Mayora Disebut Jadi Safe Haven Sektor Konsumer Saat Rupiah Lemah

Selasa, 04 Agustus 2026 | 20:39:14 WIB
Ilusrasi saham myor (FOTO: NET)

JAKARTA – PT Mayora Indah Tbk (MYOR) dinilai sebagai salah satu emiten konsumer yang paling diuntungkan ketika nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah. Analis Maybank Sekuritas Indonesia Willy Goutama mempertahankan rekomendasi buy untuk saham MYOR dengan target harga Rp 2.500 per saham.

Melalui riset 31 Juli 2026, Willy menyebut Mayora merupakan "consumer's safe haven" lantaran memiliki eksposur bisnis global yang luas. Struktur pendapatan perseroan yang lebih banyak terikat dolar AS dibanding biaya operasionalnya menjadikan MYOR satu-satunya emiten sektor konsumer Indonesia yang berpotensi mendapat berkah dari depresiasi rupiah.

"Di tengah kembali terdepresiasinya rupiah terhadap dolar AS, bisnis global MYOR yang besar, dengan pendapatan yang lebih banyak terkait dolar AS dibandingkan biayanya, menempatkan perusahaan sebagai satu-satunya penerima manfaat di sektor konsumer Indonesia," tulis Willy dalam riset sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Target harga MYOR di Rp 2.500 per saham tetap dipertahankan berdasarkan valuasi price-to-earnings ratio (PER) 17,9 kali proyeksi laba 2026 yang sejalan dengan rata-rata historis tiga tahun terakhir. Proyeksi laba perseroan periode 2026-2028 tidak berubah karena perolehan semester pertama dianggap sesuai ekspektasi.

Menurut kalkulasi Willy, Mayora berpotensi mengantongi pendapatan Rp 41,65 triliun dan laba bersih Rp 3,13 triliun hingga akhir 2026. Sementara pada 2027, pendapatan serta laba bersih MYOR diperkirakan masing-masing menembus Rp 45,85 triliun dan Rp 3,72 triliun.

Laba inti Mayora pada semester I 2026 mencapai Rp 1,5 triliun atau naik 38% secara tahunan setelah mengecualikan keuntungan selisih kurs Rp 309 miliar. Perolehan tersebut berada di jalur yang tepat karena setara 49% dari proyeksi Maybank dan 45% estimasi konsensus untuk laba setahun penuh 2026.

Meskipun penjualan semester I 2026 cuma tumbuh 1% secara year on year (yoy) menjadi Rp 17,9 triliun, perbaikan margin laba kotor dinilai Maybank Sekuritas sebagai pendorong utama. Gross margin melesat hingga 25,7% atau naik 450 basis poin dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Kemampuan Mayora mengerek margin di tengah kenaikan harga komoditas bahan baku menjadi indikasi positif efektivitas strategi operasional perusahaan menurut Willy.

Kinerja kuartal II 2026 turut mencatatkan perbaikan dengan laba inti sebesar Rp 603 miliar atau naik 24% yoy, terdorong oleh pulihnya pertumbuhan penjualan menjadi 7% yoy. Di sisi lain, margin kotor tetap tumbuh 450 basis poin sementara beban keuangan mengalami penurunan 41% yoy.

Maybank juga menggarisbawahi neraca keuangan Mayora yang kini berbalik menjadi posisi kas bersih (net cash) pada kuartal II 2026 sehingga memperkuat fleksibilitas keuangan perseroan.

Proyeksi pertumbuhan laba per saham (EPS) MYOR tetap dipertahankan Maybank dengan compound annual growth rate (CAGR) 15,4% untuk rentang 2025-2028. Perusahaan ini juga diproyeksikan sanggup membagikan dividend yield di kisaran 3,3%-4,4%.

Perlambatan pertumbuhan penjualan dipandang hanya berlangsung sementara. Willy menyatakan Mayora sengaja menahan pengiriman produk (sell-in) ke distributor luar negeri untuk menekan tingkat persediaan mereka.

Langkah ini diyakini bakal menciptakan perputaran stok yang lebih sehat sehingga pertumbuhan penjualan paruh kedua 2026 diperkirakan membaik sesuai harapan Maybank.

Kendati demikian, Willy memberikan catatan bahwa risiko utama bagi prospek MYOR adalah jika pertumbuhan penjualan berjalan lebih lambat dari estimasi.

Tags

Terkini