OJK Catat NAB Reksadana Capai Rp 652,88 Triliun per Agustus 2026

Selasa, 08 September 2026 | 19:53:45 WIB
Ilustrasi OJK mencatat NAB reksadana naik (FOTO : NET)

JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat nilai aktiva bersih (NAB) reksadana naik tipis 0,05% secara bulanan menjadi Rp 652,88 triliun per Agustus 2026. Prospek reksadana diproyeksi tetap menarik untuk dicermati oleh investor.

Reksadana pendapatan tetap masih mendominasi dari sisi jumlah dengan porsi 33,35% dari total NAB reksadana. Posisi tersebut diikuti reksadana pasar uang sebesar 19,58%, reksadana saham 10,61%, serta reksadana campuran 5,66%.

Namun, reksadana saham berhasil mencetak return tertinggi dibandingkan jenis reksadana lainnya dari segi hasil investasi. Data Infovesta per 31 Agustus 2026 menunjukkan sepuluh produk reksadana saham terbaik mencatat return berkisar 7,15% - 13,51% secara bulanan.

Sepuluh produk reksadana campuran terbaik membukukan return antara 5,31% hingga 11,77%. Sementara itu, sepuluh reksadana pendapatan tetap terbaik mengantongi return 2,33% sampai 3,57%, dan sepuluh reksadana pasar uang terbaik mencetak return 0,56% hingga 1,55% secara bulanan.

Head of Equity PT BNP Paribas Asset Management, Amica Darmawan, melihat prospek pertumbuhan dana kelolaan reksadana pada semester II-2026 tetap positif. Penurunan dana kelolaan pada semester pertama lebih dipengaruhi koreksi pasar saham dan obligasi, sedangkan ketahanan dana kelolaan mengindikasikan minat investor dan net subscription masih relatif terjaga.

“Secara khusus, kami melihat reksadana saham, baik domestik maupun global, berpotensi menjadi salah satu produk unggulan hingga akhir tahun,” ujar Amica sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Amica menilai koreksi tajam pada sejumlah saham domestik sepanjang tahun ini membuat valuasi dan profil risk-reward menjadi lebih menarik untuk akumulasi bertahap. Kombinasi valuasi menarik di pasar domestik dan peluang pertumbuhan struktural di pasar global dapat meningkatkan minat investor terhadap reksadana saham pada semester II-2026.

Amica menuturkan bahwa kinerja reksadana saham hingga akhir tahun akan dipengaruhi oleh sejumlah faktor global maupun domestik. Investor perlu mencermati arah kebijakan suku bunga bank sentral seperti The Fed, ketidakpastian konflik Timur Tengah, serta perkembangan ekonomi global dari sisi global.

“Sementara dari sisi domestik, fokus pasar akan tertuju pada kepastian kebijakan domestik, tingkat inflasi, daya beli masyarakat, pergerakan nilai tukar, serta perkembangan laba emiten pada semester kedua tahun ini,” jelas Amica sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Analis Mirae Asset Sekuritas, Novani Karina Saputri, menilai risk-reward aset domestik membaik dari sisi rupiah dan foreign flow, tetapi memburuk dari sisi inflasi dan global rates. Hal ini membuat strategi portofolio lebih tepat diarahkan pada balanced selective risk taking daripada aggressive risk-on.

Reksadana pasar uang (RDPU) dinilai tetap berfungsi sebagai liquidity anchor, meskipun forward return berpotensi mengalami normalisasi apabila Bank Indonesia mulai menurunkan biaya likuiditas. Reksadana pendapatan tetap juga kembali lebih menarik setelah yield SBN tenor 10 tahun naik ke sekitar 7,11%, dengan preferensi tetap pada short-to-medium duration secara bertahap.

Foreign net buy sebesar Rp 2,30 triliun dan kenaikan IHSG sebesar 1,82% secara mingguan memperkuat alasan mempertahankan exposure pada fund berbasis saham fundamental berkualitas, khususnya large-cap liquid names.

“Secara benchmark dan risk-adjusted, fixed income kembali menawarkan entry yield yang lebih baik, sementara equity memiliki upside lebih besar tetapi dispersion dan volatility juga meningkat,” ucap Novani sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Novani mengatakan untuk investor moderat, indikasi alokasi portofolio yang dapat dipertimbangkan adalah reksadana pasar uang sebesar 35%, reksadana pendapatan tetap 40%, dan reksadana saham 25%. Penyesuaian porsi reksadana saham tersebut dilakukan karena kualitas foreign flow membaik, bukan semata-mata karena momentum IHSG.

Tags

Terkini