FTSE Berpotensi Cabut Pembekuan Pasar Saham Indonesia Lebih Cepat

Kamis, 30 Juli 2026 | 20:09:16 WIB
Ilustrasi Pasar Saham (FOTO: NET)

JAKARTA – FTSE Russell diprediksi akan memperbarui status pembekuan (freeze) pasar saham Indonesia pada tinjauan Agustus 2026 dengan ekspektasi pencabutan (unfreeze). Apabila terealisasi, langkah unfreeze ini terjadi lebih cepat dari perkiraan awal pada September.

Sikap FTSE yang cenderung melunak ini diharapkan dapat memicu keputusan serupa dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada November mendatang. Peluang unfreeze tersebut cukup tergambar dalam dokumen resmi bertajuk “Index Treatment for The June 2026 Index Review” yang dirilis FTSE pada (13/5/2026) waktu setempat.

Melalui dokumen itu, penyedia indeks global ini mengisyaratkan bakal mengkaji lebih lanjut perlakuan terhadap pasar saham Indonesia sebelum tinjauan indeks September. Namun, FTSE akan menggelar pratinjau (preview) rebalancing terlebih dahulu pada 21 Agustus 2026 yang hasilnya berlaku efektif per 18 September 2026.

Riset CGS Sekuritas Indonesia telah mencatat jajaran saham yang terancam dicoret FTSE, seperti PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP), PT Jasa Marga Tbk (JSMR), PT Avia Avian Tbk (AVIA), dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR). Masalahnya, penghapusan saham-saham itu dari indeks hanya bisa dilakukan apabila FTSE telah resmi mencabut pembekuan atas penghapusan.

Artinya, tanpa langkah unfreeze penghapusan, CGS Sekuritas berpandangan eksklusi atas saham-saham Indonesia tidak dapat dieksekusi oleh FTSE. Oleh karena itu, broker ini memproyeksikan FTSE bakal memberikan pembaruan status pembekuan pasar saham Indonesia secara lebih cepat.

"Kami memperkirakan, FTSE mungkin akan memberikan pembaruan terkait status pembekuan Indonesia sekitar 10-14 Agustus 2026 bukan di September seperti perkiraan kami sebelumnya. Pembaruan ini akan dipantau secara ketat sebagai indikasi awal potensi atas keputusan MSCI pada akhir Oktober,” terang CGS Sekuritas dalam risetnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di sisi lain, berbeda dari FTSE yang berpeluang mencabut pembekuan lebih cepat, MSCI belum menunjukkan indikasi akan mencabut status pembekuan pasar saham Indonesia lebih awal. Jika skenario berubah, CGS Sekuritas menyebutkan beberapa saham yang rawan keluar dari indeks MSCI pada pratinjau Agustus 2026 adalah PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS).

Apabila penghapusan saham ini benar-benar terjadi, MSCI akan mengumumkan rebalancing tersebut pada 13 Agustus 2026 dan memberlakukannya secara efektif per 1 September 2026. Wilbert Arifin, analis PT Mirae Asset Sekuritas mengalkulasi bahwa penghapusan CPIN dari indeks MSCI bakal memicu outflow pasif sebesar Rp500 miliar, atau setara sekitar 150 juta saham (3 persen) dari total kepemilikan asingnya.

Sementara itu, keluarnya GOTO akan menambah arus keluar sebesar Rp1 triliun, atau sekitar 20 miliar saham (2 persen) dari kepemilikan asingnya. “Berdasarkan perhitungan kami, kapitalisasi pasar indeks MSCI Indonesia akan turun 1,9 persen hanya dari CPIN saja, dan 6 persen jika ditambah GOTO yang berarti penurunan bobot negara (country weight) masing-masing sebesar 0,01ppt dan 0,03ppt, dengan asumsi faktor lain tetap sama,” ungkap Wilbert dalam risetnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kepala Riset KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai perbedaan sikap antara FTSE dan MSCI dipengaruhi oleh metodologi yang diusung masing-masing pihak. Kerangka metodologi FTSE lebih mengarah pada pendekatan granular dan rutin ditinjau, sedangkan MSCI lebih bersifat binary (annual Classification Review).

Selain itu, secara historis FTSE juga terbilang lebih responsif terhadap reformasi konkret yang telah diimplementasikan. Sebaliknya, MSCI memilih menunggu bukti konsistensi dari pelaksanaan reformasi tersebut.

“Jika reformasi saham dengan kepemilikan terkonsentrasi tinggi (HSC), disclosure, dan free float sudah bisa diverifikasi, FTSE memang berpotensi melakukan unfreeze lebih cepat ketimbang MSCI,” ucap Wafi sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ia menambahkan bahwa sikap FTSE yang melunak ini menjadi katalis positif, meski harus disikapi secara proporsional. Pasalnya, dana kelolaan FTSE yang melacak Indonesia lebih kecil dibandingkan MSCI, sehingga direct inflow yang masuk cenderung terbatas.

Dampaknya lebih kuat pada sentimen dan sinyal yang dapat memengaruhi keputusan MSCI pada November mendatang. Bahkan, efek pengganda (multiplier effect) dari sentimen ini berpotensi lebih besar daripada sekadar direct passive inflow dari FTSE itu sendiri.

Apalagi jika arah reformasi pasar modal dapat terus dipertahankan dengan baik, masa pembekuan diperkirakan tidak berlangsung lama. Mengingat tiga tahapan utama sudah terlaksana, yaitu HSC yang meluas ke 51 emiten, evaluasi saham HSC dari IDX30/IDX80/LQ45 oleh BEI mulai Agustus, serta implementasi disclosure kepemilikan >1 persen.

“Tapi, ada isu baru berupa pergantian Gubernur BI yang unexpected bisa menambah ketidakpastian. Sebab, MSCI tidak hanya mengevaluasi struktur pasar, tapi juga kredibilitas broader policy environment. Jika Gubernur BI definitif dipersepsikan positif, bisa mengakselerasi unfreeze. Jika sebaliknya, freeze bisa diperpanjang. Jadi, keputusan MSCI pada November tetap menjadi kunci dan retained emerging market adalah base case bukan kepastian,” tegas Wafi sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Terkini