Outlook Protelindo Jadi Negatif, Rating Fitch Bertahan di Level BBB

Jumat, 04 September 2026 | 23:06:17 WIB
Ilustrasi protelindo (FOTO : NET)

JAKARTA – Fitch Ratings mempertahankan peringkat jangka panjang mata uang asing PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo) di level BBB. Namun, lembaga pemeringkat tersebut memasang outlook negatif untuk entitas grup Djarum tersebut.

Pada saat yang sama, Fitch Ratings Indonesia mempertahankan Peringkat Nasional Jangka Panjang Protelindo di level AAA(idn) dengan Outlook Stabil. Fitch menyebut Outlook Negatif tersebut terutama mencerminkan Outlook pada peringkat sovereign Indonesia.

Protelindo dinilai memiliki fondasi yang kuat untuk menangkap peluang pertumbuhan dari perkembangan jaringan telekomunikasi di Indonesia. Peluncuran 5G dan fixed-wireless access (FWA) diperkirakan mulai meningkat pada 2027 dan berpotensi mendorong permintaan infrastruktur.

Sebagai penyedia infrastruktur menara terbesar kedua di Indonesia, Protelindo menguasai sekitar 30% pasar. Tiga perusahaan menara terbesar di Indonesia diperkirakan menguasai sekitar 95% total pasar.

Posisi tersebut memberikan keunggulan kompetitif karena operator telekomunikasi semakin mengandalkan perusahaan menara independen. Hal ini terjadi setelah para operator melakukan divestasi aset menara mereka.

Salah satu faktor utama yang menopang rating perusahaan adalah tingginya visibilitas arus kas. Lebih dari 80% pendapatan Protelindo berasal dari kontrak sewa menara dan fiber.

Kontrak tersebut umumnya memiliki tenor sekitar 10 tahun dan tidak dapat dibatalkan sebelum masa berakhir. Selain itu, risiko pasar dan teknologinya tergolong relatif rendah.

Fitch memperkirakan hanya sekitar 1% kontrak yang berakhir setiap tahun dan sebagian besar kemungkinan akan diperpanjang. Tingkat perpanjangan kontrak juga ditopang oleh tingginya biaya perpindahan bagi para pelanggan.

Total pendapatan yang telah dikontrak Protelindo mencapai sekitar Rp 100 triliun per Juni 2026. Angka ini setara dengan sekitar sembilan kali pendapatan perusahaan pada 2025.

"Pendapatan Protelindo sangat dapat diprediksi," sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Permintaan terhadap aset Protelindo diperkirakan kembali menguat seiring stabilnya industri telekomunikasi setelah merger XLSmart. Persaingan yang lebih sehat diperkirakan mendorong operator untuk meningkatkan investasi jaringan.

Lelang spektrum pada pertengahan 2026 juga menetapkan persyaratan cakupan bagi seluruh operator. Ketentuan tersebut berpotensi mendorong investasi infrastruktur telekomunikasi lebih lanjut.

Adopsi FWA juga diperkirakan meningkat karena karakteristik geografis Indonesia. Kondisi ini membuat pembangunan jaringan fiber hingga ke seluruh wilayah tidak selalu praktis.

Meski demikian, pertumbuhan pendapatan Protelindo masih menghadapi sejumlah tekanan. Pertumbuhan pendapatan akan dibatasi oleh tarif sewa menara yang lebih rendah serta pendapatan aktivasi fiber yang melemah.

Margin EBITDA Protelindo diperkirakan turun sekitar 5% menjadi sekitar 74% pada periode 2026-2029. Penurunan ini disebabkan konsolidasi Back Multi Global (BMG) dan PT Remala Abadi (DATA) yang memiliki margin lebih rendah.

Kendati margin tertekan, net leverage Protelindo diperkirakan tetap berada di sekitar 4,0 kali. Hal itu terjadi karena EBITDA absolut masih meningkat seiring konsolidasi bisnis.

Level leverage tersebut dinilai masih memberikan ruang bagi perusahaan untuk meningkatkan belanja modal. Fitch bahkan menilai Protelindo memiliki salah satu margin EBITDA dan metrik leverage terkuat secara global.

Dalam skenario rating Fitch, pendapatan Protelindo diproyeksikan tumbuh 8,5% pada 2026 dan 5% pada 2027. Sementara itu, margin EBITDA diproyeksikan sekitar 74% mulai 2026.

Belanja modal diperkirakan mencapai sekitar 39% dari pendapatan pada 2026 dan 35% mulai 2027. Dividen diperkirakan sekitar Rp1,2 triliun per tahun selama 2026-2029.

Untuk merger dan akuisisi, pengeluaran diperkirakan sekitar Rp 253 miliar pada 2026. Pengeluaran ini mencakup akuisisi saham PT Solusi Tunas Pratama, PT Remala Abadi (DATA), dan joint venture.

Dari sisi likuiditas, posisi Protelindo dinilai memadai pada akhir 2025. Perusahaan memiliki kas siap pakai Rp 633,6 miliar dan fasilitas revolving belum ditarik Rp 15,7 triliun.

Posisi tersebut dibandingkan dengan utang sekitar Rp 15,5 triliun yang jatuh tempo dalam 12 bulan ke depan. Protelindo diperkirakan tetap memiliki akses kuat terhadap pendanaan perbankan maupun pasar modal.

Perusahaan juga dinilai akan tetap berhati-hati dalam membagikan dividen. Langkah ini dilakukan guna mempertahankan kekuatan neraca keuangan.

Terdapat sejumlah faktor yang dapat memicu tindakan negatif terhadap peringkat perusahaan. Salah satunya adalah akuisisi yang didanai utang atau kebijakan pengembalian modal yang lebih agresif.

Penurunan Country Ceiling Indonesia dari level BBB juga dapat menekan peringkat mata uang asing perusahaan. Sebaliknya, perubahan Outlook sovereign Indonesia menjadi Stabil dapat membuka jalan bagi revisi Outlook Protelindo.

Protelindo memiliki profil kredit yang sejalan dengan induknya, PT Sarana Menara Nusantara Tbk (SMN). Namun, perusahaan tetap dinilai secara standalone dengan mempertimbangkan rekam jejak manajemen.

Fitch memperhitungkan bahwa transaksi material dengan pihak berelasi harus memenuhi persyaratan pengungkapan regulator. Transaksi tersebut juga wajib memperoleh persetujuan pemegang saham independen.

Dengan kombinasi posisi pasar dan arus kas yang kuat, Protelindo memiliki fondasi kredit yang solid. Tantangan utamanya adalah menjaga leverage tetap terkendali di tengah ekspansi dan penurunan tarif sewa.

Tags

Terkini