Prospek HRUM Membaik, Indo Premier Kerek Target Harga Rp 1.250

Jumat, 14 Agustus 2026 | 22:47:21 WIB
Ilustrasi saham hr (FOTO : NET)

JAKARTA – PT Harum Energy Tbk (HRUM) masih dihadapkan pada sejumlah sentimen negatif yang membebani kinerjanya. Walaupun demikian, Indo Premier Sekuritas justru menilai ada peluang pemulihan kinerja yang potensial bagi emiten tambang ini.

Analis Indo Premier Sekuritas Ryan Winipta melalui risetnya tanggal 13 Agustus 2026 menyebutkan bahwa pemulihan kinerja HRUM belum banyak disadari oleh pasar. Ia berpendapat bahwa berbagai tekanan dan kekhawatiran terkait saham HRUM telah tercermin pada valuasinya.

"HRUM merupakan cerita pemulihan yang terabaikan dan terbebani oleh sejumlah pemberitaan negatif," ujar Ryan dalam risetnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ia mengungkapkan sedikitnya terdapat tiga masalah utama yang membebani HRUM. Pertama, proses peningkatan produksi tambang bijih nikel berjalan lebih lambat dibanding estimasi awal. Penjualan bijih nikel yang semula ditargetkan mulai 2022 baru bisa direalisasikan pada kuartal III 2025.

Kedua, tingginya biaya sulfur menahan margin kas HRUM di level US$ 4.000-US$ 5.000 per ton pada kuartal II 2026. Hal tersebut terjadi walaupun kenaikan volume produksi dari fasilitas HPAL BSE telah mulai mendorong profitabilitas.

Ketiga, hambatan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) sektor batu bara juga ikut menekan perolehan laba bersih HRUM pada semester I 2026.

Meskipun begitu, Ryan menganggap pasar telah mengantisipasi berbagai persoalan tersebut. Kondisi ini tercermin dari berkurangnya porsi kepemilikan investor institusi pada saham HRUM.

Pendorong kinerja HRUM diproyeksikan mulai terlihat pada semester II 2026, khususnya dari pertumbuhan volume penjualan batu bara dan bijih nikel.

Sektor batu bara memang bukan lagi fokus utama bagi HRUM. Meski demikian, lonjakan volume penjualan di paruh kedua tahun ini diyakini dapat memberikan kontribusi positif terhadap laba bersih perseroan.

Sepanjang semester I 2026, HRUM baru mencatatkan penjualan batu bara sekitar 200.000 ton dari total kuota RKAB yang mencapai 3 juta ton. Maka dari itu, porsi terbesar dari penjualan baru akan terealisasi pada semester II 2026.

Ryan memprediksi porsi kewajiban pemenuhan batu bara domestik akan mengalami peningkatan. Namun, spesifikasi batu bara HRUM yang berkalori lebih tinggi dari kebutuhan PLN serta naiknya biaya bahan bakar tetap menjadi aspek yang perlu diwaspadai.

Ryan memproyeksikan HRUM tetap mampu mengantongi margin kas batu bara sekitar US$15 per ton pada semester II 2026, setelah memperhitungkan biaya operasional dan royalti.

Selain batu bara, lini bisnis bijih nikel juga diperkirakan menjadi pemicu pertumbuhan kinerja HRUM di semester kedua 2026.

Hingga semester I 2026, volume penjualan bijih nikel HRUM telah menyentuh kisaran 2,6 juta ton. Sementara itu, target penjualan sepanjang tahun 2026 ditetapkan sebesar 8 juta-10 juta ton.

Oleh sebab itu, peluang peningkatan penjualan pada semester II 2026 masih sangat terbuka lebar, terutama didukung kenaikan produksi dari tambang milik PT Position.

Mayoritas bijih nikel HRUM atau sekitar 80% berbentuk saprolit. Menurut Ryan, bertambahnya produksi PT Position dapat membantu HRUM mengurangi ketergantungan pada pakan bijih dari pihak ketiga, yang berpotensi menekan biaya kas fasilitas RKEF milik perseroan.

Penurunan harga patokan mineral untuk jenis limonit dan saprolit turut dipandang sebagai penopang efisiensi biaya produksi RKEF.

Mempertimbangkan prospek tersebut, Indo Premier Sekuritas memutuskan untuk mempertahankan rekomendasi beli saham HRUM.

Target harga dinaikkan dari Rp 1.150 per saham menjadi Rp 1.250 per saham. Penyesuaian target harga ini sejalan dengan revisi naik proyeksi laba bersih HRUM periode 2026-2028 sebesar 6%-14%.

Indo Premier turut memperbarui metode pendekatan valuasi saham HRUM. Jika sebelumnya mengacu pada nilai aset bersih per segmen, saat ini valuasi menggunakan target rasio harga terhadap laba (price to earnings) sebesar 7,5 kali untuk proyeksi satu tahun ke depan.

Langkah penyesuaian tersebut menegaskan pandangan bahwa HRUM kini semakin matang sebagai perusahaan nikel yang terintegrasi.

Walau peluang pemulihan kian terbuka, sejumlah faktor risiko tetap patut diwaspadai. Salah satu tantangan terbesarnya adalah tingginya beban biaya sulfur yang berisiko menekan kontribusi fasilitas HPAL BSE.

Namun bagi Indo Premier, berbagai tekanan yang dialami HRUM berpotensi segera berakhir. Seiring peningkatan volume batu bara dan bijih nikel pada semester II 2026, peluang bagi HRUM untuk membalikkan kinerja kian terbuka lebar.

Pada tahun ini, Indo Premier Sekuritas memproyeksikan pendapatan HRUM mencapai US$ 2,61 miliar dan laba bersih sebesar US$ 101 juta. Sedangkan pada tahun 2027, perolehan pendapatan dan laba bersih HRUM diperkirakan dapat menembus US$ 2,97 miliar dan US$ 172 juta.

Harga saham HRUM berada di level Rp 850 per saham atau menguat 1,8% pada Jumat (14/8/2026) hingga pukul 14.38 WIB. Dalam kurun waktu lima hari perdagangan, saham HRUM telah mencatatkan kenaikan sebesar 3,66%.

Tags

Terkini

Solusi Praktis Meredakan Mata Lelah Dan Minus

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 00:23:07 WIB

Panduan Lengkap Menjaga Kesehatan Mata Manusia

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 00:19:39 WIB

Panduan Pengaturan Layar Ponsel untuk Kenyamanan Pengguna

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 00:17:01 WIB

Nutrisi Terbaik Untuk Menjaga Kesehatan Mata Manusia

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 00:14:01 WIB

Mengenal Manfaat Kacamata Anti Radiasi Komputer

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 00:09:01 WIB