Asing Jual Saham Rp95,8 Triliun, IHSG Dinilai Masih dalam Fase Bullish

Senin, 07 September 2026 | 17:35:14 WIB
Ilustrasi investor asing (FOTO : NET)

JAKARTA – Tekanan jual investor asing hingga saat ini masih memberikan bayangan pada Indeks Harga Saham Gambungan (IHSG). Secara year to date (YTD), investor asing mencatatkan jual bersih atau net sell mencapai Rp95,80 triliun di pasar saham domestik.

Pada transaksi Jumat (4/9/2026), investor asing kembali melakukan net sell sebesar Rp317,01 miliar. Aliran dana asing tersebut menjadi sentimen penting yang perlu diperhatikan investor karena terus menekan pasar saham domestik.

Meskipun begitu, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menganggap kondisi teknikal IHSG masih positif. Menurutnya, pergerakan IHSG tetap berada dalam fase bullish momentum serta membentuk tren kenaikan (uptrend).

Hal ini menandakan bahwa aksi jual investor asing belum merusak struktur teknikal IHSG secara keseluruhan. “Secara teknikal, meskipun terjadi koreksi wajar, pergerakan IHSG berada dalam fase bullish momentum sembari membentuk fase uptrend,” ujar Nafan, Senin (7/9/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Pada penutupan perdagangan Jumat (4/9/2026), IHSG tercatat melemah 31,42 poin atau 0,47 persen ke level 6.636,48 menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI). Nafan menjelaskan bahwa beberapa indikator teknikal tetap memperlihatkan sinyal positif.

Indikator moving average (MA) 20 dan MA 60 masih ada pada posisi bullish crossover. Di sisi lain, indikator Stochastics K_D beserta relative strength index (RSI) turut menampilkan sinyal positif.

Kendati demikian, volume perdagangan terpantau mulai menyusut. Keadaan ini perlu diwaspadai karena menandakan daya dorong penguatan IHSG mulai mereda.

“Berdasarkan indikator, MAs20&60 berada dalam kondisi bullish crossover sementara Stochastics K_D dan RSI menunjukkan sinyal positif. Meskipun demikian, volume mulai mengalami penurunan,” paparnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Nafan memperkirakan IHSG mempunyai area support pada kisaran 6.552 dan 6.453 untuk perdagangan awal pekan. Sementara itu, tingkat resistance berada di posisi 6.695 dan 6.780.

Arah pergerakan IHSG juga bakal dipengaruhi oleh sentimen dari Amerika Serikat (AS). Nafan menyampaikan bahwa investor sedang memperhatikan data ketenagakerjaan AS yang melampaui perkiraan pasar.

Data US nonfarm payrolls edisi Agustus tercatat bertambah 162.000. Angka tersebut melampaui konsensus pasar yang memproyeksikan sekitar 56.000.

Laporan tersebut meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Pasar cemas The Fed bakal melanjutkan kebijakan ketat atau bahkan mengerek suku bunga pada September.

Sentimen itu ikut memicu lonjakan imbal hasil (yield) US Treasury. Yield Treasury tenor 2 tahun menanjak 1,04 persen menjadi 4,379 persen, mendekati rekor tertinggi dalam rentang satu tahun terakhir.

“Hal ini juga membuat yield Treasury, khususnya yield 2-year naik 1,04 persen menjadi 4,379 persen, mendekati level tertinggi dalam sekitar satu tahun,” pungkas dia sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Peningkatan yield US Treasury berpeluang menekan instrumen aset berisiko. Saham di pasar negara berkembang seperti Indonesia ikut menanggung risiko tersebut.

Di tengah tekanan itu, Nafan menganggap IHSG masih ditopang oleh valuasi beberapa saham yang tergolong menarik. Situasi tersebut menciptakan kesempatan aksi bargain hunting bagi para investor.

Peluang itu utamanya terbuka apabila investor asing kembali mengalirkan modalnya ke pasar saham Indonesia setelah aksi lepas saham dalam skala besar. Meski begitu, investor diimbau tetap mewaspadai bermacam-macam faktor risiko.

Faktor-faktor tersebut mencakup pergerakan kurs rupiah, yield US Treasury, aliran dana asing, hingga dinamika geopolitik AS-Iran. Sentimen tersebut bakal memengaruhi risk appetite investor pada awal pekan.

Pasar juga menantikan pengumuman data cadangan devisa Indonesia untuk periode Agustus.

Pelaku pasar cenderung mengambil langkah wait and see mendahului rilis data inflasi AS. Data yang ditunggu-tunggu antara lain Producer Price Index (PPI) pada 10 September serta Consumer Price Index (CPI) pada 11 September.

Kedua indikator itu akan menjadi panduan bagi pasar untuk memprediksi arah kebijakan The Fed pada rapat September. Mempertimbangkan dinamika tersebut, investor disarankan untuk tetap selektif dalam mengambil keputusan investasi.

Strategi yang dapat diterapkan yakni mengumpulkan saham pilihan berfundamental kuat, khususnya yang memiliki valuasi murah. Investor juga bisa mencermati saham yang mulai memperlihatkan indikasi pembalikan arah, sembari menjalankan manajemen risiko secara disiplin.

Tags

Terkini

Teknik Menguleni Adonan Roti Agar Kalis dan Elastis

Sabtu, 19 September 2026 | 01:57:01 WIB

Ide Konten TikTok Affiliate FYP Komisi Besar

Sabtu, 19 September 2026 | 01:47:54 WIB

Rahasia Strategi Copywriting Penutup Video

Sabtu, 19 September 2026 | 01:41:58 WIB

Strategi Pemasaran Konten Visual Estetik

Sabtu, 19 September 2026 | 01:39:01 WIB

Panduan Lengkap Teknik Pembuatan Video Edukasi Efektif

Sabtu, 19 September 2026 | 01:36:01 WIB