Harga Minyak Tembus USD107 Per Barel, Saham ENRG dan MEDC Menguat

Jumat, 11 September 2026 | 17:31:00 WIB
Ilustrasi saham migas (FOTO : NET)

JAKARTA – Saham sektor minyak dan gas (migas) menguat pada Jumat (11/9/2026), seiring lonjakan harga minyak dunia yang menembus di atas USD100 per barel di tengah meningkatnya risiko gangguan pasokan akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 09.08 WIB, saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) menguat 3,42 persen ke Rp1.505 per unit.

Penguatan berikutnya dicatat PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) sebesar 2,94 persen dan PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) sebesar 1,91 persen.

Saham PT Elnusa Tbk (ELSA) tumbuh 1,37 persen, PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) terapresiasi 1,23 persen, sedangkan PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) mendaki 0,65 persen.

Penguatan saham migas terjadi setelah harga minyak melonjak lebih dari 6 persen pada Kamis (10/9), dengan dua harga acuan utama menembus USD100 per barel.

Lonjakan serangan terhadap kapal sejak perang Iran dimulai memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap gangguan lebih lanjut pada pasokan minyak yang sudah ketat.

Harga minyak mentah Brent untuk pengiriman terdekat ditutup melesat 6,34 persen menjadi USD107,63 per barel.

Sementara itu, harga minyak mentah Amerika Serikat (AS), West Texas Intermediate (WTI), melonjak 6,69 persen menjadi USD102,48 per barel.

Kedua harga acuan tersebut mencapai level tertinggi sejak 19 Mei sekaligus mencatat kenaikan harian terbesar dalam hampir dua bulan.

Dari sisi geopolitik, kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran mengambil alih kendali atas Pelabuhan Mocha di Yaman pada Kamis.

Langkah tersebut meningkatkan ancaman terhadap lalu lintas pelayaran di Laut Merah.

Aktivitas pelayaran di kawasan Teluk juga masih terbatas melalui Selat Hormuz, di tengah meningkatnya serangan terhadap kapal tanker dalam beberapa hari terakhir.

Kepala Pengembangan Bisnis XS.com Simon-Peter Massabni mengatakan, serangan dari Yaman terhadap fasilitas energi Arab Saudi menambah sumber risiko baru bagi pasar minyak.

Kekhawatiran pasar kini tidak lagi hanya berpusat pada Iran dan Selat Hormuz.

"Ancaman tersebut tidak lagi terbatas pada satu titik sempit, tetapi kini mencakup potensi gangguan yang menyebar ke jalur ekspor regional, fasilitas produksi minyak, serta infrastruktur energi lainnya," kata Massabni sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Presiden AS Donald Trump juga memperingatkan bahwa AS dapat menyerang Pickaxe Mountain di Iran, yang berada di dekat fasilitas pengayaan uranium Natanz yang mengalami kerusakan parah.

Trump mengatakan perang kemungkinan berlangsung hingga melewati pemilihan umum paruh waktu AS pada November.

Kondisi tersebut membuat pasar minyak menghadapi risiko gangguan pasokan yang semakin luas, sekaligus menopang sentimen terhadap saham-saham migas di Bursa Efek Indonesia.

Tags

Terkini