JAKARTA – Kenaikan imbal hasil atau yield Treasury Amerika Serikat (AS) ke level tinggi belum mampu mengguncang reli pasar saham. Namun, investor mulai mencermati apakah lonjakan yield tersebut pada akhirnya akan menjadi tekanan yang lebih besar bagi saham.
Yield Treasury AS tenor 10 tahun yang menjadi acuan naik ke 4,97%, sebagaimana dilansir dari berita sumber. Kenaikan tersebut memperpanjang aksi jual di pasar obligasi yang telah berlangsung selama berbulan-bulan.
Tekanan di pasar obligasi dipicu oleh sejumlah faktor, mulai dari kenaikan harga minyak, inflasi yang masih sulit turun, tingginya kebutuhan pemerintah untuk melakukan pembiayaan utang, hingga ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga pada level tinggi lebih lama. Aksi jual obligasi bahkan berlanjut setelah Departemen Keuangan AS meningkatkan hingga tiga kali lipat nilai salah satu program pembelian kembali atau bond buyback jangka panjang.
Meski yield Treasury meningkat ke level yang biasanya dapat memberikan tekanan terhadap saham, ekonom TS Lombard menilai kondisi tersebut belum cukup untuk mengakhiri reli pasar saham. Ekonom TS Lombard Freya Beamish dan Davide Oneglia mengatakan kenaikan yield saat ini belum menjadi ancaman bagi pasar ekuitas, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Menurut keduanya, kenaikan yield terbaru tidak didorong oleh kondisi ekonomi yang terlalu panas, yang biasanya menjadi pemicu berakhirnya tren bullish di pasar saham, sebagaimana dilansir dari berita sumber. Sebaliknya, kenaikan tersebut lebih mencerminkan guncangan dari sisi pasokan dan perubahan yang terjadi di pasar Treasury.
Salah satu faktor yang membuat saham tetap bertahan adalah lonjakan investasi pada sektor kecerdasan buatan (AI). Perusahaan teknologi masih menggelontorkan investasi besar untuk membangun pusat data dan infrastruktur AI, yang menciptakan siklus pendorong pertumbuhan investasi dan permintaan.
Namun, pertanyaan jangka panjangnya adalah apakah peningkatan investasi tersebut akan meluas ke sektor di luar teknologi. Saat ini, sebagian besar permintaan masih berasal dari industri teknologi itu sendiri.
Jika perusahaan di luar sektor teknologi tidak mulai meningkatkan belanja untuk AI atau model AI terkemuka kehilangan keunggulan kompetitif, pertumbuhan ekonomi pada akhirnya berpotensi melambat, termasuk bagi perusahaan teknologi berskala besar.
Ekonom TS Lombard menilai investor tidak hanya perlu memperhatikan pergerakan suku bunga, tetapi juga tingkat utang yang dihimpun perusahaan. Menurut mereka, peningkatan kredit dan leverage perlu menjadi perhatian karena akumulasi utang berpotensi meningkat terlalu jauh, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Mereka juga menilai kondisi tersebut hampir tidak terhindarkan, terutama dengan kebijakan The Fed saat ini. Ketua The Fed Kevin Warsh disebut menunjukkan kecenderungan untuk menaikkan suku bunga apabila diperlukan, yang berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap perusahaan dengan tingkat leverage tinggi.
TS Lombard menilai tidak ada satu level yield Treasury tertentu yang secara otomatis akan memicu aksi jual besar-besaran di pasar saham. Namun, ekonom tersebut memperkirakan yield Treasury AS tenor 10 tahun seharusnya berada setidaknya di level 5% dalam kondisi ekonomi saat ini.
Kenaikan yield yang bertahan tinggi juga membuat valuasi saham menjadi semakin sulit dipertahankan. Dengan kata lain, semakin tinggi imbal hasil obligasi, semakin besar pula tantangan bagi saham untuk tetap menawarkan daya tarik yang kompetitif kepada investor.
Untuk saat ini, pasar saham masih mampu menyerap kenaikan yield Treasury. Namun, investor tetap perlu mencermati apakah tekanan dari pasar obligasi mulai merambat ke biaya pendanaan, leverage perusahaan, dan pertumbuhan investasi.
Perkembangan tersebut akan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan apakah reli pasar saham AS dapat terus berlanjut atau mulai menghadapi tekanan yang lebih besar.