Mengenal IDX Green dan Cara Memilih Saham Hijau Kredibel di BEI

Senin, 31 Agustus 2026 | 21:13:23 WIB
Ilustrasi saham hijau (FOTO : NET)

JAKARTA – Perusahaan yang berjanji menjalankan ekonomi berkelanjutan kini menjadi tren baru demi menjaga kelestarian lingkungan. Investor pun mulai memburu saham hijau yang dinilai kredibel.

Bursa Efek Indonesia (BEI) meluncurkan label IDX Green Equity Designation untuk memperkuat tingkat kepercayaan investor terhadap emiten hijau.

Perkembangan dunia investasi yang kian meluas mendesak pasar modal domestik menghadirkan pengelompokan berdasarkan kriteria ekonomi hijau.

Peluncuran label hijau ini diperlukan guna memperluas basis investor sekaligus menggenjot penggunaan produk investasi berlandaskan Environmental, Social, and Governance (ESG).

Mengenai IDX Green, pengelompokan dari BEI ini dirancang untuk mendampingi investor mengenali emiten yang berorientasi pada ekonomi hijau. Pengelompokan ini mampu memandu arus modal menuju ekuitas berkelanjutan.

Klasifikasi ini terbagi menjadi dua sektor, yakni ekuitas hijau (green equity designation) dan ekuitas transisi hijau (green equity transition designation).

Kategori green equity designation diperuntukkan bagi emiten yang perolehan pendapatan serta investasinya menyokong ekonomi hijau.

Status green equity designation dapat diberikan apabila lebih dari 50% pendapatan tahunan emiten bersumber dari kegiatan yang menunjang ekonomi hijau.

Persyaratan lain yang harus dipenuhi adalah pengeluaran Opex atau Capex perusahaan yang menyokong ekonomi hijau porsinya melebihi 50%.

Kategori green equity transition designation pun diberikan jika lebih dari 50% Opex atau Capex emiten difokuskan untuk kegiatan yang menunjang ekonomi hijau.

Penilaian atas pengelompokan ini mengacu pada Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI) rilisan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Penilaian tersebut dievaluasi tiap tahun dan hasilnya wajib diumumkan kepada publik.

Melalui bertambahnya emiten yang memenuhi kriteria, BEI berharap pengerahan modal untuk aktivitas ekonomi pendukung lingkungan dan pembangunan berkelanjutan semakin terdorong. Langkah ini turut mendukung transisi nasional menuju ekonomi rendah karbon.

Program ini memperkuat posisi pasar modal sebagai perantara yang menghubungkan emiten pencari modal dengan investor yang mengedepankan prinsip keberlanjutan.

BEI menegaskan bahwa IGreen bukan bentuk pemeringkatan, rekomendasi investasi, jaminan kinerja keuangan, tingkat imbal hasil, maupun risiko saham. Para pemodal tetap diimbau melakukan analisis mandiri yang mendalam serta mempertimbangkan profil risiko dan sasaran investasinya.

Informasi mengenai penetapan emiten IDX Green beserta hasil peninjauan pihak ketiga dapat diakses publik melalui situs resmi dan saluran informasi BEI.

Mengenai perbedaannya dengan ESG, Direktur BEI Jeffrey Hendrik menerangkan bahwa Green Equity Designation memiliki peran yang berbeda dari indeks ESG yang sudah ada. Indeks ESG dipakai sebagai tolok ukur kinerja sekelompok saham berbasis metodologi tertentu, sedangkan IDX Green berbentuk label yang menempel pada emiten.

"Green Equity Designation merupakan label atau bentuk visibilitas yang diberikan kepada perusahaan tercatat yang mengajukan permohonan dan memenuhi kriteria berdasarkan hasil review independen dari penyedia review eksternal," terangnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Lewat skema ini, Green Equity Designation ditujukan untuk mendongkrak visibilitas, identifikasi, serta keterbukaan aktivitas hijau dan transisi di level emiten. Di sisi lain, indeks tetap berfungsi sebagai pembanding kinerja dan dasar produk investasi.

Ditinjau dari manfaatnya, IGreen menyajikan referensi tambahan bagi pemodal dalam mendeteksi emiten pelopor ekonomi hijau. Inisiatif ini juga membantu investor mengarahkan dananya ke instrumen ekuitas berkelanjutan.

Sistem pengelompokan ini mempermudah penyaringan emiten dari kacamata lingkungan. Selain itu, hadirnya standar yang jelas dapat menekan beragam penafsiran terkait kegiatan hijau sekaligus meminimalkan risiko greenwashing.

Perdana peluncuran IGreen menetapkan tiga emiten terdaftar.

Ketiga emiten tersebut mencakup PT Hero Global Investment Tbk (HGII) sebagai green equity, PT Kencana Energi Lestari Tbk (KEEN) sebagai green equity, dan PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) sebagai green equity transition.

Laju IHSG sesi I terpantau melemah 0,01% ke posisi 6.517,24. Sementara itu, pergerakan sepanjang tahun 2026 tergerus 24,63% secara year-to-date (YtD).

Untuk pergerakan saham emiten hijau, HGII turun 2,65% ke level Rp147. Lalu, saham KEEN menyusut 9,9% ke level Rp910, dan saham TOBA merosot 16,89% menuju level Rp615.

Tags

Terkini