IHSG dan Rupiah Melesat, Pasar Keuangan Indonesia Hijau Lagi

Jumat, 04 September 2026 | 22:38:48 WIB
Ilustrasi pasar saham (FOTO : NET)

JAKARTA – Pasar keuangan Indonesia kompak berakhir di zona hijau. Bursa saham menguat sementara rupiah terapresiasi.

Pasar keuangan Indonesia diharapkan melanjutkan penguatan pada hari ini. Selengkapnya mengenai sentimen pasar keuangan hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat pada perdagangan kemarin, Kamis (3/9/2026).

IHSG ditutup menguat 72,11 poin atau 1,09% ke level 6.667,89. Perdagangan berlangsung ramai dengan nilai transaksi mencapai Rp18,64 triliun, volume 40,79 miliar saham, dan frekuensi 2,5 juta kali.

Hampir seluruh sektor saham ditutup di zona hijau. Penguatan terbesar datang dari sektor properti, konsumer primer, dan barang baku.

Sementara itu, sektor konsumer non-primer dan kesehatan menjadi dua sektor yang terkoreksi.

Sebanyak 402 saham menguat, 213 melemah dan 180 stagnan.

Sejumlah saham berkapitalisasi besar turut menopang laju IHSG, di antaranya PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Astra International Tbk (ASII), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI).

Penguatan IHSG juga dibarengi derasnya aliran modal asing. Investor asing membukukan net foreign buy Rp1,07 triliun di seluruh pasar sepanjang perdagangan kemarin.

Bank Mandiri menjadi saham yang paling banyak diborong asing, dengan net buy mencapai Rp471,38 miliar dari total transaksi asing Rp1,04 triliun.

Saham bank pelat merah lainnya, BBNI, juga masuk jajaran teratas incaran asing. BBNI mencatat net buy Rp87,40 miliar, dengan total transaksi asing mencapai Rp176,42 miliar.

Selain bank BUMN, asing turut mengakumulasi sejumlah saham big caps. BBCA mencatat net buy Rp207,10 miliar, disusul CPIN Rp131,92 miliar dan ANTM Rp108,95 miliar.

Dari pasar mata uang, nilai tukar rupiah menguat tajam terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (3/9/2026). Rupiah bahkan menyentuh level terkuat dalam sekitar 15 pekan.

Mengacu data Refinitiv, rupiah ditutup menguat 0,56% ke Rp17.650/US$. Posisi ini menjadi level penutupan terkuat sejak 21 Mei 2026.

Sejak pembukaan, rupiah sudah menguat 0,25% ke Rp17.705/US$. Penguatan kemudian berlanjut hingga rupiah menguat 50 poin pada penutupan.

Penguatan ini membalikkan tren sehari sebelumnya. Pada perdagangan Rabu (2/9/2026), rupiah ditutup melemah di level Rp17.750/US$.

Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun melandai ke 7,1% pada Kamis kemarin, dari 7,23% pada hari sebelumnya.

Melandainya imbal hasil menandai harga SBN tengah naik karena diburu investor.

Dari pasar saham Amerika, bursa Wall Street menguat pada perdagangan Kamis atau Jumat dini hari waktu Indonesia.

Bursa menguat setelah imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS turun. Sentimen pasar terdorong harapan Federal Reserve (The Fed) menahan suku bunga pada pertemuan September.

Indeks S&P 500 naik 1,06% ke 7.747,71, sedangkan Nasdaq Composite menguat 1,4% menjadi 26.584,06.

Dow Jones Industrial Average melonjak 624,16 poin atau 1,18% ke 53.686,11, mencatat penguatan harian terbaik sejak 4 Agustus.

Yield Treasury AS 10 tahun turun ke 4,77%, setelah sebelumnya pada Rabu menyentuh level tertinggi sejak November 2023.

Penurunan yield terjadi setelah Gubernur The Fed Christopher Waller menyatakan dirinya cenderung mendukung keputusan untuk mempertahankan suku bunga jika tidak ada kejutan dalam data inflasi mendatang.

Pernyataan tersebut langsung mengubah ekspektasi pasar. Berdasarkan CME FedWatch, peluang The Fed menaikkan suku bunga dalam dua pekan mendatang turun menjadi 50,4%, dari 63,2% sehari sebelumnya.

Sentimen positif turut didukung penguatan yen terhadap dolar AS yang menekan yield Treasury. Namun, harga minyak masih menjadi risiko bagi inflasi.

Harga minyak WTI naik 0,32% menjadi US$91,30 per barel, sementara Brent turun tipis 0,12% ke US$95,52 per barel.

Harga minyak yang bertahan tinggi berpotensi kembali mendorong inflasi dan membuat The Fed mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.

Analis CFRA Research Sam Stovall mengingatkan pasar belum sepenuhnya aman. Menurutnya, jika harga minyak tetap tinggi, kenaikan suku bunga masih menjadi hambatan bagi investor.

Di pasar saham, Snowflake menjadi salah satu penguat utama setelah sahamnya melonjak lebih dari 16% berkat kinerja laba dan pendapatan kuartal II yang melampaui ekspektasi serta prospek yang kuat.

Sebaliknya, saham Broadcom turun hampir 3% setelah perusahaan memberikan proyeksi pendapatan kuartal IV fiskal yang mengecewakan.

Tags

Terkini