IHSG Diprediksi Mixed Cenderung Melemah, Cermati Rekomendasi Saham dari Analis

Senin, 31 Agustus 2026 | 08:22:00 WIB

FINANSIALINSIGHT.COM — Tekanan dari luar negeri masih menjadi momok utama bagi pergerakan IHSG awal pekan ini. Pernyataan Ketua Federal Reserve Kevin Warsh di simposium Jackson Hole yang menegaskan inflasi inti belum melambat semakin menguatkan spekulasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama alias higher for longer. Kondisi ini memicu kekhawatiran bakal menghambat ekspansi korporasi dan menahan pertumbuhan kredit perbankan.

Area Support dan Resistance yang Perlu Dicermati

VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi memperkirakan IHSG bergerak mixed cenderung melemah dalam rentang support 6.430 dan resistance 6.606. "Indikator MACD menunjukkan tren yang landai, dan RSI bergerak turun," jelasnya, Senin (31/8/2026).

Pandangan berbeda datang dari MNC Sekuritas. Head of Retail Research Herditya Wicaksana menilai laju indeks masih berpeluang menguat terbatas dengan support di level 6.506 dan resistance 6.539. BNI Sekuritas juga melihat potensi rebound, setelah IHSG sebelumnya bertahan di atas support kuatnya di area 6.460–6.500, dengan resistance di kisaran 6.580–6.620.

Pemicu dari Dalam Negeri: Inflasi dan PMI

Dari domestik, perhatian investor tertuju pada rilis data inflasi Agustus 2026 yang diproyeksikan tumbuh 2,86 persen secara tahunan. Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia juga dinanti, dengan konsensus di level 50,5—masih area ekspansif.

Kendati demikian, Oktavianus menilai rilis data tersebut cenderung direspons moderat oleh pasar karena belum ada perubahan material.

Rekomendasi Saham dari Analis

Di tengah ketidakpastian, sejumlah analis merekomendasikan saham-saham pilihan. Sebelumnya, IHSG ditutup terkoreksi tipis 0,06 persen dengan aksi jual bersih (net sell) investor asing mencapai Rp442 miliar. Saham EMAS, ISAT, AMMN, BRMS, dan ASII menjadi yang paling banyak dilepas asing.

Meski begitu, BNI Sekuritas menilai dana asing yang keluar itu tidak mengubah struktur pasar secara fundamental. Koreksi tipis yang terjadi justru dilihat sebagai peluang akumulasi, terlebih IHSG masih mampu bertahan di atas level support kunci.

Pasar modal Indonesia kini berada dalam fase penantian—menunggu kepastian arah suku bunga global sambil mengukur kekuatan fundamental ekonomi domestik. Bagi investor ritel, membaca arah pergerakan indeks di tengah sentimen campuran seperti ini menuntut kehati-hatian ekstra dalam menentukan posisi.

Terkini