Saham GIAA Naik 33 Persen Sehari Ini Pertimbangan Beli Atau Jualnya

Selasa, 11 Agustus 2026 | 21:55:08 WIB
Ilustrasi garuda indonesia (FOTO : NET)

JAKARTA – Harga saham PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) mengalami kenaikan signifikan pada perdagangan Senin (10/8/2026). Saham milik maskapai pelat merah ini bahkan berhasil menyentuh batas auto reject atas (ARA).

Harga saham GIAA ditutup menguat 33,33% ke level Rp72 per saham di akhir perdagangan Senin (10/8). Aktivitas transaksi juga meningkat pesat dengan volume mencapai 1,65 miliar saham.

Lonjakan harga saham GIAA didorong oleh antusiasme pasar terkait rencana konsolidasi Garuda Indonesia dengan Pelita Air serta penantian laporan keuangan kuartal II 2026. Namun, Kiwoom Sekuritas Indonesia menilai penguatan ini lebih dipicu oleh ekspektasi pasar daripada perbaikan fundamental.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menyebutkan bahwa kenaikan saham GIAA mencerminkan respons spekulatif terhadap isu konsolidasi yang bentuk transaksinya belum jelas.

"Kenaikan GIAA lebih mencerminkan speculative rerating terhadap wacana konsolidasi. Namun ARA belum bisa dianggap sebagai validasi fundamental karena bentuk transaksinya saja belum final, sementara laporan keuangan kuartal II-2026 juga belum keluar," ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Manajemen Garuda Indonesia telah mengonfirmasi adanya pembahasan mengenai rencana konsolidasi bersama Pelita Air. Meskipun demikian, belum ada keputusan akhir terkait skema maupun bentuk transaksi tersebut.

Laporan keuangan kuartal II 2026 milik perseroan juga masih dalam tahap audit. Kondisi ini membuat para investor belum dapat menggunakan laporan keuangan terbaru sebagai bahan acuan evaluasi.

Tekanan terhadap kinerja GIAA masih terlihat pada kuartal I 2026 meski pendapatan tumbuh 5,36% secara tahunan atau year-on-year (YoY). Garuda masih mencatatkan rugi bersih US$47,72 juta, walaupun angka tersebut sudah berkurang 46,22% dibanding periode sama tahun sebelumnya.

Ekuitas Garuda berangsur membaik setelah menerima suntikan modal dari aksi private placement sebesar Rp23,67 triliun di akhir 2025. Langkah ini mengembalikan posisi ekuitas menjadi positif sekitar US$91,9 juta.

Meskipun demikian, total liabilitas perseroan pada tahun buku 2025 masih tergolong tinggi yakni mencapai US$7,34 miliar. Besarnya nilai liabilitas ini menjadi beban kewajiban utama yang wajib diwaspadai investor.

Pelita Air merupakan anak usaha PT Pertamina (Persero) dengan kepemilikan saham hampir penuh yang berhasil mencetak laba US$5,9 juta pada 2024. Liza menilai potensi konsolidasi memang memberi peluang sinergi, namun investor dianjurkan mencermati detail kesepakatannya.

Hal terpenting adalah kepastian entitas yang menjadi surviving entity, besaran valuasi Pelita Air, serta penetapan posisi utang lama Garuda Indonesia.

"Pertanyaan terpentingnya bukan cuma jadi merger atau tidak, tetapi siapa surviving entity-nya, berapa valuasi wajar Pelita Air, dan ke neraca siapa legacy liabilities GIAA akan ditempatkan," jelas Liza sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Dalam skenario Garuda Indonesia bertindak sebagai induk usaha, utang lama perseroan tidak otomatis berpindah ke Pelita Air. Namun, potensi risiko tetap ada jika konsolidasi menggunakan skema cross-guarantee, cash pooling, atau tuntutan dividen besar.

"Risikonya tetap ada jika Pelita diwajibkan memberi dividen besar, cross-guarantee, cash pooling, atau akhirnya dijadikan sumber dana untuk membayar kewajiban lama GIAA," tambahnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Dari sisi operasional, konsolidasi Garuda Indonesia dan Pelita Air idealnya mampu menciptakan efisiensi nyata pada jaringan rute, pemanfaatan armada, pengadaan bahan bakar, hingga perawatan pesawat. Namun, efisiensi tersebut wajib diimbangi dengan perbaikan model bisnis secara mendasar.

Liza menegaskan pentingnya cetak biru restrukturisasi yang jelas guna mencegah terjadinya moral hazard.

"Kalau setiap kali GIAA gagal profit kemudian mendapat suntikan modal lagi atau dipasangkan dengan BUMN yang lebih sehat, maka moral hazard-nya besar karena tidak ada tekanan bagi manajemen untuk benar-benar memperbaiki kinerja," ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Wacana konsolidasi bersama Pelita Air memang membuka peluang sinergi dan efisiensi operasional bagi Garuda Indonesia. Namun, investor disarankan tetap menunggu kepastian struktur transaksi, pihak pengendali, valuasi, hingga mekanisme penanganan utang.

Lonjakan saham GIAA hingga ARA pada Senin (10/8/2026) belum menjadi bukti pemulihan fundamental perusahaan secara menyeluruh. Kenaikan harga saham tersebut masih cenderung memproyeksikan spekulasi jangka pendek atas kabar konsolidasi BUMN.

Tags

Terkini