Data Ekonomi AS Jadi Katalis, Cek Rekomendasi Saham Pekan Ini

Senin, 10 Agustus 2026 | 21:43:54 WIB
Ilustrasi indeks saham (FOTO : NET)

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat menguat di awal perdagangan sebelum akhirnya terkoreksi tipis 0,05 persen ke posisi 6.403 pada Senin (10/8/2026) pukul 11.30 WIB. Walaupun demikian, IHSG tercatat melonjak 2,78 persen selama sepekan terakhir dan ditutup pada level 6.409 pada Jumat (7/8/2026).

Indo Premier Sekuritas mencatat bahwa investor asing membukukan aksi beli bersih (inflow) sebesar Rp 494 miliar di pasar reguler sepanjang pekan lalu. Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) David Kurniawan menyampaikan bahwa perkembangan kebijakan suku bunga global saat ini berada pada fase yang sangat krusial.

"Bank sentral utama, seperti US Federal Reserve dan European Central Bank (ECB) terus menyeimbangkan antara upaya meredam ketahanan inflasi yang melandai secara bertahap dan risiko perlambatan pertumbuhan ekonomi," ujar David sebagaimana dilansir dari berita sumber.

David menambahkan bahwa ketatnya pasar tenaga kerja dan inflasi sektor jasa yang persisten memperkuat narasi higher for longer, sehingga suku bunga acuan diperkirakan bertahan tinggi lebih lama. Sinyal kebijakan tersebut memicu gejolak pada imbal hasil obligasi pemerintah, terutama US Treasury, yang kemudian mempersempit jarak yield dengan obligasi negara berkembang.

"Alhasil, hal ini memicu tekanan capital outflow (aliran modal keluar) dari pasar berkembang menuju aset berisiko lebih rendah di negara maju," kata David sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Dari dalam negeri, pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II-2026 sebesar 5,29 persen (yoy) menunjukkan ketahanan makroekonomi yang solid di tengah ketidakpastian global. Kondisi ini ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang kuat serta akselerasi pembentukan modal tetap bruto.

"Keberhasilan ini menjadi bukti efektivitas sinergi kebijakan moneter dan fiskal dalam menggerakkan sektor industri manufaktur, perdagangan, dan jasa, sekaligus memperkokoh posisi Indonesia sebagai salah satu motor pertumbuhan paling atraktif di kawasan emerging market," ucap David sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurut David, pergerakan pasar keuangan pada pekan 10-14 Agustus 2026 diperkirakan masuk fase wait and see seiring padatnya rilis data ekonomi dari Amerika Serikat. Perhatian pelaku pasar akan tertuju pada rilis indikator inflasi utama seperti Consumer Price Index (CPI), Producer Price Index (PPI), dan data penjualan ritel.

"Rangkaian data ini menjadi krusial karena akan memberikan sinyal yang lebih terang mengenai arah kebijakan moneter The Fed selanjutnya, apakah tekanan inflasi sudah benar-benar mendingin untuk memberi ruang bagi pelonggaran suku bunga atau justru masih cukup tangguh untuk mempertahankan narasi suku bunga tinggi lebih lama," terangnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Indo Premier Sekuritas membagikan sejumlah rekomendasi saham pilihan untuk aktivitas trading pada pekan ini.

Pertama, Buy WIFI (Harga Saat Ini: 2.020, Entry: 2.020, Target Price: 2.160 (6,93%), Stop Loss: 1.955 (-3,22%), Risk to Reward Ratio 1:2,2). Emiten PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) berpotensi breakout dari pola flag pattern dan mampu menjaga level MA20 dalam jangka pendek.

Kedua, Buy IMPC (Harga Saat Ini: 1.595, Entry: 1.595, Target Price: 1.700 (6,58%), Stop Loss: 1.550 (-2,82%), Risk to Reward Ratio 1:2,3). Saham PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) berpotensi membentuk golden cross dari MA60 serta menunjukkan akumulasi konsisten berdasarkan indikator AI Trade Flow IPOT dalam 5 hari terakhir.

Ketiga, Buy BRMS (Harga Saat Ini: 615, Entry: 615, Target Price: 680 (10,57%), Stop Loss: 585 (-4,88%), Risk to Reward Ratio 1:2,2). Saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) konsisten berada di atas MA5, menunjukkan sinyal breakout, serta terdeteksi mengalami akumulasi berkelanjutan selama 5 hari terakhir pada fitur AI Trade Flow IPOT.

Tags

Terkini