FINANSIALINSIGHT.COM — Ketua Umum Kadin DKI Jakarta, Diana Dewi, mengungkapkan gejolak geopolitik Timur Tengah memukul sektor manufaktur nasional lewat kenaikan harga bahan baku dan gangguan rantai pasok. Tekanan biaya produksi itu menggerus margin pengusaha, sementara harga jual produk sulit dinaikkan karena daya beli masyarakat dan persaingan pasar yang ketat.
Diana Dewi menyampaikan hal tersebut dalam dialog dengan Andi Shalini di program Squawk Box, CNBC Indonesia, Rabu (16/09/2026). Ia menilai dampak konflik di Timur Tengah tidak hanya terasa di sektor energi, tetapi merembet ke industri pengolahan.
Kenaikan harga bahan baku dan terganggunya rantai pasok membuat biaya produksi melonjak. Di saat yang sama, pengusaha tidak leluasa menaikkan harga jual karena terkait daya beli dan tingginya persaingan pasar.
Produksi dan Tenaga Kerja Mulai Dikurangi
Tekanan dari dua sisi itu membuat pelaku usaha menahan ekspansi. Langkah yang diambil antara lain mengurangi volume produksi hingga menyesuaikan jumlah tenaga kerja.
Menurut Diana, kondisi ini menunjukkan masalahnya bukan sekadar biaya, melainkan juga lemahnya penyerapan pasar. Pengusaha berharap pemerintah mendorong daya beli agar masyarakat mampu menyerap produksi dengan penyesuaian harga pasar.
Sektor Otomotif dan Logam Butuh Perhatian Khusus
Diana menyoroti sektor kendaraan bermotor dan sektor logam yang mengalami kontraksi. Kedua sektor itu dinilai membutuhkan bantuan pemerintah agar tidak semakin tertekan.
Bantuan yang diminta bukan hanya insentif permintaan, tetapi juga kemudahan pembiayaan bagi pelaku industri. Akses kredit yang lancar dianggap kunci untuk mendukung ekspansi bisnis di tengah ketidakpastian global.
Permintaan Kadin DKI ini menjadi sinyal bahwa dorongan kredit dianggap belum merata. Selama ini pembiayaan perbankan dinilai lebih banyak mengalir ke kredit konsumtif dibandingkan kredit modal kerja sektor manufaktur.
Dampak ke Pelaku Usaha dan Pekerja
Jika tekanan berlanjut, pengurangan produksi berpotensi menular ke sektor lain yang menjadi pemasok bahan baku. Pekerja di lini produksi menjadi kelompok paling rentan terdampak.
Bagi pelaku industri kecil dan menengah, kombinasi biaya bahan baku yang mahal dan akses kredit yang terbatas membuat ruang bertahan semakin sempit. Mereka membutuhkan kepastian pasokan sekaligus biaya modal yang lebih ringan.
Pemerintah menghadapi ujian untuk menyeimbangkan permintaan insentif fiskal dengan upaya menjaga daya beli. Tanpa dorongan permintaan, kemudahan kredit saja dinilai belum cukup memulihkan gairah industri.