Saham BACH Dihantam Aksi Jual Anjlok 14,78 Persen ke Rp 865 Mentok ARB

Selasa, 04 Agustus 2026 | 19:36:26 WIB
Ilusrasi saham bach (FOTO: NET)

JAKARTA – Saham PT Bach Multi Global Tbk (BACH), yang merupakan emiten dari Grup Djarum, secara mendadak terkena aksi jual. Pada sesi I perdagangan Selasa (4/8/2026), harga saham BACH merosot 14,78% ke level Rp 865 hingga menyentuh batas auto reject bawah (ARB).

Sebanyak 153,54 juta saham BACH telah diperdagangkan dengan frekuensi sebanyak 18.159 kali serta nilai transaksi mencapai Rp 151,31 miliar.

Antrean penawaran jual saham BACH makin menumpuk. Menjelang jeda siang, tercatat ada 729.286 lot saham yang mengantre dijual pada harga batas bawah Rp 865.

Pergerakan saham BACH mendadak tertekan setelah sebelumnya konsisten berada di zona hijau sejak perdagangan 27 Juli 2026 hingga 3 Agustus 2026.

Saham BACH perdana melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 8 Juli 2026 lewat aksi IPO pada harga Rp 442 per saham. Saham ini sempat meroket 129% dari harga IPO hingga penutupan kemarin, sebelum akhirnya tertekan pada sesi I hari ini.

Sebelumnya, laju kenaikan harga saham PT Bach Multi Global Tbk (BACH) milik Grup Djarum tersebut belakangan ini memang menyita perhatian para pelaku pasar.

Seiring tingginya antusiasme investor, prospek bisnis sektor infrastruktur telekomunikasi dinilai tetap menjanjikan didorong oleh percepatan transformasi digital, ekspansi jaringan 5G, serta lonjakan permintaan layanan artificial intelligence (AI) dan cloud computing.

Pengamat dari CORE Indonesia, Dipo Satria Ramli, menilai peluang pertumbuhan industri infrastruktur telekomunikasi masih terbuka lebar dalam rentang 3-5 tahun mendatang. Ia berpendapat bahwa kebutuhan pembangunan menara telekomunikasi maupun jaringan serat optik tetap tinggi akibat peningkatan kebutuhan dari pelanggan individu maupun korporasi.

"Masih besar 3-5 tahun ke depan, kebutuhan untuk tower dan fiber optic masih tinggi karena kebutuhan customer dan corporate yang terus meningkat," ujar Dipo sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Dipo memaparkan bahwa peralihan jaringan dari 4G ke 5G memerlukan kerapatan menara yang lebih tinggi melalui pembangunan microcells. Di samping itu, kondisi geografis Indonesia yang berbentuk kepulauan menjadi tantangan sekaligus peluang bagi industri ini.

Ia juga menyampaikan bahwa penyediaan infrastruktur dasar seperti pasokan listrik, menara telekomunikasi, serat optik, hingga kabel laut masih menjadi prioritas, dengan lonjakan pemanfaatan internet, AI, dan cloud computing sebagai pendorong utamanya.

Menurut Dipo, industri pendukung telekomunikasi memegang peranan yang sangat vital. "Sangat strategis karena mereka adalah penentu keandalan dan keberlanjutan infrastruktur telekomunikasi dan ekonomi digital," sebutnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ia menilai belum stabilnya aliran listrik serta belum terintegrasinya jaringan serat optik di sejumlah wilayah menjadikan peran perusahaan pendukung amat krusial di Indonesia.

"Tanpa reliability dari internet dan telekomunikasi, ekonomi digital tidak bisa terbangun," tegas Dipo sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Pada kesempatan terpisah, Ketua Pusat Kajian Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi Institut Teknologi Bandung (ITB), Ian Yosef M. Edward, mengemukakan bahwa kepastian daya dan keandalannya merupakan prioritas utama dalam pembangunan Base Transceiver Station (BTS).

"Pemilihan pemasangan BTS yang pertama dilihat ketersediaan sistem daya dan keandalannya. Jadi merupakan prioritas utama dalam pembangunan infrastruktur BTS," ungkap Ian sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ian menerangkan bahwa skema redundansi atau cadangan dapat memanfaatkan satu sumber listrik PLN beserta satu genset cadangan, atau perpaduan PLN, baterai, dan genset demi menjamin keandalan pasokan listrik.

Sementara itu, Pengamat Pasar Modal Menteng Kleb, Fauzan Luthsa, memberikan gambaran mengenai tingginya perhatian investor terhadap emiten penunjang telekomunikasi. Menurut Fauzan, perhatian pasar pada BACH juga terdorong oleh masuknya Grup Djarum melalui PT Global Teknologi Perkasa (GTP) sebagai pemegang saham pengendali.

"Masuknya Grup Djarum memang menjadi katalis yang meningkatkan perhatian investor terhadap BACH. Namun, saya melihat pasar juga mulai memahami model bisnis perseroan secara lebih utuh," tutur Fauzan sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ia menyebutkan bahwa selama ini publik kerap mengenal BACH sebatas penyedia genset, padahal prospektus mencatat perusahaan mengelola sekitar 41.000 site telekomunikasi. "Menurut saya, pemahaman inilah yang mulai berkembang di pasar," terangnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

"Pada akhirnya pasar tetap akan melihat kinerja perusahaan. Namun, perubahan cara pandang terhadap model bisnis BACH menjadi salah satu faktor yang ikut mendorong meningkatnya perhatian investor," pungkas Fauzan sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Tags

Terkini

10 Ikan Hias Air Tawar Mudah Dipelihara

Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:38:20 WIB

Pentingnya Memilih Pakan Ikan Berkualitas

Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:23:01 WIB