command/Centcom) menjelaskan bahwa operasi tersebut bertujuan untuk melemahkan kemampuan militer Iran yang kerap digunakan untuk menyerang kapal komersial dan pelaut sipil di Selat Hormuz.

"Serangan akan terus dilakukan untuk mengurangi kemampuan militer Iran yang digunakan dalam serangan terhadap kapal komersial dan pelaut sipil yang melintasi Selat Hormuz," sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Eskalasi terbaru ini memicu kekhawatiran terhadap keamanan Selat Hormuz yang merupakan jalur pelayaran strategis dan rute pengiriman minyak paling penting di dunia. Dalam operasi ini, Centcom menargetkan sistem pengawasan pantai, pertahanan udara, aset maritim, serta fasilitas penyimpanan rudal dan pesawat nirawak milik Iran.

Militer AS turut menyasar unit-unit Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) yang dikaitkan dengan serangan terhadap personel militer AS di Yordania pada 17 Juli lalu.

Analis Quantum Strategy, David Roche, menilai bahwa pasar minyak global semakin ketat karena ekspor minyak dari kawasan Teluk terus menyusut. Dalam catatan tertanggal Senin, Roche memproyeksikan bahwa penyusutan persediaan minyak akan semakin terasa mulai September jika kondisi ini berlanjut, termasuk dampaknya bagi pasar energi Amerika Serikat.

"Pada laju penurunan seperti ini, persediaan minyak akan menjadi sangat ketat pada September dan bahkan Amerika Serikat akan mulai mengalami tekanan. Kondisi itu akan meningkatkan tekanan politik terhadap Presiden Donald Trump. Kami tetap merekomendasikan posisi beli pada Brent dengan target harga US$95 hingga US$105 per barel," sebagaimana dilansir dari berita sumber

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index