Futures Wall St Menguat di Tengah Isu Timur Tengah dan Data CPI

Selasa, 11 Agustus 2026 | 22:55:19 WIB
Ilustrasi futures saham (FOTO : NET)

JAKARTA – Kontrak futures saham AS mencatatkan kenaikan pada Selasa, seiring pergerakan fluktuatif harga minyak menyusul laporan positif mengenai pembicaraan Iran dan Oman, sementara pelaku pasar menantikan rilis data inflasi utama AS.

Pada pukul 17:15, futures Dow menguat 47 poin atau 0,1 persen, futures S&P 500 naik 13 poin atau 0,2 persen, dan futures Nasdaq 100 terangkat 96 poin atau 0,3 persen.

Pada sesi sebelumnya, indeks utama Wall Street melemah dengan S&P 500 turun 0,1 persen, Nasdaq Composite berkurang 0,3 persen, dan Dow Jones Industrial Average merosot 0,1 persen. Langkah investor tertekan ketidakpastian seputar negosiasi untuk menghentikan konflik AS-Iran serta pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai rute krusial energi global.

Harga minyak mentah berbalik melorot pada Selasa setelah juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar mengungkapkan bahwa pembicaraan Iran dan Oman terkait Selat Hormuz telah memasuki tahap lanjut serta berada pada persimpangan kritis. Qatar bertindak sebagai mediator dalam langkah diplomasi guna meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Sebelumnya pada Senin, harga minyak sempat melonjak usai Presiden Donald Trump menyatakan bakal meminta kompensasi dari Iran dalam perjanjian damai, sedangkan Teheran menuntut ganti rugi serta konsesi lainnya. Lonjakan tersebut memicu kecemasan bahwa gangguan pasokan energi yang berkepanjangan dapat memicu inflasi dan mendorong Federal Reserve menaikkan suku bunga.

Di sisi lain, Nvidia mengonfirmasi kesepakatan infrastruktur AI skala besar bersama sejumlah lembaga keuangan terkemuka seperti Apollo, BlackRock, Goldman Sachs, dan KKR. Kerja sama ini ditujukan untuk membantu produsen chip AI tersebut menggalang modal pihak ketiga lebih dari $500 miliar guna membangun infrastruktur pendukung teknologi yang sedang berkembang.

Saham Nvidia sempat tergerus lebih dari 2 persen setelah pengumuman tersebut pertama kali diberitakan oleh Financial Times pada Senin. Analis Vital Knowledge menilai langkah ini sebagai upaya Nvidia dalam "memperluas neraca keuangannya untuk mendorong permintaan infrastruktur AI," sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kekhawatiran mengenai keberlanjutan tren booming AI terus membayangi sentimen pasar beberapa pekan terakhir, sekaligus mengikis optimisme dari kuatnya kinerja musim laporan keuangan perusahaan S&P 500.

Perhatian pelaku pasar kini tertuju pada rilis data indeks harga konsumen (CPI) AS bulan Juli pada Rabu, yang diproyeksikan menjadi penguji ekspektasi arah kebijakan The Fed. Laporan CPI ini kian krusial setelah pasar tenaga kerja AS secara tak terduga kehilangan 23.000 pekerjaan pada Juli serta adanya revisi turun signifikan pada data dua bulan sebelumnya.

Ekspektasi bahwa The Fed akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat sempat menyusut setelah rilis data pekerjaan tersebut pada Jumat.

Potensi kenaikan harga energi berisiko memperumit prospek kebijakan tersebut. Secara teori, pengetatan suku bunga mampu meredam inflasi, meski berisiko menekan pertumbuhan ekonomi serta pasar tenaga kerja.

Kendati demikian, analis Deutsche Bank mencatat bahwa selera risiko pasar saat ini masih terjaga "lebih baik dibandingkan waktu yang sama dalam beberapa tahun terakhir," ketika awal Agustus umumnya diwarnai kekhawatiran perlambatan ekonomi, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Tags

Terkini