JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bakal bergerak volatil pada sesi perdagangan Jumat (11/9/2026).
Potensi tekanan dari sentimen global diperkirakan dapat kembali menghambat pergerakan pasar saham, khususnya apabila lonjakan harga minyak bumi dan yield US Treasury berlanjut.
Pada sesi perdagangan Kamis (10/9), IHSG mengalami penurunan sebesar 1,33% menuju posisi 6.589,34.
Kondisi pelemahan ini sejalan dengan tren mayoritas bursa saham dunia dan kawasan Asia yang merosot ke zona merah.
Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda berpandangan IHSG masih menyimpan kecenderungan untuk melemah.
Laju gerak indeks bakal terpengaruh secara signifikan oleh dinamika sentimen global, terutama pergerakan harga minyak mentah dan pasar obligasi Amerika Serikat (AS).
Konflik kawasan Timur Tengah yang meluncurkan harga minyak dunia mendekati tingkat US$ 100 per barel memperbesar kecemasan publik atas lonjakan inflasi.
Situasi tersebut dinilai berpeluang mempersempit ruang bagi pelonggaran kebijakan moneter.
"Kenaikan harga minyak meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi sekaligus mempersempit ruang pelonggaran moneter," ujar Reza, Kamis (10/9) sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Tekanan tambahan hadir akibat merangkaknya yield US Treasury tenor 10 tahun hingga menyentuh kisaran 4,84%.
Penguatan imbal hasil obligasi AS menjadikan instrumen investasi berbasis dolar AS terlihat lebih memikat, sehingga sanggup menekan minat para pemodal pada instrumen berisiko seperti pasar saham.
Ditinjau dari indikator teknikal, Reza mencermati posisi IHSG yang kini kembali merosot ke bawah ambang batas 6.600.
Apabila indeks belum sanggup kembali menembus dan bertahan di atas ambang batas tersebut, ancaman koreksi lebih dalam masih terbuka lebar.
Bila skenario itu terjadi, pergerakan IHSG berpotensi melemah menguji rentang 6.475-6.375.
Sementara itu, batas 6.600 akan berperan sebagai resistance terdekat, diikuti tingkat 6.700 selanjutnya.
Di sisi lain, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana turut menilai bahwa pelemahan IHSG pada sesi sebelumnya disumbang oleh penurunan di beberapa sektor, terkhusus sektor energi serta keuangan.
Sejumlah saham dari jajaran perbankan berkapitalisasi besar juga terpantau terkoreksi cukup signifikan.
Kendati demikian, Herditya memproyeksikan masih ada peluang bagi IHSG untuk berbalik menguat pada sesi perdagangan Jumat.
Ia menetapkan titik 6.576 sebagai area support dan batas 6.616 sebagai resistance.
Arah pergerakan IHSG berikutnya bakal bergantung pada daya tahan pasar dalam meredam tekanan eksternal.
Para pemodal juga dipastikan bakal memantau publikasi data inflasi AS atau US Consumer Price Index (CPI) periode Agustus 2026 pada Jumat waktu setempat.
Di samping rilisan data inflasi AS, pergerakan nilai tukar rupiah serta komoditas utama, utamanya minyak mentah dan batu bara, menjadi variabel penting yang patut diperhatikan investor.
Menghadapi perdagangan Jumat, Herditya menyarankan investor untuk mencermati pergerakan saham CDIA pada rentang Rp 730-Rp 760 per saham, saham UNTR pada kisaran Rp 27.400-Rp 27.925 per saham, serta saham DEWA di area Rp 496-Rp 530 per saham.