JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan pada perdagangan Senin (10/8/2026). Setelah menguat 2,78% sepanjang pekan sebelumnya, IHSG terkoreksi 0,69% ke level 6.365,37.
Pelemahan terjadi di tengah masih lesunya kinerja sejumlah indeks sektoral. Indeks sektor infrastruktur menjadi yang paling tertekan dengan koreksi 32,95% dalam sehari.
Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai, tekanan terhadap IHSG dipengaruhi faktor teknikal dan aksi ambil untung setelah reli pada pekan sebelumnya.
"Ruang penguatan IHSG jadi terbatas," kata Herditya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Di sisi lain, pasar kini mencermati hasil evaluasi indeks MSCI yang dijadwalkan diumumkan pada 12 Agustus 2026 waktu setempat.
Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai, hasil evaluasi tersebut berpotensi memengaruhi arus dana asing ke pasar saham Indonesia.
Menurut Nafan, peluang penambahan saham Indonesia ke dalam indeks MSCI masih terbatas karena kebijakan freeze masih berlaku. Karena itu, perhatian investor lebih tertuju pada kemungkinan perubahan komposisi indeks yang sudah ada.
Jika hasil evaluasi MSCI tidak memberikan kejutan negatif, Nafan menilai kondisi tersebut berpeluang menjadi katalis bagi reli IHSG.
Sebaliknya, hasil yang lebih buruk dari ekspektasi dapat kembali memicu aksi jual investor asing dan menekan IHSG dalam jangka pendek.
Untuk perdagangan Selasa (11/8), Nafan memperkirakan IHSG bergerak sideways dengan area support 6.292-6.242 dan resistance 6.406-6.454.
Herditya juga melihat IHSG masih berpotensi melanjutkan koreksi dalam jangka pendek. Kami melihat ia memperkirakan IHSG bergerak dalam rentang terbatas dengan support 6.344 dan resistance 6.385 sambil menunggu katalis baru dari global maupun domestik.
Untuk strategi perdagangan, Herditya merekomendasikan saham DSSA pada kisaran Rp 1.100-Rp 1.195 per saham, ESSA di rentang Rp 700-Rp 730 per saham, serta HRTA pada level Rp 2.290-Rp 2.380 per saham.