Daya Beli Lemah Buat Kinerja Emiten Properti Lesu di Semester I 2026

Rabu, 05 Agustus 2026 | 21:47:14 WIB
Ilusrasi pasar properti (FOTO: NET)

JAKARTA – Kinerja emiten properti sepanjang paruh pertama tahun 2026 tampak lesu di tengah gejolak makroekonomi. Hal ini terlihat dari pencapaian terbaru mereka yang masih belum merata.

PT Ciputra Development Tbk (CTRA) mencatatkan penjualan dan pendapatan usaha sebesar Rp 5,19 triliun pada akhir Juni 2026, mengalami penurunan 11,69% secara tahunan atau year on year (YoY) dari Rp 5,88 triliun. CTRA membukukan laba bersih Rp 1,09 triliun di akhir semester I 2026, yang mana angka tersebut turun 11,19% YoY.

Sementara itu, PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) membukukan pendapatan neto Rp 4,25 triliun per 30 Juni 2026, atau merosot 7,18% YoY. Laba bersih SMRA tercatat sebesar Rp 332,38 miliar per semester I 2026, yakni mengalami penurunan 33,98% YoY.

Laba bersih PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) tercatat sebesar Rp 1 triliun per kuartal II 2026, turun 11,42% dari Rp 1,13 triliun. Penurunan laba bersih tersebut terjadi saat total pendapatan PWON relatif stabil di angka Rp 3,37 triliun jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Direktur dan Sekretaris Perusahaan PWON, Minarto Basuki menyampaikan bahwa kinerja PWON didukung oleh pendapatan recurring income yang tumbuh sebesar 7% secara tahunan atau year on year (YoY) menjadi Rp 2,89 triliun dari Rp 2,69 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

"Pertumbuhan ini berhasil mengimbangi moderasi pendapatan development yang disebabkan oleh perbedaan waktu pengakuan pendapatan dari serah terima unit," kata Minarto Basuki dalam keterangan resmi, Jumat (31/7/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kemudian, pendapatan usaha PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) tercatat sebesar Rp 4,75 triliun, atau menyusut 25,64% YoY. Laba bersihnya pun terpangkas dari Rp 1,28 triliun menjadi Rp 603,89 miliar per kuartal II 2026.

Di sisi lain, PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) berhasil mengantongi laba bersih Rp 1,68 triliun per kuartal II 2026, melambung 483,78% YoY dari Rp 285,86 miliar. Kenaikan laba bersih tersebut didorong oleh raihan pendapatan neto sebesar Rp 2,92 triliun per kuartal II 2026, yang mana melonjak 77,61% dari Rp 1,64 triliun pada periode sama tahun lalu.

Tim Research Analyst Magenta Kapital Sekuritas Indonesia menyatakan bahwa kinerja emiten properti pada semester I 2026 masih berada dalam fase pemulihan, meski pertumbuhannya terbilang terbatas dan belum merata sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Hal tersebut tecermin dari kinerja mayoritas developer residensial yang masih mencatatkan pertumbuhan secara bertahap seiring belum pulihnya permintaan properti secara menyeluruh sebagaimana dilansir dari berita sumber.

"Suku bunga yang masih relatif tinggi serta daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih masih menjadi tantangan utama bagi sektor properti, terutama karena mayoritas pembelian rumah primer masih menggunakan fasilitas KPR," kata Tim Research Analyst Magenta Kapital Sekuritas Indonesia, Selasa (4/8/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Adrian Djie mengungkapkan bahwa beberapa emiten properti besar mayoritas mengalami penurunan pada sisi pendapatan dan laba bersih sebagaimana dilansir dari berita sumber.

"Perlambatannya disebabkan oleh realisasi marketing sales yang belum optimal, kondisi makroekonomi yang tidak mendukung, serta pelemahan daya beli masyarakat," kata Adrian Djie, Rabu (5/8/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Kevin Halim menerangkan bahwa kinerja emiten properti pada semester I 2026 sebenarnya terbilang cukup solid jika mengingat kondisi makroekonomi yang tidak stabil sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Permintaan untuk aset properti secara keseluruhan memang mengalami pelemahan, terutama di regional market seperti Surabaya dan Sumatra. Walau demikian, penjualan di Jabodetabek tetap kuat, khususnya di flagship city seperti BSD City dan Summarecon Serpong sebagaimana dilansir dari berita sumber.

"Kami melihat permintaan masih cukup kuat untuk proyek-proyek selektif yang terletak di lokasi strategis," kata Kevin Halim, Rabu (5/8/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kondisi yang penuh tantangan tersebut diproyeksikan masih akan berlangsung hingga akhir tahun ini.

Tim Research Analyst Magenta Kapital Sekuritas Indonesia memperkirakan pemulihan sektor properti akan terus berlanjut pada Semester II 2026, walaupun lajunya diperkirakan tetap secara bertahap sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sentimen positif masih ditopang oleh berlanjutnya insentif PPN Ditanggung Pemerintah (PPN DTP), tingginya investasi pada kawasan industri, serta potensi membaiknya daya beli masyarakat jika kondisi ekonomi tetap terjaga sebagaimana dilansir dari berita sumber.

"Dengan kondisi tersebut, developer kawasan industri masih berpeluang menjadi subsektor dengan kinerja paling resilien hingga akhir tahun," kata Tim Research Analyst Magenta Kapital Sekuritas Indonesia sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kedepannya, investor perlu mencermati arah kebijakan suku bunga dan pemulihan daya beli masyarakat karena kedua faktor tersebut sangat menentukan kecepatan pemulihan permintaan properti. Terlebih pada segmen residensial yang masih didominasi pembelian melalui fasilitas KPR sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Dari sisi pasar saham, sektor properti dinilai masih menarik untuk dicermati. Meski indeks sektor properti telah menguat sekitar 11,18% sepanjang Juli 2026, penguatannya masih tertinggal dibandingkan sektor energi maupun basic materials sebagaimana dilansir dari berita sumber.

"Hal ini menunjukkan ruang kenaikan masih terbuka, didukung valuasi yang masih relatif menarik," kata Tim Research Analyst Magenta Kapital Sekuritas Indonesia sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Tim Research Analyst Magenta Kapital Sekuritas Indonesia pun menyarankan investor untuk mencermati saham CTRA dengan target harga pada kisaran Rp 620 – Rp 650 per saham sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Adrian berpandangan bahwa sektor properti pada semester II secara umum berpotensi membaik secara moderat dengan catatan kondisi geopolitik global dan makroekonomi mulai membaik sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Secara khusus, prospek PANI di semester II diperkirakan masih akan berlanjut positif secara tahunan. Namun, pertumbuhannya secara kuartalan akan menjadi lebih moderat sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sentimen positif dari PANI berupa ramp up utilisasi dari NICE serta perpanjangan insentif PPN DTP sampai tahun 2027 sebagaimana dilansir dari berita sumber.

"Namun perlu diperhatikan juga kondisi makroekonomi yang dapat mempengaruhi permintaan pada sektor properti," kata Adrian sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Adrian pun merekomendasikan beli untuk PANI dengan target harga Rp 8.500 per saham sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kevin menilai kinerja sektor properti di semester II cukup menantang disebabkan oleh tingkat suku bunga yang tinggi dan permintaan properti yang masih cukup lemah sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Meski begitu, permintaan properti di Jabodetabek tergolong masih cukup sehat, terutama di flagship township seperti Summarecon Serpong dan BSD City sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kinerja PWON dinilai akan menjadi jawara pada tahun 2026 dikarenakan proporsi recurring income yang tinggi. Hal itu karena aset recurring income cenderung lebih resilien dibandingkan penjualan properti dalam kondisi saat ini sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kevin pun merekomendasikan beli untuk BSDE, CTRA, PWON, dan SMRA dengan target harga masing-masing Rp 1.050 per saham, Rp 850 per saham, Rp 430 per saham, dan Rp 470 per saham sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Tags

Terkini