JAKARTA – PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) semakin gencar melakukan ekspansi guna memperluas kapasitas layanan kesehatan. Langkah ini dilakukan dengan menyiapkan pembukaan 3 rumah sakit baru hingga kuartal I-2027.
Ekspansi tersebut bakal menambah sekitar 400 tempat tidur. Kehadiran fasilitas ini menjadi salah satu penopang pertumbuhan kinerja MIKA ke depan.
Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama menilai penambahan 3 rumah sakit tersebut sangat strategis untuk mendongkrak kapasitas dan volume pasien. Sebanyak 2 rumah sakit mulai beroperasi di Jabodetabek pada kuartal IV-2026, sedangkan 1 rumah sakit di Jawa Timur beroperasi pada kuartal I-2027.
“Penambahan tiga rumah sakit dengan sekitar 400 tempat tidur cukup strategis untuk memperbesar kapasitas dan volume pasien MIKA,” kata Elandry sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Dampak penuh dari ekspansi ini diperkirakan baru terlihat sepanjang 2027. Hal tersebut dikarenakan rumah sakit baru memerlukan waktu untuk meningkatkan tingkat utilisasinya.
Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menyebutkan bahwa tambahan kapasitas 400 tempat tidur itu setara dengan 47 persen dari total kapasitas eksisting MIKA sebanyak 857 tempat tidur. Penambahan ini berpotensi memberikan lonjakan volume pasien secara signifikan.
“Signifikan mengingat penambahan 400 bed setara sekitar 47% dari total kapasitas eksisting 857 bed, mendekati potensi tambahan hampir setengah dari basis kapasitas saat ini,” kata Abida sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Masing-masing dari 2 rumah sakit di Jabodetabek berkapasitas sekitar 200 tempat tidur dan akan beroperasi kuartal IV-2026. Sementara itu, 1 rumah sakit di Jawa Timur baru menyusul pada kuartal I-2027.
Abida menjelaskan bahwa proses akuisisi pasien dapat berjalan lebih cepat karena lokasi yang strategis serta kuatnya brand recognition MIKA. Meski begitu, peningkatan okupansi tetap tidak bisa berlangsung secara instan.
Elandry menambahkan bahwa ekspansi ini belum tentu langsung membawa perbaikan pada gross margin di tahap awal. Rumah sakit baru umumnya mendatangkan tambahan biaya operasional ketika tingkat utilisasi belum optimal.
“Dari sisi gross margin, ekspansi belum tentu langsung memberikan perbaikan karena pada fase awal RS baru biasanya membawa tambahan operating cost dan utilisasinya belum optimal,” ujar Elandry sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Namun, margin perusahaan berpeluang membaik secara bertahap seiring meningkatnya utilisasi. Kontribusi dari layanan dengan kompleksitas lebih tinggi yang berpendapatan baik juga turut mendukung pemulihan margin.
Abida juga menilai ekspansi MIKA berpotensi memperkuat pemulihan gross margin secara struktural. Dominasi pasien swasta telah mencapai 90 persen pada semester I-2026, sedangkan porsi pasien asuransi naik menjadi 62 persen.
“Fokus ekspansi pada layanan spesialis dan kasus klinis kompleks yang bermargin lebih tinggi memperkuat tesis bahwa RS baru akan memperbaiki bauran pendapatan, bukan sekadar menambah volume kuantitas semata,” ujar Abida sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Saat ini, EBITDA margin MIKA berada di angka 38,3 persen dan net profit margin berada pada level 26,3 persen.
Elandry memperkirakan kinerja MIKA hingga akhir 2026 masih berpotensi tumbuh positif. Kontribusi rumah sakit baru diprediksi lebih optimal pada 2027.
“Momentum pertumbuhan lebih menarik untuk dicermati pada 2027, ketika tambahan kapasitas mulai memberikan kontribusi lebih penuh,” jelas Elandry sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Pada semester I-2026, pendapatan MIKA tumbuh sekitar 8 persen secara tahunan menjadi Rp2,77 triliun. Laba bersih juga tercatat naik sekitar 7 persen secara tahunan menjadi Rp684 miliar.
Faktor utama yang perlu dicermati antara lain peningkatan utilisasi tempat tidur, pertumbuhan pasien swasta dan asuransi, serta kenaikan layanan spesialis. Posisi kas MIKA yang kuat membuat proses ekspansi relatif lebih terkendali.
Sejumlah risiko tetap harus diwaspadai, seperti lambatnya ramp-up rumah sakit baru, kenaikan biaya medis, tekanan rupiah, dan persaingan industri. Secara fundamental, saham MIKA dinilai menarik dengan karakter defensif.
Elandry memberikan rekomendasi Buy on Weakness untuk saham MIKA dengan target harga indikatif Rp 3.000 hingga Rp 3.200 per saham. Tingkat kecepatan utilisasi serta pemulihan margin menjadi indikator utama dalam mengonfirmasi prospek MIKA.