JAKARTA – Pergerakan emiten TEBE yang terus melanjutkan penguatannya patut untuk disimak. Lonjakan harga saham TEBE ini tidak lepas dari posisinya yang menjadi bagian dari ekosistem bisnis Haji Isam.
Sejak perpindahan pengendali di tahun 2025, saham TEBE berulang kali mencuri perhatian saat saham yang terafiliasi dengan Jhonlin Group mengalami pergerakan signifikan.
Pada Agustus 2026, saham TEBE sempat melambung tinggi hingga membuat Bursa Efek Indonesia memasukkannya ke dalam status Unusual Market Activity (UMA).
Saham TEBE mencatatkan lonjakan yang tergolong signifikan pada 17 September 2026. Berdasarkan data perdagangan historis, harga saham TEBE naik dari Rp1.655 menjadi Rp2.000 per saham, atau melambung sekitar 20,85 persen.
Data IPOT menunjukkan pergerakan harga intraday berada di rentang Rp1.650 sampai Rp2.000, dengan volume transaksi mencapai kisaran 34,37 juta saham.
Pada sesi pertama perdagangan Jumat (18/9), TEBE kembali melonjak di kisaran 13-15 persen menuju Rp2.250 per saham.
Lonjakan ini meneruskan tren volatilitas pergerakan harga TEBE selama kurun beberapa pekan terakhir.
PT Dana Brata Luhur Tbk merupakan emiten yang fokus menjalankan bisnis infrastruktur serta logistik pertambangan batu bara. Perseroan ini resmi melantai di BEI menggunakan kode saham TEBE sejak tahun 2019.
Model bisnis TEBE tidak sama dengan emiten tambang batu bara yang bergantung penuh pada produksi dan penjualan batu bara secara langsung. TEBE menyediakan sarana infrastruktur penunjang rantai distribusi batu bara, mulai dari jalan angkut, stockpile, hingga terminal batu bara.
TEBE mengoperasikan bisnis penunjang infrastruktur pertambangan batu bara. Melalui anak perusahaannya, perseroan menyediakan sarana dari lokasi pertambangan sampai ke pelabuhan.
Jalan angkut atau hauling road sepanjang kurang lebih 46 kilometer menjadi salah satu aset vital milik TEBE. Fasilitas jalan ini menghubungkan area pertambangan menuju stockpile hingga terminal batu bara.
Jalan khusus tersebut menjadi sarana penting dalam rantai logistik karena mempermudah pengiriman batu bara dari titik produksi menuju area penumpukan dan pelabuhan.
Fasilitas stockpile juga disediakan oleh TEBE guna menunjang proses pengumpulan dan pengelolaan batu bara sebelum didistribusikan melalui terminal.
Perseroan mengungkapkan bahwa layanan bisnisnya menjangkau produsen batu bara di area Talenta, yang berada di wilayah dengan potensi sumber daya batu bara melebihi 800 juta metrik ton.
TEBE mengelola terminal batu bara yang berlokasi di Sungai Barito. Tempat tersebut ditunjang empat jetty serta memiliki river frontage sepanjang kisaran 1.000 meter.
Terminal ini sanggup menampung tongkang berukuran hingga 330 kaki. Infrastruktur penunjang seperti conveyor, hopper, magnetic separator, serta sarana pendukung pemuatan batu bara lainnya juga tersedia di fasilitas ini.
Pengembangan bisnis jasa kepelabuhanan turut dijalankan TEBE lewat anak usahanya, PT Pelabuhan Talenta Bumi.
Berdasarkan laporan tahunan, PT Pelabuhan Talenta Bumi telah mendapatkan penetapan sebagai Badan Usaha Pelabuhan (BUP) lewat Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 166 Tahun 2024.
Penetapan status tersebut memberikan peluang bagi terminal untuk mengelola komoditas di luar batu bara, seperti CPO, semen, hingga kontainer.
Peta kepemilikan saham TEBE mengalami perombakan besar pada tahun 2025. PT Prima Mineral Utama yang mulanya menggenggam 39,31 persen saham TEBE melepas seluruh kepemilikannya sebanyak 505,18 juta saham di harga Rp500 per saham pada 18 Maret 2025.
Seluruh saham tersebut kemudian dialihkan ke PT Dua Samudera Perkasa. Mengutip laporan registrasi pemegang efek periode Juli 2026, PT Dua Samudera Perkasa menguasai 988,34 juta saham TEBE atau setara 76,91 persen.
Pemegang saham publik memegang porsi sekitar 23,08 persen, sementara Direktur Utama TEBE GT Denny Ramdhani mengantongi 150.000 saham atau setara 0,01 persen.
Keterikatan TEBE dengan Haji Isam terutama berasal dari kepemilikan PT Dua Samudera Perkasa (DSP). PT Dua Samudera Perkasa merupakan entitas yang memborong 39,31 persen saham TEBE milik PT Prima Mineral Utama pada Maret 2025.
Pascatransaksi dan perubahan struktur kepemilikan tersebut, Dua Samudera Perkasa menjadi pemegang saham pengendali TEBE dengan porsi 76,91 persen.
Sejumlah pemberitaan media menyebutkan bahwa PT Dua Samudera Perkasa merupakan entitas bisnis milik atau yang terafiliasi dengan Haji Isam.
Haji Isam memegang 49 persen saham PT Dua Samudera Perkasa dan menempatkan dirinya sebagai ultimate beneficial owner dari TEBE.
Keterikatan tersebut juga tercermin dari susunan manajemen TEBE. Direktur Utama H. GT Denny Ramdhani tercatat menjabat di beberapa posisi pada perusahaan yang terhubung dalam jaringan bisnis Jhonlin, salah satunya sebagai Direktur PT Jhonlin Air Transport.
Berkat susunan struktur tersebut, TEBE kerap dikategorikan sebagai salah satu emiten yang masuk ke dalam ekosistem bisnis Haji Isam bersama beberapa emiten terbuka lainnya.
Merujuk data BEI, TEBE mencatatkan pendapatan sebesar Rp176,9 miliar pada semester I 2026, naik 3,5 persen dari Rp170,9 miliar pada periode yang sama di tahun sebelumnya.
Kendati demikian, kenaikan pendapatan ini belum diiringi oleh peningkatan raihan laba. Laba kotor mengalami penurunan 48,8 persen menjadi Rp26,8 miliar, sedangkan EBITDA tergerus 22,5 persen menjadi Rp44,9 miliar.
Perolehan laba bersih TEBE pada semester I 2026 berada di angka Rp20 miliar, terkoreksi 27,5 persen dibanding Rp27,6 miliar pada semester I 2025.
Ditinjau dari posisi neraca, laporan semester I 2026 mencatatkan ketersediaan kas sebesar Rp433,4 miliar, total aset Rp1,09 triliun, serta total ekuitas Rp1,04 triliun.
Laporan keuangan tersebut juga memperlihatkan tidak adanya liabilitas atau utang jangka pendek maupun jangka panjang dalam posisi neraca yang dilaporkan.