Prospek Investasi Bitcoin Menarik di Tengah Isu Fiskal AS

Jumat, 28 Agustus 2026 | 21:44:35 WIB
Ilustrasi investasi bitcoin (FOTO : NET)

JAKARTA – Bitcoin (BTC) diproyeksi menjadi salah satu opsi investasi yang menarik untuk dicermati di tengah sorotan terhadap kondisi fiskal serta rencana pemerintah Amerika Serikat (AS) melakukan buyback US Treasury. Pada Jumat (28/8/2026) pukul 15.25 WIB, Coin Market Cap mencatat harga Bitcoin berada di angka 79.799, melesat 3,64 persen dalam kurun sepekan dan melonjak 26,11 persen dalam sebulan.

Analis Reku, Andri Fauzan, menyampaikan bahwa prospek Bitcoin sangat kondusif di tengah kekhawatiran fiskal AS dan rencana buyback US Treasury. Utang AS yang telah menembus US$ 40 triliun, defisit yang tetap tinggi, serta kekhawatiran atas melemahnya daya beli dolar disebutnya kian menguat.

Kebijakan Treasury melipatgandakan buyback obligasi jangka panjang menjadi minimal US$ 4 miliar per operasi mulai September ditafsirkan pasar sebagai sinyal likuiditas longgar serta upaya menekan yield.

“Ini memicu debasement trade di mana investor beralih ke aset langka seperti Bitcoin dan emas,” ujar Andri sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Andri menilai reli harga Bitcoin dari sekitar US$ 64.000 hingga menembus US$ 80.000 dalam tempo singkat sebagian besar terdorong oleh faktor tersebut. Selama kekhawatiran fiskal berlanjut dan aksi buyback berjalan, Bitcoin dipandang masih mengantongi pendorong struktural yang solid.

Chief Marketing Officer Indodax, Aloysia Dian, menyebutkan kebijakan Treasury buyback menjadi salah satu faktor penopang perubahan sentimen terhadap Bitcoin belakangan ini. Usai pengumuman kenaikan nilai buyback pada 19 Agustus, yield obligasi jangka panjang AS sempat melandai dan dolar AS melemah.

Situasi tersebut turut memicu selera pasar terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin, lantaran investor mulai melihat peluang di tengah dinamika ekspektasi obligasi dan dolar AS. Kendati demikian, dampaknya pada Bitcoin tetap perlu ditinjau bersama faktor lain seperti arah kebijakan moneter The Fed, likuiditas, serta dinamika pasar obligasi.

Aloysia berpendapat sentimen Bitcoin saat ini terutama terpengaruh oleh arah kebijakan moneter AS, khususnya sinyal The Fed mengenai suku bunga dan inflasi. Di samping itu, arus dana ke ETF spot Bitcoin, pergerakan dolar AS, serta likuiditas global turut menjadi variabel penting.

Dari sisi pasar, penguatan dalam beberapa hari terakhir juga dipengaruhi short squeeze, sehingga posisi leverage dan potensi profit taking perlu diwaspadai karena sanggup memicu volatilitas.

“Dengan demikian, pergerakan Bitcoin tetap perlu dilihat dari kombinasi faktor makro, arus dana, dan kondisi pasar, bukan dari satu sentimen saja,” terang Aloysia sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menyinggung strategi investasi, Aloysia menuturkan bahwa disiplin manajemen risiko menjadi semakin vital sewaktu sentimen pasar berada dalam optimism tinggi. Investor diimbau tidak semata-mata mengejar harga atau menebak titik puncak pasar.

Porsi posisi serta batas risiko perlu disesuaikan dengan profil masing-masing investor. Bagi yang ingin mengoleksi Bitcoin di tengah tren positif ini tetapi tetap mempertimbangkan volatilitas, metode Dollar Cost Averaging (DCA) dapat dijadikan opsi.

Melalui pendekatan tersebut, pembelian dilakukan secara berkala sehingga investor tak perlu mengambil posisi sekaligus saat harga relatif tinggi.

“Yang terpenting, keputusan transaksi tidak didorong oleh euforia pasar, melainkan berdasarkan pemahaman terhadap faktor yang menggerakkan pasar dan hasil Do Your Own Research (DYOR),” ucap Aloysia sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di sisi lain, Andri menyarankan investor menghindari Fear of Missing Out (FOMO) di tengah kondisi Fear & Greed Index yang masuk fase extreme greed (sekitar 70–80, tertinggi sejak Oktober 2025). Strategi yang disarankan yakni tidak menambah posisi secara agresif pada harga saat ini, melainkan menyiapkan dana untuk akumulasi bertahap bila terjadi koreksi 10 persen – 15 persen.

“Ambil sebagian keuntungan di level yang sudah naik signifikan, pertahankan posisi inti jangka menengah-panjang, dan gunakan stop-loss mental yang jelas. Extreme greed sering mendahului konsolidasi atau pullback, jadi disiplin manajemen risiko lebih penting daripada mengejar momentum,” jelas Andri sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Andri memproyeksikan harga Bitcoin hingga penutupan tahun berada pada rentang base case US$ 95.000 – US$ 110.000. Apabila arus ETF bertahan kuat, buyback Treasury lancar, serta kejelasan regulasi bertambah, peluang menembus US$ 120.000 tetap terbuka lebar.

“Sebaliknya, jika data makro memburuk atau sentimen berbalik tajam dari extreme greed, koreksi ke US$ 70.000 – US$ 80.000 masih mungkin terjadi sebelum melanjutkan tren naik,” pungkas Andri sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Tags

Terkini

Teknik Menguleni Adonan Roti Agar Kalis dan Elastis

Sabtu, 19 September 2026 | 01:57:01 WIB

Ide Konten TikTok Affiliate FYP Komisi Besar

Sabtu, 19 September 2026 | 01:47:54 WIB

Rahasia Strategi Copywriting Penutup Video

Sabtu, 19 September 2026 | 01:41:58 WIB

Strategi Pemasaran Konten Visual Estetik

Sabtu, 19 September 2026 | 01:39:01 WIB

Panduan Lengkap Teknik Pembuatan Video Edukasi Efektif

Sabtu, 19 September 2026 | 01:36:01 WIB