JAKARTA – PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) mencatatkan raihan kinerja keuangan yang sangat kuat sepanjang Semester I-2026. Pertumbuhan pendapatan dan laba perusahaan terutama didorong oleh melambungnya harga amonia di pasar global, kendati volume produksi sempat tertahan karena adanya perawatan terjadwal (turnaround maintenance).
Menurut riset dari Kiwoom Sekuritas Indonesia, pendapatan ESSA mengalami kenaikan 36% secara tahunan (YoY) hingga menyentuh US$186,5 juta. Pada saat yang sama, laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) tumbuh 48% YoY menjadi US$73 juta, lalu laba bersih yang diatribusikan kepada pemegang saham melonjak 103% YoY hingga capai US$30,2 juta.
Senior Equity Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas, menilai pencapaian tersebut menunjukkan landasan bisnis ESSA yang sangat kokoh di tengah dinamika pasar komoditas dunia.
“ESSA berhasil membukukan pertumbuhan kinerja yang solid meskipun produksi sempat tertekan akibat turnaround maintenance. Kenaikan harga amonia mampu mengompensasi penurunan volume produksi,” tulis Sukarno Alatas dalam risetnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Melihat profitabilitasnya, margin laba kotor ESSA merangkak naik menjadi 35% jika dibandingkan dengan 28% pada periode yang sama di tahun lalu. Margin EBITDA juga terangkat menjadi 39% dari posisi sebelumnya 36%, dipicu kenaikan harga jual serta efisiensi operasional.
Sektor amonia tetap menjadi pilar utama pendapatan perseroan dengan kontribusi mencapai 89% dari total seluruh pendapatan. Meskipun volume produksi amonia terkoreksi 8% YoY menjadi 321 ribu metrik ton akibat perawatan fasilitas, harga jual rata-rata melesat 70% YoY menjadi US$531 per metrik ton.
Lonjakan harga tersebut mampu mengerek pendapatan dari lini amonia sebesar 43% YoY menjadi US$166 juta, sehingga meredam efek penurunan produksi selama masa pemeliharaan pabrik.
Mengenai operasional, ESSA pun sukses merampungkan turnaround maintenance lebih cepat daripada perkiraan awal. Kegiatan pemeliharaan berhasil diselesaikan dalam durasi 34 hari, lebih singkat dari target semula yaitu 35 sampai 38 hari.
Keberhasilan penyelesaian pemeliharaan yang lebih awal ini diharapkan sanggup memperkuat keandalan operasional fasilitas pabrik sekaligus meminimalkan potensi gangguan produksi di masa mendatang.
Saat memasuki Kuartal II-2026, kondisi pasar komoditas tetap memberikan sentimen positif bagi pencapaian perseroan. Harga realisasi amonia ESSA menguat 42% secara kuartalan (QoQ) ke level US$646 per metrik ton, sementara harga *liquefied petroleum gas* (LPG) turut merangkak naik 43% QoQ menjadi US$770 per metrik ton.
Kenaikan harga-harga tersebut dipicu oleh terbatasnya suplai di tingkat global serta meluasnya ketegangan geopolitik, seperti di area Selat Hormuz, yang ikut menopang harga pupuk dan energi dunia.
Memasuki aspek keuangan, neraca keuangan ESSA juga terlihat semakin solid. Jumlah kas dan setara kas melonjak 50% sejak awal tahun (YTD) menjadi US$189 juta.
Perseroan turut menjaga posisi kas bersih lewat perbaikan net debt dari minus US$126 juta menjadi minus US$189 juta. Selain itu, arus kas dari aktivitas operasional melesat hampir dua kali lipat menjadi US$87,6 juta karena terdorong peningkatan profitabilitas dan kinerja operasional.
Untuk prospek ke depan, Kiwoom Sekuritas Indonesia menganggap langkah ESSA masih sangat positif. Rampungnya turnaround maintenance memberikan kesempatan bagi perseroan untuk memaksimalkan tingkat utilisasi produksi pada Semester II-2026.
Di samping itu, harga amonia dan LPG yang bertahan tinggi dengan sokongan situasi pasar global diperkirakan menjadi pendorong ekstra bagi pertumbuhan kinerja perusahaan hingga akhir tahun nanti.
“Dengan posisi kas yang kuat dan arus kas operasional yang solid, ESSA berada dalam posisi yang baik untuk menangkap peluang dari kondisi pasar komoditas yang masih mendukung,” pungkas Sukarno Alatas sebagaimana dilansir dari berita sumber.